TWO VOID: Timeline Shoji

TWO VOID: Timeline Shoji
AWAL DARI PEDANG SUCI: EXCALLIBUR!



Dalam pelukan ibunya yang hangat, Rara merasakan kelegaan yang mendalam. Air matanya mengalir deras, menyirami pipinya yang lembut. Ia merasa seperti terlepas dari sebuah mimpi buruk yang menghantuinya.


Ibunya mengusap punggung Rara dengan lembut, mencoba menenangkan hati putrinya yang rapuh. "Tenanglah, Rara. Ibu di sini, tidak akan pernah meninggalkanmu."


Setelah beberapa saat, Rara menghentikan tangisnya.


Di lain sisi dengan momen yang mengharukan, di dalam penjara atas langit atau Aakash, Ryzen dan Roxxie dengan kedua tangannya yang sedang diborgol, lebih tepatnya kedua tangan mereka sedang di segel.


Roxxie melihat ke luar, ia hanya melihat kumpulan awan-awan diatas langit petang yang bergerak halus sambil berkata.


" Entah mengapa perlahan pikiran ku terbawa oleh awan-awan "


Ryzen saat ini sedang meditasi, dirinya duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, memejamkan matanya dan membuat formasi mediasi dengan tangannya yang membentuk lingkaran dengan tenang.


Ryzen berusaha menganalisis apa yang bisa mereka lakukan agar dapat lolos dari Aakash.


Setelah cukup lama ini berlanjut, Ryzen tiba-tiba merasa seperti ada yang memanggil namanya.


" Ryzen...... Ry....zen..R-Roxxie.... T..tuan.."


Suara yang pudar dan samar-samar tersebut dikenali oleh Ryzen.


Ryzen membuka matanya dengan cepat dan berteriak.


" SYLVIA!!!..."


tentu, hal ini membuat Roxxie terkejut.


" ?!! Kenapa dengan Sylvia?!.."


Ryzen menjelaskan bahwa dirinya mendengar suara Sylvia memanggil namanya, Roxxie dan Shoji.


".. agak jauh dan samar tetapi aku yakin itu adalah suaranya Sylvia, dia memanggil kita semua, tapi aku khawatir...."


Roxxie menelan ludah **glekkk


berkata " khawatir tentang apa??..."


" Suaranya itu terdengar lemah seperti akan kehilangan kesadaran, aku tidak bisa-- aaaakkhhhh!!!!!!.."


".. woi!!!.."


Ryzen terjatuh dan menggeliat, kepalanya tiba-tiba terasa sangat berat dan sakit, ia memegangi kepalanya yang sakit dengan teriakan hebat!


"...AAKKKHHHHHH!!!!!!...."


" HEI RYZEN! TENANGLAH KAU SIALAN!.."


Roxxie tidak dapat berbuat banyak karena tangan serta sihirnya telah tersegel oleh borgol sihir.


"... S...SAKIT!!!.."


"Tch, sialan! Ini akan sedikit menyakitkan, tahan itu kemudian sadarlah kembali!!..."


Roxxie pun menendang wajah Ryzen dengan keras.


Ryzen terpental dan terbentur keras dibagian belakang tubuhnya, ia pun terjatuh dan pingsan.


".. hufft..huft... apa-apaan dia barusan...? "


 


Didalam istana, di dalam ruangan sang Raja, ketika sang Raja sedang tidak ada didalam ruangannya, terlihat Ribery yang sebelumnya berdiri penuh wibawa kini terlihat sedang ketakutan akan sesuatu.


Sudah lama dia berjalan maju dan mundur, mondar-mandir yang tidak ada tujuan.


Ribery juga dipenuhi oleh keringat dingin, ketenangannya tidak terjaga.


".. A..apa... Sihir itu.... Apa apaan...!!? Siapa dia?..... Biru..... Tidak.. s..salah satu dari Twi Void!!?? apa-apaan itu!.... Kuat dan jahat....."


Hanya Itulah yang ia katakan sedari tadi.


".. Bencana .. ini benar-benar diluar perkiraan! Tenang... Tenanglah.... Tarik nafas ....."


Ribery mencoba menenangkan dirinya.


Setelah dirasa telah tenang, Ribery duduk berkata.


" Didalam sana, pria berambut biru saat itu memiliki kekuatan yang membuat ku gila memikirkannya, tidak berlebihan jika aku berkata itu dapat menghancurkan dunia, sebelumnya status sihirnya tidak dapat terlihat, sekalipun itu, itu hanya data faktual dari keanggotaan petualang yang valid, ini seperti ada sesuatu yang sengaja membiarkan ku mengetahuinya... Tidak, dia sendirilah yang memberitahukan ku! Saat itu, aku berusaha agar terlihat tenang, sungguh.... Waktu itu adalah saat-saat paling mengancam nyawaku didalam hidupku, aku berjalan dan berlagak sok didepannya hingga aku dipaksa oleh para bangsawan biadab itu dan merasakan sendiri kekuatannya .. tidak, saat itu hanya sedikit, benar... Aku yakin itu sedikit dari kekuatan aslinya ... Oh, Yaampun... Jika aku bertemu dengannya aku akan minta maaf, tidak ada lagi sok bergaya didepannya, kekuatan itu membuat ku sadar bertapa berharganya nyawa yang kumiliki... hmmphhhh..... Huffttt ....."


Ribery menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Ternyata sebelumnya Ribery yang berjalan dan menuntun Shoji menahan rasa takutnya!


Ribery mempertaruhkan keberaniannya di samping Shoji, Ribery beranggapan bahwa jika dia salah sedikit dalam bertindak, maka nyawanya akan menghilang begitu saja.


Sampai saat ini hanya Ribery yang diketahui sebagai orang baik di dalam kerajaan Durui.


Tindakan arogan yang ia tunjukkan di publik adalah hasil dari paksaan para bangsawan.


Ribery selalu menyesal setiap ia bertindak kasar kepada orang-orang yang ia tidak memiliki masalah kepadanya.


Tidak sering juga Ribery berpikir untuk keluar dari kerajaan Durui, tetapi ada satu hal yang menahannya yaitu.


Ribery memiliki setengah kekuatan dewa Vide! Agar ia dapat menggunakan kekuatannya itu, Ribery harus tetap berada di dalam kerajaan Durui.


Tindakan Vide dalam memberikan kekuatan secara langsung kepada manusia adalah tindakan ilegal bagi para dewa.


Setidaknya seperti itulah aturan umumnya, tetapi banyak juga dewa yang bertindak sama dengan Vide.


Sampai pada titik dimana Ribery pertamakali merasakan Aura Sihir Shoji yang menggila.


Hal itu berawal di malam yang dingin, ketika Ribery sedang menyesali sesuatu di dalam kamarnya, Ribery menggunakan kemampuannya untuk melihat dalam ratusan kilometer jauhnya, dari kejauhan tampak kabut yang tebal.


Itu adalah saat-saat dimana Avidite terhempas ke permukaan oleh Shoji.


Ribery dengan kemampuan menganalisa kekuatan seseorang itu merasakan bahwa yang baru saja terhempas ke permukaan adalah sesosok yang hampir mendekati ranah para Dewa.


Berpikir kekuatan seperti itu telah dikalahkan, Ribery sangat penasaran dengan siapa yang mengalahkannya, ketika ia berusaha untuk mencari tahu, sang Raja memanggilnya untuk menginvestigasi apa yang terjadi didalam Hutan Mantai.


Sampai pada akhirnya Ribery mengetahui bahwa itu adalah Naga Agung Avidite dan dirinya mulai membuat harapan agar seseorang yang telah mengalahkan Naga Agung Avidite itu menyelamatkannya.


Secara tidak langsung, Ribery adalah penggemar Shoji.


.....


Beralih ke tempat dimana Sylvia dibawa menuju tempat Eksekusi Publik.


Benar saja, itu seperti tiang yang menjulang tinggi ke atas.


Sylvia telah ditempatkan disana, dimana seluruh tangan dan kakinya telah di ikat.


Sylvia juga dalam kondisi babak belur, jika Avellyn ikut campur, Sylvia bisa saja kebal terhadap semua hal.


".. A..Apa yang ingin kau lakukan padaku!..."


Tanya Sylvia kepada seorang eksekutor yang berada didepannya.


".. apa? Sungguh??.."


Eksekutor tersebut berhenti memoles pisaunya dan menghampiri Sylvia, dia berdiri tepat di depan matanya!


".. A..Apa?!.."


".. Nona, apa kau sungguh bertanya apa alasan ku melakukan ini??? Karena kau adalah Elf!..."


".. jadi, karena aku Elf, aku pantas untuk dibunuh? Yang benar saja!! Manusia memang seperti ini! Hanya Tuan Shoji saja yang berbeda!!..."


Mendengar perkataan Sylvia, Eksekutor itu berkata.


".. Tuan Shoji?? Apa maksudmu ada manusia yang memiliki rasa toleransi terhadap Elf?? Tidak tidak, itu mustahil... Pada akhirnya kau akan menjadi Budak berharga tinggi dan organ mu hanya menjadi bahan-bahan penelitian ku, semua manusia sama..."


"..h..uh..?.."


Sylvia terbengong dengan perkataannya, Sylvia tidak akan mempercayai perkataan dari Eksekutor itu, tetapi Sylvia juga sedikit mengerti dibagian pada akhirnya mereka akan menjadi budak.


Setelah semua hal, Sylvia tidak ingin melihat bayangan bagaimana Shoji akan menjualnya, pikiran buruk mulai memasuki Sylvia.


Sylvia pun berteriak kencang untuk menyingkirkan pikiran negatifnya...


".. TIDAK!!! HANYA TUAN SHOJI LAH YANG BERBEDA!! KALIAN SEMUA BUS--UKKHH!!!.."


Sylvia mendapatkan pukulan dari Eksekutor tersebut di tengah perutnya.


".. berisik sialan, bisakah kau diam!??? Ketika pintu ini terbuka, maka ini adalah akhir bagimu...."


"...t..tidak .."


Sylvia pun pingsan.


Sementara keadaan di dalam rumah Rara.


Terlihat Shoji dan Rara berpelukan, Rara berterimakasih kepada Shoji atas segala bantuannya.


".. kakak.. Terima kasih.."


".. tentu..."


Ibunya pun berjalan dan berkata kepada Shoji.


".. entah siapa kamu, kamu adalah penyelamat kami.. tapi aku sungguh minta maaf, aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk membayarnya... "


"..Eh?.."


Shoji terkejut mendengar ibunya berkata seperti itu.


" Tidak, tidak ada yang perlu dibayar.. aku serius..."


" Menerima kebaikan ini secara langsung tanpa memberikan apapun... Aku jadi terlihat tidak tahu diri, apapun itu apa yang tuan inginkan, sebisa saya akan saya kerjakan..."


.....


Shoji melihat Rara


". Kalau begitu, tolong jaga Rara untuk ku dan untukmu selama sisa hidup mu... Pastikan dia agar tumbuh menjadi wanita yang kuat sekuat dirimu..."


".. sungguh?.."


Ibu Rara sempat terdiam beberapa saat hingga akhirnya dia menangis..


" Tentu, tentu! Aku akan membuat Rara menjadi wanita yang kuat!....."


Shoji tersenyum


".. Terimakasih, omong-omong.."


" Nama ku Eris, panggilan apapun aku tidak masalah..."


"... Eris-san... Benar! Ini..."


Shoji mengeluarkan ayam bakar yang di dapatinnya dari toko makan.


".. aku dan Rara sudah kenyang, Eris-san cobalah... Ini enak loh.."


Shoji menyerahkan ayam bakar itu kepada ibunya.


".. eh? Sungguh??? Sepertinya ucapan Terima Kasih sudah tidak cukup untuk mengutarakan perasaan ini... "


".. sudah Bu, makan itu! Itu enak!! Aku dan Kakak memakannya dan itu benar-benar enak!! "


Eris mengelus rambut Rara.


".. benarkah? Ini hebat, apa Rara ingin memakannya bersama ibu?..."


"..E..ehh.. tapi aku sudah kenyang..."


".. baiklah, ibu akan habisi ini ya...."


" Tentu! Hehe..."


..


Setelah urusannya disini selesai, Shoji pamit untuk keluar.


".. maaf menganggu, aku memiliki urusan yang harus kulakukan..."


Eris mengehentikan makannya sebentar dan berkata


" Aku tidak dapat menahanmu, hanya... Terimakasih atas segalanya, dan.."


Rara berlari kearah Shoji dan memeluknya dengan erat!


".. Rara?? Apa yang kamu lakukan? Tuan, maaf..."


".. a..ahh, tidak papa, Rara..."


Shoji mengelus rambut Rara yang halus.


" Rara, aku...."


Rara memotong pembicaraannya.


".. AKU AKAN MENJADI WANITA KUAT!!! SAMPAI SAAT ITU, SAMPAI WAKTUNYA TIBA, KAKAK MENIKAHLAH DENGANKU!!!!!..."


".. Em....Eh??..."


"..!!oh Yaampun anakku.."


Ucapan Rara sangat mengejutkan!


".. Rara.... Ehm... ( Dalam posisi ini, apa yang harus ku katakan Astaroth?!!! Kau tau? Jika aku menolaknya maka Rara akan kehilangan semangatnya, jika aku menerimanya, aku akan dicap sebagai Lolicon yang menunggu Loli sampai jadi Oneesan!!! Bantu aku!..)


" Lolicon sangat cocok dengan mu saat ini Hahahah..."


".. kau brengsekk.. cepatlah..."


" Bodoh sekali, jangan membawa ku kedalam urusan lolicon mu dong.... intinya katakan saja hal yang membuatnya termotivasi dalam menjalani hidup, dah.."


".. hei kau sialan!! Brengsek! Aku bukan Lolicon!!!!.."


...


".. Rara, kamu masih dalam masa pertumbuhan, tapi jika kamu ingin menikah denganku, aku tidak akan menolaknya... Hanya saja pastikan kamu menjadi wanita yang baik, bantulah setiap orang yang membutuhkan bantuanmu, jagalah ibumu lebih dari apapun dan jagalah kesehatan mu, entah butuh waktu berapa lama... (Aku harap aku masih hidup) setidaknya tunggulah 20 tahun lagi dan temui aku..."


Shoji tersenyum mengatakannya sambil membungkukkan badannya dan mengelus kepala Rara.


Mata Rara bersinar penuh motivasi dan semangat!


".. baiklah!!! Aku akan menjadi wanita yang baik!!! Kakak harus menikah denganku ya, hehehehe...."


".. iya setelah umurmu 20 tahun ya, (yaampun ini mengerikan, tunggulah 20 tahun lagi).."


Shoji dan Rara pun tersenyum bersama.


Didalam hati, Eris berkata.


".. Rara, pastikan kamu benar-benar serius dengan itu, aku sepenuhnya mendukung mu.. aku akan senang, sangat senang jika kamu serius dengan perkataan mu... Aku akan membuatmu menjadi wanita yang menjadi tipe Tuan! Serahkan saja kepada ibumu yang cantik ini, hm hm..."


..


".. oh yaampun, ibu ... Ekspresi mu tergambarkan dengan jelas..."


Kata Shoji yang melihat dan mendengar perkataan Eris didalam hati.


..


".. jadi, apa Kakak akan pergi??..."


" Iya, emm...."


Shoji seperti mengeluarkan sesuatu dari penyimpanan pararel nya.


".. ini.."


" Ini apa? "


" Y..ya .. semacam karya buatan ku sendiri, jam pasir ini, jagalah dengan baik ya.. aku percaya kamu bisa menjaga ini hingga kita bertemu kembali, dan juga untuk Eris-san, Terimakasih telah menjadi ibu yang baik, ini sudah malam, aku akan segera pergi, sampai jumpa .."


(Teleport)


 


"..uwaaahhh!! Jam pasir ini buatan kakak?? Aku akan menjaganya!! Aku akan menambahkan hiasan dan men-..."


" Rara, Tuan sudah pergi..."


".. eh?..."


Eris memeluk Rara untuk menenangkan dirinya, mungkin Rara masih belum menerima Shoji pergi.


".. nak, jagalah jam pasir itu... Ibu akan membantu mu..."


".. ibu..."


 


 


 


Inilah akhir dari kisah Shoji yang berhasil menyelamatkan keluarga Rara dan ibunya. Namun, di tengah jalan, Astaroth terus mengomelinya. "Hei, apakah kau bodoh? Itu adalah kekuatanmu! Jam pasir itu kau berikan begitu saja?" bentak Astaroth.


"Aku tidak tahu harus memberikan apa. Jangan terlalu ribut hanya karena itu. Lagipula, itu kan hanya sebesar 65 ml, dan itu juga bisa menjadi pertahanan mereka," balas Shoji.


"Hanya karena itu? Kau tidak tahu! Kekuatanmu itu adalah tabu! Walaupun hanya 65 ml, itu cukup untuk menghancurkan kerajaan ini secara total!" sergah Astaroth.


"Apa?! Apakah kau serius? Meskipun hanya 65 ml? Tidak… Lagipula, apakah Rara tahu cara menggunakannya? Aku sendiri pun tidak tahu," jawab Shoji.


"Bocah sialan, dengar… jika Rara meminum pasir itu, maka kekuatannya akan bertambah secara drastis! Tinggi badannya, apapun itu… Dia bahkan tidak perlu menunggu 20 tahun. Jika Rara meminum pasirmu yang bodoh ini sekarang, dia bisa langsung menikahimu," jelas Astaroth.


"Oh ya tuhan!!! Astaroth… Apa kau bisa memberikan solusi untuk ini?" tanya Shoji.


"Apa lagi?" tanya Astaroth.


"Adakah sihir untuk mengeliminasi kebodohan?" candanya.


"Tentu saja, dengan mengganti otakmu dengan otak seekor sapi," ejek Astaroth.


"Aaaargghhh!! Kau benar-benar kejam! Aku jadi nangis!" keluh Shoji.


"…" ucapan Astaroth terdengar hilang dari kejauhan.


Dari dalam kegelapan, Raja Karo yang daritadi tidak ada di dalam ruangannya kini sedang berjalan menuruni tangga yang memutar..


Dengan lentera dibawahnya, Raja Karo pun akhirnya sampai di depan pintu misterius.


Disamping pintu itu terdapat patung-patung yang menyeramkan, sudah jelas ini bukan hal baik.


Raja Karo membuka pintunya dengan segel sihir dan terbuka.


Didalamnya terdapat banyak sekali harta dan di ujungnya terpajang sebuah pedang yang sangat indah.


Pedang itu adalah pedang suci Excallibur.


Raja Karo berjalan menujunya dan memegang gagang Excallibur, kemudian dia seperti berbicara sendiri.


" Tentu saja!! Benar!!! Aku setuju!! Hahahaha!! 15,000 jiwa Demi-Human! Dengan menukarnya, pastikan aku mendapatkan bayarannya! Hahahahaha...."