
" LE.. LEPASKAN AKU!!..."
Saat ini, Sylvia sedang di bawa oleh seorang penjaga ke tempat yang akan dijadikan eksekusi Publik melewati lorong-lorong.
"... DENGARKAN!! LEPASKAN AKU!! INI S..SAKIT!..."
" Diam saja kau Elf sialan.."
Penjaga wanita tersebut menarik lengan Sylvia yang terborgol dengan sangat kencang.
Itu akan memberikan bekas permanen di lengannya.
...
Selanjutnya adalah Roxxie dan Ryzen yang saat ini mereka sedang ditahan oleh Tannala.
".. apa yang kau lakukan, Tannala?! Lepaskan aku!.."
".. tidak "
" Kau wanita dengan wajah pucat, apa-apaan ini?! Cambuk bodoh mu melilit kami!.."
".. itu bagus, karena dengan ini sihir kalian akan terkunci.."
Dengan perintah sang Raja, Tannala membawa mereka berdua menuju ke sebuah tempat Altar yang berada di atas istana.
Setibanya mereka di depan Altar.
".. Sebuah Altar?! Apa kau ingin mempersembahkan kami ke Dewa mu itu?!.."
" Sayang sekali, ini bukanlah persembahan, hanya...."
Tannala baru menatap Roxxie.
" Tubuhku.. tubuhku bergerak sendiri! Hey.. hentikan!..."
" Jadilah anak baik dan berdiri lah di atasnya.."
".. sialan! Hey Ryzen! Katakan sesuatu dong!.."
Dengan sifat tenangnya, Ryzen berjalan maju menuju ke atas Altar.
" Kau..."
Ryzen menatap Tannala kemudian berkata.
" Kami sudah di atasnya, selanjutnya apa?..."
Tannala tidak mempermasalahkan hal tersebut.
".. tepat sekali, sisanya tinggal.."
Tannala membacakan sebuah mantra sihir nya.
Itu membentuk lingkaran kecil di depan telapak tangannya.
Kemudian Tannala memasukkan jari telunjuknya ke dalam sebuah lubang yang terdapat di lingkaran sihir tersebut.
Setelahnya ia menggerakkan jarinya ke sisi kanan, ini mirip seperti kalian membuka kunci rumah.
" Selesai..."
Tiba-tiba dari bawah pijakan Roxxie dan Ryzen, terdapat suatu cahaya emas yang menyinarinya.
" C..cahaya apa ini!? .."
" Entahlah, ini baru pertamakali aku melihat itu.."
Dari kebingungan mereka, Tannala membalikkan badannya, ia berkata.
".. setelah itu kalian akan terkunci di dalam penjara atas langit atau yang disebut Aakash, disana tidak ada makanan ataupun sesuatu yang bisa menambah stamina kalian, ruangan sangkar burung penuh putus asa itu sedikit demi sedikit akan memakan mental kalian, hanya sampai sini aku berjalan, selamat tinggal...."
..
Kilatan cahaya emas menyambar ke atas langit, Roxxie dan Ryzen pun langsung ber teleportasi dan kini mereka tiba di dalam Aakash.
".. a.. apa ini? Kecil sekali ! Hanya satu Jendela yang memutari ruangan ini, aku bisa melihat permukaan dari sini, namun tidak terlalu jelas..."
Sebelum mereka pergi, Ryzen sempat melihat Tannala menggumamkan sesuatu.
".. Tannala, sepertinya kau sedang merencanakan sesuatu.."
Gumam Ryzen.
...
Situasi saat ini, Sylvia sedang dibawa menuju ke tempat eksekusi Publik nya, sedangkan bagi Roxxie dan Ryzen mereka berdua telah di tahan di penjara atas langit atau Aakash.
..
Sementara Shoji saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke dalam istana kerajaan.
Pada akhir perjalanannya, Shoji melihat seorang anak kecil Beastman ras rubah sedang berjalan dengan pakaian lusuh.
Anak kecil perempuan itu sedang berjalan dengan membawa sepotong Roti sisa di tangan kecilnya.
Shoji memperhatikan itu.
Ketika anak itu melewati Shoji dan Ribery, hal yang tidak mengenakkan terjadi kepadanya.
".. bocah, apa yang kau bawa itu?.."
Ribery baru saja menghentikan langkah mungilnya.
Dengan suara yang gugup bercampur rasa takut, si kecil itu menjawab.
".. i..ini, mm... Mama.."
Saking takutnya dirinya sampai tidak dapat berbicara dengan jelas.
".. katakan dengan jelas!.."
{{ffiiuh}}
Ribery membentak dirinya dengan cukup keras.
Shoji tidak suka dengan kelakuan kasar Ribery terhadap anak kecil.
".. apa yang salah darinya!? Berhentilah, kau menyakiti anak kecil itu!..."
Ribery tidak mendengarkan Shoji.
Kemudian anak kecil tersebut melanjutkan perkataannya..
" I..ini untuk mama, mm..ma..mama sedang sakit, r..roti ini aku ambil dari depan istana...y..yan...yang m.. mulia..."
".. hmm.."
Tepat setelahnya, ada seorang prajurit kerajaan yang berlari mengejar ke arah Anak kecil tersebut.
".. itu! Bocah itu disana!..."
Anak kecil Beastman ras rubah tersebut sedang dalam pengejaran seseorang.
".. mamah..a..aku takut!..."
Walaupun mencoba berlari, tetapi ia terjatuh dalam beberapa langkah saja.
Saking takutnya ia sampai tidak bisa berlari kembali.
Pada akhirnya anak kecil itu tertangkap.
".. kau pencuri! .."
Salah satu prajurit mengangkat satu tangan kecilnya ke atas.
".. tidak! Tidak tidak! Aku tidak mencuri! Ini..."
".. jelaskan itu didepan yang mulia, bocah! ..."
".. tapi... Aku tidak mencuri... "
Anak kecil itu meneteskan air mata dan ia dibawa pergi dengan posisi tangannya yang sedang di tenteng ke atas, seperti membawa ayam yang sudah mati.
Di perjalanannya, Shoji melihat anak itu masih saja mendapatkan sentilan dari mereka.
Prajurit-prajurit itu mempermainkan ras Beastman!
Shoji terdiam.
Bukan maksud masa bodo, ia diam hanya untuk memendam kemarahannya.
Jika pada detik ini Shoji tidak menahannya, Kerajaan Durui hanya akan menyisakan puing peradaban.
"... Ayo lanjutkan, kau harus bertemu dengan Raja.."
Ketika ingin melanjutkan perjalanan, Ribery tertahan.
".. ada apa?.."
Shoji berkata..
".. tidak peduli lagi... Aku tidak peduli!!!!.."
Shoji berteriak kencang! Menyebabkan aura shock gelombang udara di langit-langit!
Angin kencang berhembus menyapu tenda-tenda toko sekitar!
Para Beastman terlihat ketakutan, mereka bersembunyi di balik bangunan bebatuan.
Mereka cukup banyak.
Prajurit-prajurit yang membawa anak kecil tersebut yang masih didalam jarak pandang Shoji juga ikut terpental!
".. m..mamah...."
Ia tidak dapat bergerak karena saking takutnya.
Ribery menjauh dari Shoji, ia melepaskan tahanan Shoji..
".. Kiukhhh!!!.."
Ribery juga menerima luka beset di pipinya!
".. selama perjalanan ini semuanya telah aneh! Perbudakan? Peperangan? Sebegitu inginkah kalian dengan kehancuran?! Mereka yang hanya mengambil sepotong Roti untuk memberikannya kepada orang tuanya yang sedang sakit, dan kalian masih saja mengganggu nya... Perbudakan ini...... "
Merasa perkataannya tadi merujuk pada dirinya, anak kecil Beastman ras rubah tersebut merasa tersentuh.
Matanya berkaca-kaca, ia menarik lendir yang keluar dari lubang hidung kecilnya..
"..Hikkss... ...."
Dalam ketegangan itu, ada salah satu bangsawan yang menyuruh Ribery untuk memberantas Shoji.
".. kau si penasehat!! Apa yang kau lakukan disana!? Bunuh dia! Dia membuat budak ku kabur!..."
Ribery mengetahuinya, dia bangkit dan berkata sambil menunjuk Shoji.
".. kau telah membuat kegaduhan di kerajaan Durui, hukum mati mu adalah saat ini!..."
".. Cobalah..."
Angin sepoi-sepoi berhembus dengan dingin, tidak ada orang luar yang ikut campur didalamnya, hanya terdapat Shoji sang tokoh utama bersama Ribery sang tokoh pembantu sedang dalam ketegangan.
Mereka berdiri berlawanan.
Banyak juga sorakan yang menekan paksa Ribery untuk segera cepat memberantas Shoji.
Ada yang aneh dengan Ribery.
".. Shoji, orang itu sepertinya was-was akan sesuatu..."
" Mungkin, lagipula dia menghampiri dan menangkap ku dengan sihir Teleportasi, tetapi kenapa ketika aku ingin dibawa ke keadilan kerajaan, dia justru hanya berjalan.. itu seakan dia ingin aku untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya kerajaan Durui..."
...
Tanpa pembicaraan basa-basi, Ribery segera merapal mantra sihir!
Dari yang dia ucapkan, itu adalah sihir elemen tanah.
Ia menempatkan telapak tangannya ke permukaan kemudian dari bawah tanah keluar banyak tombak tanah yang menusuk-nusuk.
Shoji mampu menghindarinya.
Lalu, Ribery juga merapal sebuah sihir elemen angin.
".. jiwa ku sebagai angin, akan bertiup menjadi badai, inilah persembahan!... Winddrash!.."
".. apa? Dia menghilang!..."
Ribery telah menghilang dari hadapannya.
Beberapa saat setelah itu Shoji terkena pukulan yang entah datang dari mana.
Berulang kali pukulan mentah di tubuhnya itu ia terima.
Pipi, Dagu, Dada, Perut, Kepala.
Shoji telah menerima semuanya.
Pukulan itu cukup mengejutkannya, hanya saja itu percuma.
Pada saat ini bisa dipastikan Shoji jauh lebih unggul, oleh karena itu.
".. ukhhh!! Aku jatuh, aku babak belur, tolong!..."
Dia berlagak seperti orang lemah, ini adalah bagaimana Shoji menikmati pertarungannya.
Kemudian, datanglah Ribery..
Ia muncul di hadapan Shoji yang kini sedang terpuruk di tanah.
".. Naga Agung.. ternyata bukan orang ini yang dimaksud...."
Ternyata Ribery ingin mengetahui siapa yang memukul mundur Sang Naga Agung Avidite.
Ribery mengangkat kerah jubah Shoji, kemudian Ribery memberikan beberapa pukulan di wajahnya.
Para Bangsawan yang melihat itu cukup terhibur, yang lebih parahnya lagi mereka melempari Ribery dengan koin emas!
".. haha! Lanjutkan! .."
".. selanjutnya ku ingin pukulan di perut dia!..."
" Coba kau patahkan tulangnya! ..."
.....
...
Suara itu bergema di sekitar Ribery.
Di tengah-tengah pemukulan terhadap Shoji, sang bocah Beastman ras rubah.
Anak kecil yang berlari dengan kaki imutnya.
Dia berlari menuju Shoji!
".. K..KAKAK!! Lepaskan dia!! Kakak tidak bersalah!!..."
Dia mengucapkannya sambil berlari menuju Shoji.
Wajah Shoji kini babak belur tidak karuan.
Hingga sampai pada titik dia pingsan ( hanya pura-pura )
Bocah Beastman rubah itu masih berlari, kini ia menerobos kerumunan bangsawan yang berkerumun.
".. Hei! Apa-apaan kau ini!!.."
".. budak bodoh, apa yang kau-!"
" ?!! Hei!.."
..
Pada akhirnya Beastman tersebut tiba dan langsung memeluk tubuh Ribery berharap agar dia berhenti memukuli Shoji.
"...?! Bocah! Lepaskan!! ..."
". Tidakkk! Jangan pukuli kakak! Dia orang yang baik!..."
". Lepaskan aku bocah bau!.."
Ribery menendang Beastman tersebut dengan cukup keras hingga jatuh tersungkur ke tanah.
Para bangsawan juga kembali melemparkan keping kepingan koin emas.
"... Singkirkan bocah menganggu itu!.."
".. kuliti dia! Lalu jual padaku!!.."
".. bunuh dia! Cepat, bu-!kkhhsff!!..."
Perkataannya terhenti, bertepatan dengan hilangnya satu kepala.
Saat ini, didepan bangsawan lainnya, mereka sedang melihat sebuah air mancur mengalir dari dalam tubuh seorang bangsawan.
Darah itu bercucuran.
Kepala hina nya terjatuh.
Seketika seluruh bangsawan yang sedang berkumpul merasakan takut dan takut.
Ketakutan yang mencapai puncaknya hingga melumpuhkan kaki.
Hal ini adalah apa yang sering para budak rasakan.
Bangsawan hina itu tidak dapat bergeming dari tempatnya.
Mereka hanya dapat duduk terjatuh.
Ribery tidak dapat mengatakan apapun! Dia hanya terdiam, terdiam mengetahui bahwa Shoji telah terlepas dari genggamannya!!
Saat ini, Shoji terbang di atas langit sambil menggendong bocah Beastman ras rubah tersebut.
Ribery merasa takut.
Ini adalah dua kali di dalam hidupnya ia mengalami rasa takut yang sempurna.
Pertama adalah Dabehon sang pemimpin Sanzein, kedua adalah Shoji.
Ribery melihat ke atas dan itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat!
".. M.. maafkan aku, aku mohon... T.. tolong aku.. b.. berjanji! Aku berjanji.... Maaf..."
Detak jantungnya berdetak lebih cepat.
Ribery dengan hebat merasa ketakutan yang ganas hingga pingsan!
Apa yang sebenarnya ia lihat adalah sebuah kiamat berjalan.
Sang Naga Agung Avidite telah muncul dan berterbangan di atas Shoji!