
Tanpa disangka, dari bawah tanah tepat di samping Abaddon berdiri, muncullah Qeryz yang diketahui telah mati ketika melalui ujian Taros sebelumnya, Qeryz dibangkitkan kembali oleh Abaddon!
Seketika hal itu membuat mereka para jenderal terkejut, terutama Olixier.
"Qeryz?!"
...
"Are–? Aku?... Kenapa aku masih?..."
Bahkan dirinya sendiri tidak mengetahui kenapa dia dapat hidup kembali dari kematian.
Taros juga dipenuhi kebingungan mengenai.
"Jika Qeryz dihidupkan kembali, lalu saat itu kenapa dirinya terlihat kembali terurai menjadi gumpalan sihir?.."
Abaddon menenangkan situasi sekitar dengan tatapan intimidasi kepada keseluruhan pasukannya.
"Baik, Taros.. aku akan berbicara padamu nanti, untuk sekarang.. Qeryz.."
Mata Abaddon menuju ke Qeryz yang berdiri disampingnya.
"I–iya tuan! Aku mengerti, berikan aku kepercayaan mu kembali dan akan ku selesaikan semua tugas bahkan dengan nyawaku sendiri.."
"Bagus..."
Abaddon membangkitkan Qeryz, karena Qeryz adalah seorang Demi-Human sama seperti mereka, Qeryz adalah contoh perkembangan kekuatan yang dimiliki dari setiap Demi-Human jika mendapatkan pelatihan yang cukup, Abaddon yakin para Demi-Human akan setara bahkan ada beberapa yang berpotensi jauh lebih kuat dari Qeryz.
Ketika urusannya yang saat ini telah selesai, Abaddon membubarkan seluruh pasukannya dan memerintahkan mereka semua untuk kembali ke istana, kecuali Qeryz.
Mereka para jenderal dan seluruh pasukan iblis yang berada disana telah pergi kembali ke istana.
Saat ini, Abaddon memanggil Shoji dengan suara kecil seakan Shoji sudah berada disana sejak awal.
"Shoji.. aku tahu"
"Ahaha... Begitulah..."
Memudar dan terlihatlah Shoji yang menggunakan sihir kamuflase sempurna.
Shoji berjalan menuju ke arah Abaddon dan dia menagih kembali janji yang telah ditetapkan.
"Jadi, bagaimana dengan itu?".
..
"Tentu, Qeryz, berkeliling lah disekitar hutan.."
"B—Baik!!"
Dengan sigap, Qeryz berlari mengitari Hutan, dirinya percaya bahwa Abaddon sedang dalam pembicaraan yang tidak seharusnya satu orangpun mengetahuinya.
"Baiklah, aku atau kau yang akan membuat penghalang?"
Disini, Abaddon tidak segera membuat penghalang, dirinya justru bertanya kepada Shoji siapa yang akan membuat Barrier nya.
"Eh? Apa aku tidak masalah?? Baiklah.."
Dengan meninggikan tangannya ke atas langit. Akhirnya, Shoji telah membuat Barrier penghalang yang mengisolasi mereka dari dunia luar bahkan bisa dikatakan itu dimensi yang berbeda, dengan ini mereka dapat berbicara tanpa harus didengar para Dewa.
Didalam Dimensi yang terisolasi dari dunia luar, hanya terdapat dua sosok penting yang biasanya terdapat didalam cerita fiksi fantasi, mereka adalah Sang Tokoh Utama dan Raja Iblis!
Menciptakan sebuah kursi sederhana dengan sihirnya, Shoji mempersilahkan Abaddon untuk duduk.
"Apa manusia harus seperhatian ini dengan aku yang Raja Iblis?"
Shoji menjawabnya dengan santai.
"Lalu, mengapa kau yang seorang Raja Iblis ingin melindungi sesuatu dan mau berbicara dengan ku?"
Abaddon tersenyum tipis, lalu dia pun segera duduk.
Posisi mereka berdua saling berhadapan, menciptakan aura tegang dan mencekam!
Tanpa mereka sadari, Aura sihir mereka berdua bocor hingga keluar perisai, namun itu hanya sebagian kecil, bagai uap air yang mendidih.
"Jalan pintas... Baiklah, pertama-tama aku ingin memastikan satu hal.."
"Apa itu?"
"Apakah kau benar berasal dari Dunia Lain? Seorang Manusia yang dipanggil 'Olehnya kesini?"
Dengan tatapan serius, Shoji menjawabnya.
"Benar, aku adalah Nakamura Shoji!"
Abaddon sekali lagi tersenyum tipis, itu membuat Shoji berkata-kata dan bertanya-tanya apa yang membuatnya tersenyum.
"Kau dari tadi kenapa senyum? Itu menakutkan.."
"Tidak, aku merasa kenapa kau begitu jujur? Kau tahu, manusia biasanya suka melebih-lebihkan cerita dan mengagungkan dirinya sendiri.."
"Haah?? Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi yang jelas Aku berada disini bukan untuk membahas itu!!"
Shoji menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras, beruntung itu telah terisolasi dari dunia luar, nyatanya hentakan barusan cukup untuk meledakan sebuah Gunung besar!
Menciptakan Teh dari sihirnya, Abaddon memberikan teh buatannya kepada Shoji, dan menyuruhnya untuk tenang sejenak.
"Baiklah, ini tidak akan dimulai jika kau tidak menenangkan diri.."
"Terimakasih!"
Shoji meminum Teh itu segara dan langsung ia habiskan.
"Jadi!"
Abaddon menghela nafasnya sejenak seakan berkata. "Inilah manusia, kalian memang makhluk yang terburu-buru."
Abaddon berkata.
"Sebelumnya, Aku ingin agar sesuatu yang berada didalam tubuhmu untuk diam sejenak, apa yang akan kukatakan mulai sekarang harus bisa diterima olehnya dan dirimu, karena aku adalah makhluk pertama yang diciptakan oleh Oberster Gott, aku pernah menyaksikan segalanya dari Nol.."
Astaroth terdiam.
Shoji tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa diam dan menyimak informasi yang akan Abaddon katakan.
"Kekuatan yang mereka miliki (Dewa-dewi) itu sangatlah bervariasi dan sangatlah kuat, kau mungkin sudah mengetahuinya atau mungkin belum, bahwa terdapat seorang Dewi yang bernama Nyranius.."
Dengan penuh rasa ingin tahu, Shoji ingin mengetahuinya.
"Mengapa?!"
"Itu karena Aku tidak bisa mengalahkannya..."
Mendengar pernyataan dari sesosok Raja iblis yang mengatakan hal itu, seketika situasi kembali hening.
Shoji bahkan menelan ludahnya.
"Tidak, jangan salah paham.. dia sebenarnya adalah Dewi terlemah dari yang lainnya, kekuatannya itulah yang sangat merepotkan."
"Apa kekuatannya?"
"Si Nomor Empat, Nyranius. Kekuatannya dapat membuat kloningan musuh yang dihadapinya, jika ada salah satu dari mereka para Dewa yang ingin menghadapinya maka mereka akan berhadapan dengan diri mereka sendiri! Bagaimana jika kloningannya tersebut dapat dikalahkan? Maka hasilnya akan tetap sama, kloningan yang telah dikalahkan berarti bukan yang sebenarnya, atau dengan kata lain itu sudah menjadi jiwa yang kosong, seketika Kloningannya dapat terbuat kembali yang memiliki kekuatan sama dengan aslinya, ini juga dapat membantu seseorang menjadi lebih kuat dengan sangat singkat akan tetapi mereka akan menghadapi siklus berulang.."
....
Melihat Shoji yang mengerutkan keningnya, Abaddon iseng untuk membaca isi pikirannya.
"Nakamura Shoji, bocah ini benar-benar berpikir untuk menghadapi Nyranius secepatnya.."
..
"Lalu, masih tersisa sembilan dewa lainnya, katakan padaku!"
Abaddon pun kembali melanjutkan penjelasannya.
"Tidak, seharusnya tersisa delapan lagi.."
"Hah?"
"Kau sudah mengetahui cukup banyak mengenal siapa itu Avenir, jadi.. aku akan melewatinya.."
Shoji bingung.
"Oi! Emang bisa seperti itu? Maksudku.. apakah tidak ada sesuatu fakta tentang Avenir lagi?" desak Shoji dengan nada penasaran.
"Dahulu .. Avenir adalah Dewa yang aku ciptakan sendiri.."
Pernyataannya ini membuat Shoji terdiam seribu bahasa.
"B-Bisakah kau menceritakan bagian itu?"
"Tentu, aku adalah Makhluk yang Oberster Gott ciptakan pertamakali, suatu saat, ketika dirinya tidak memiliki ide ataupun ambisi ingin menciptakan apapun, dirinya memberikan ku sebuah Pena yang namanya seingat ku saat itu Platinum Goldres, Pena itulah yang ku gunakan untuk menciptakan Avenir, Dewa yang identik dengan kecepatan itu sebenarnya adalah setengah dari kekuatan ku, sampai saat ini dan selama-lamanya, Avenir tidak akan mengetahui siapa yang menciptakannya.."
Shoji tidak bisa mengatakan banyak hal selain hanya menatap penasaran ke wajah Abaddon.
"Selanjutnya adalah seorang Dewa bernama Bommby, Didalam peperangan, dirinya tak terkalahkan, dengan mampu mengendalikan milyaran tentara surgawi ditangannya, membuat Bommby mendapatkan nama Dewa Perang, kekuatan utamanya adalah pukulan yang dinamai Puo Mega Verse, sangat konyol namun setidaknya hindari pukulan itu jika jiwa mu tidak ingin hancur, baik kurasa ini mulai banyak dikatakan, aku akan menjelaskan hal lainnya.. Terdapat seorang Dewi kembar yang bernama Tevilla dan Tevilli, mereka masih remaja.. hitungannya seumuran dengan dirimu.."
"Apa maksudnya itu?"
"Tidak ada, mereka berdua adalah Dewi yang mengendalikan para Zodiak dan merekalah yang menciptakan bintang-bintang seperti yang kau lihat di langit saat ini"
Shoji menatap langit malam dan ia melihat banyak sekali bintang yang bersinar.
"Apakah mereka yang menciptakan itu semua??"
"Benar, Tevilla dan Tevilli sebenarnya adalah manifestasi dari Zodiak Pisces, namun karena mereka istimewa, akhirnya mereka sampai pada tahap Kedewaan, terkadang kau bisa melihat bintang-bintang yang hilang lalu tercipta kembali, bagai gelembung yang pecah kemudian muncul karena ditiup kembali..."
"Itu mustahil, bukankah jika Bintang yang meledak itu akan menciptakan ledakan super besar yang disebut Super Nova?"
Setelah menyeruput secangkir teh, Abaddon mengatakan.
"Disinilah kau masuk ke dalam konsep Fantasi, mereka para Dewa-dewi selalu memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan Logika semacam itu.."
"Begitu ya? Lanjutkan!"
"Tevilla, Tevilli, Avenir, Bommby, Nyranius.. itu berarti yang tersisa tinggallah mereka.."
"S—siapa itu?"
Abaddon kemudian melempar cangkir miliknya dan berkata dengan penuh kekesalan.
"Dewi Air dan kesuburan, Sedna, dia adalah Dewi yang paling ingin ku bunuh!"
"Apa ada alasan khusus?"...
"..Dahulu, para manusia di suatu wilayah mengalami kekeringan dan kemarau yang melanda wilayah tempat mereka tinggal.. Cuaca menjadi sangat panas hingga tenggorokan terasa kering, padi yang siap untuk dipanen telah sirna, banyak keluarga yang kelaparan kemudian mati kelaparan, kemarau itu hanya terjadi pada wilayah daerah mereka saja, dari kejauhan tempat itu terlihat sangat gersang, bahkan membuat para petualang enggan untuk menjadikannya tempat penginapan atau bahkan hanya sekedar lewat, lalu munculah Sedna dan dia menjadi penolong mereka..."
Mendengar ceritanya itu, Shoji tambah tidak mengerti mengapa Abaddon membencinya.
"Bukankah itu bagus?"
"Bagus? Benar, namun apa kau tahu siapa yang menciptakan kemarau itu?"
Shoji menelan ludahnya karena penasaran.
"Dia adalah Sedna!! Dirinya sengaja membuat mereka sengsara kemudian datang berlagak seperti seorang penolong, kemudian melimpahkan segala kejahatannya kepada kami ras Iblis! aku bahkan tidak ingin membahas tentang nya lebih lama karena rasanya ingin ku hancurkan saja seluruh dunia.."
Didalam hati Shoji berkata.
"M-mengerikan!!"
"Itu sangat jahat! Mereka benar-benar..."
"Baiklah, selanjutnya adalah, tidak..."
Kenapa tiba-tiba Abaddon mengehentikan bicaranya? Itu karena Shoji secara diam-diam ingin membaca pikirannya.
"Hehehe ... Maaf, lanjutkan.."
Abaddon melanjutkan penjelasannya..
"Aku tidak akan membahas Vide karena itu percuma juga, lagipula dirinya telah kalah.."
Shoji menundukkan kepalanya dan dia kembali menatap langit kemudian berkata.
"Dirinya saat itu sangatlah kuat, aku tidak berpikir aku bisa mengalahkannya.. benar-benar pengalaman yang mengerikan sekaligus.... Menyenangkan!!!"
Tersenyum, Shoji kembali menatap Abaddon dengan tatapan serius.
"Seorang Dewa yang sempat menjadi Sahabatku dahulu...."
("Eehhh??? Sudah mulai?")
"Siapa itu?"