
".. Rara adalah anak yang baik dan ceria, walaupun begitu kenapa takdir berkata ras Demi-Human adalah menjadi Budak? Omong kosong, mereka bertindak layaknya bidak catur dan pemainnya adalah para dewa,.."
"... Ehmm~ ini enak ( walaupun tidak seenak di Bumi )..."
Di tengah-tengah makannya, Astaroth bertanya.
".. mereka bertindak layaknya bidak catur dan pemainnya adalah para dewa? Kau mengatakan sesuatu yang menarik ya, jika itu adalah pandangan mu, lantas siapa yang menjadi papan permainan catur ini?..."
".. mungkin dia adalah seseorang yang memanggil kami ke dunia ini, siapa ya namanya..."
".. Benar, Oberster Gott adalah papan, tanpa papan permainan, bidak catur maupun pemainnya tidak dapat bermain, posisi mu sebagai pemain 1 melawan pemain 2 yang mana pemain 2 seluruhnya didominasi para Dewa, selanjutnya.. bagaimana cara agar permainan catur berhenti ?..."
...----------------...
".. silahkan, satu teh dan jus jeruk nya..."
Pesanan telah tiba.
".. terimakasih, kakak pelayan..."
Ucap Rara.
Tetapi Shoji masih belum menyadarinya.
......
".. jika salah satu pemain memenangkan pertandingan, atau emm.... Mungkin bidak catur nya ada yang kekurangan atau hilang? Papan permainannya rusak?.."
".. benar, jika salah satu pemain memenangkan pertandingan maka pertandingan selesai, artinya jika para dewa menang, maka kau telah selesai, begitu juga sebaliknya, selanjutnya.. bagaimana jika bidak catur mereka hilang atau telah kau makan? Seperti para malaikat, orang-orang yang terpengaruh oleh Dewa, dan lainnya telah kau musnahkan atau kalahkan? Pasti permainan dapat berjalan lebih mudah dan kemenangan mu hanya tinggal menunggu waktu, dan terakhir.. ini adalah faktor utama permainan catur ini berhenti, yaitu. ... Hancurkan papan permainannya! ...."
Tiba-tiba Shoji menggebrak meja makannya dengan cukup keras, membuat Rara terkejut.
".. p..Papan permainannya!?? Maksud mu???.."
".. Hancurkan Oberster Gott dan permainan selesai!..."
".. ?!hancurkan Oberster Gott dan permainan selesai...."
Percakapannya dengan Astaroth pun berakhir.
...
".. k..kakak, ada apa?? m.. maafkan aku, aku jadi membuat mu marah..."
Rara mengira Shoji marah dengannya.
"... T..tidak tidak, jangan hiraukan.. akulah yang seharusnya minta maaf.... Sungguh, Maafkan Aku!..."
".. E..Ehhh??!!!!.."
Shoji meletakkan kepalanya di meja, bersama dengan kedua tangannya, ini adalah posisi memohon di meja.
".. maafkan aku, membuat kalian menunggu terlalu lama dan hidup dengan rasa sakit.... aku janji.. ini adalah saat terakhir kali Demi-Human menjadi budak! Kumohon tunggulah, sampai saat itu tiba...."
Rara tidak mengerti apa yang coba Shoji katakan.
".. a..Apa yang kau katakan, kak? Ja.. jangan menundukkan kepala seperti itu, minuman mu hampir tumpah... aku jadi tidak enak.."
...
Seorang Pelayan dan seorang chef sekaligus pemilik restoran makan ini mendengar perkataan Shoji.
Mereka nampak tersenyum dan merasa lega.
...
Selesai makan, Shoji segera pergi untuk membayarnya.
".. em... Maaf, aku tidak begitu mengerti mata uang disini, jadi bisakah dengan satu keping emas ini?.."
Shoji meletakkan satu keping emas di meja pembayaran.
".. a..ah, jika terasa kurang aku akan tambahkan dua.."
Sang pelayan resto pun terkejut melihat dengan entengnya Shoji memberikan kepingan emas itu untuk pembayaran.
".. Yaampun! Makanan kami tidak semahal itu, dengan satu keping emas ini kau bisa membeli makanan yang jauh lebih mewah dari kami..."
".. kalau begitu ambil saja..."
".. baik?..."
Setelah itu tiba-tiba sang pemilik restoran tersebut keluar sambil membawa ayam bakar yang telah di bungkus.
".. nak, kuberikan ini untukmu..."
".. untuk ku?.."
".. ya, terimalah.. "
Shoji menerimanya..
Shoji dan Rara pun pergi melambaikan tangan dan mengucapkan terimakasih atas makanannya.
".. Terimakasih ya paman.."
..
Setelah selesai makan, Shoji dan Rara kembali melanjutkan perjalanannya menuju kerumah Rara.
Berhenti sejenak di depan sebuah gang.
".. kak, sebentar lagi kita sampai setelah melewati gang itu.."
Rara menunjuk ke sebuah gang yang ada didepannya.
"... Benarkah? Itu bagus, ayo.."
Mereka melanjutkan langkahnya memasuki gang tersebut.
..
Ini adalah sebuah gang yang cukup sempit, dari dalam gang mereka melihat banyak sekali anak-anak, orang dewasa maupun orang-orang lanjut usia yang sedang dalam kondisi kelaparan.
Ada yang tertidur sambil memegangi perut kecilnya.
Dan banyak juga yang hanya duduk dengan tatapan mata yang kosong.
Tatapan mata lesu terus dirasakan Rara oleh orang-orang di sekitarnya..
".. Apa apaan ini?! Mereka semua ...."
"..A...ayo kak, sedikit lagi kita sampai.."
".. Rara?..."
Rara berjalan dengan perasaan yang tercampur aduk.
Dia tidak berani melihat orang-orang di sekitarnya yang sedang dalam kondisi terpuruk.
..
Saat ini, seluruh bangsawan telah kembali normal, mereka sudah terbebas dari kelumpuhannya tanpa sebab apapun, mereka berdiri dengan penuh amarah dan dendam kepada seluruh Budak.
"...R..rubah sialan!! Kuingat kau!.."
Terutama pada Rara.
...
Rumah Rara kini berada tepat selangkah lagi, dan tiba-tiba terdengar suara delman yang berbunyi kemudian berhenti di depan gang.
"..Apa itu?.."
Ketika Shoji ingin bertanya, Rara merasa takut akan sesuatu.
"..j....jangan... Jangan kesini.. k.. kumohon.. ja..jangan..."
Sambil bergumam, Rara menggigil menahan rasa takutnya, ia gemetaran.
"..R..Rara, ada apa??.."
Astaroth menjawabnya.
".. itu adalah Bangsawan yang telah menghancurkan keluarga Rara, namanya Dogue De Sterrfod..."
"..huh??.."
".. Shoji, sebaiknya kau bersembunyi..."
".. untuk apa?!.."
".. Tahan emosi mu, coba perhatikan apa yang akan dia lakukan..."
"... ... "
...
Shoji pun menghapus hawa kehadirannya dan menghilang.
.
Dogue kini telah berjalan memasuki Gang tersebut bersama dengan dua bodyguardnya.
".. Tch, sampah!..."
Dogue meludah pada salah satu Demi-Human.
Ia berjalan diatas kesombongannya.
".. t.. tuan.... Apa.. apakah ada Roti untuk ku .."
Ketika ada satu Demi-Human yang memegang kakinya berharap ia mendapatkan makanan, salah satu bodyguard tersebut menendang wajahnya.
".. Lancang sekali kau binatang!!.."
".. hmmphh, ayo.. hiraukan saja.."
...
".. Whoaa~ apakah itu kau, anak kecil Rubah yang memiliki harga cukup mahal? Hahaha..."
Akhirnya, Dogue menemukan Rara yang sedang berdiri gemetar penuh ketakutan.
Ia menghampiri Rara.
Ketika sudah sampai, Dogue memegang dagu nya dengan tatapan bejat berkata.
".. jadilah barang yang mahal, kau begitu berharga loh.."
Sementara Rara masih dalam gemetaran nya.
Didalam hati, Rara mengatakan.
".. pergilah, m.. menjauhlah... "
...
Melihat Rara tidak merespon kata-kata Dogue, bodyguard tersebut menodongkan pedang dari belakang tubuhnya.
".. hieekkhh!!!.."
Rara ketakutan, ini sudah menjadi batasnya, Detak jantungnya berdetak sangat kencang, ini tidak baik untuk anak-anak.
..
".. sudah, oh iya.. aku ingin bertanya bagaimana kondisi wanita rubah itu? Apa dia masih hidup? Jika masih, pasti tidak akan lama, Hahaha..."
Dogue tidak menyesali perbuatannya kepada ibunya Rara.
Mengatakan hal yang jahat tersebut dihadapan Rara adalah sudah diluar batas.
" Ada apa?? Jawab aku, apa dia masih hidup??.."
..
".. m..ma...ma.."
".. jangan gemetar dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas, katakan dengan benar dasar binatang bau!.."
"..hiekkh!! Ma..maaf, maaf..maaf... Ibu.
Ibu masih hidup... ."
".. Begitukah? Menarik, baik.. bunuh dia.."
".. e- eh?.."
Tiba-tiba tatapan Rara menjadi kosong.
".. baiklah.."
Ia pun berteriak kencang.
".. t..tidak....TIDAAAAAAKKKKK!!!!!..."
Bodyguard yang berada dibelakangnya mulai menarik pedang dan melancarkan serangannya kepada Rara tepat di lehernya.
".. sudah beres, ayo kita pulang..."
Berbalik badan, Dogue mengatakan itu dengan mata tertutup dan belum melihat apa yang sebenarnya terjadi.
".. j..jangan!!! Jangan dekati aku!!! .."
".. ada apa?..."
Dogue melihat Bodyguard yang satu nya lari terbirit-birit seperti ketakutan akan sesuatu.
".. hm?.."
Dan melihat Bodyguardnya yang kabur tersebut tiba-tiba terpenggal lehernya..
"..Kau kenapa hei!!.."
...
Pada saat membalikkan badannya, Dogue melihat satu pria sedang berdiri dibelakang Rara dengan tatapan menyeramkan dan membuatnya takut.
Bukan hanya itu, hal yang paling menakutkan adalah seorang bodyguard yang tadinya memenggal kepala Rara, justru ia yang terpenggal.
".. Hwuaahh!!!!! S..siapa...siapa kau??!!!"
Dogue terjatuh, ia ketakutan.
".. j..jawab aku, h..hei! Kau bisa berkerja pada ku!! A..akan ku bayar kau dengan istimewa!! Jabatan? Akan kau dapatkan! M..me..menarik bukan?."
Tanpa basa-basi lagi, Shoji dengan cepat membereskan Dogue.
".. Hmmph.."
....
Dan Shoji, ia melihat seluruh tubuh Rara gemetar dengan hebat.
Seakan mulut itu ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak pernah terucap.
Shoji menghampirinya dan memeluknya sambil berkata.
".. sudah, semua pasti akan baik-baik saja..."
dengan gemetaran itu, Rara hanya berkata.
".. Ka..kakak.."
Dan ia kemudian menangis sejadi-jadinya.
".. anak sekecil ini mereka buat hingga seperti ini... Bajingan!.."
Tatapan pembunuh dan kekosongan itu.
Kata Shoji yang penuh amarah didalam hati.
...
Setelah bangsawan pengganggu dibereskan, kini Shoji telah tiba di rumah Rara.
Bangunan yang berada di dalam sebuah Gang yang terbilang cukup sempit itu tidaklah besar.
Hanya setidaknya cukup untuk tempat tidur bagi dua orang dan mereka tidak memiliki dapur ataupun kamar untuk mandi ataupun aktivitas menggunakan air lainnya.
Tempat tidur itu hanya terbuat dari kayu dan dialasi dengan jerami halus.
" ... Kakak, silahkan masuk. ."
". . Iya.."
Ketika memasukinya. .
".. ibu sedang tidur di sana. "
".. kalau begitu aku pergi kesana ya..."
..
Shoji merasakan ada energi sihir yang seperti menekan sesuatu untuk mendekati ibunya.
Aura sihir itu benar-benar seperti menolak Shoji.
Dan terlihat lah ibunya Rara yang sedang tertidur dengan tatapan yang pucat.
".. semua wajahnya putih pucat, ini...."
Shoji membelai rambutnya yang memiliki warna yang sama dengan Rara.
Astaroth pun berkata menjelaskan bahwa itu bukanlah sakit biasa, tetapi adalah sebuah kutukan sihir yang diberikan oleh seseorang.
"... Shoji, aku yakin ini adalah sihir kutukan..."
".. sepertinya iya...."
".. namun sihir itu lemah, kutukan kelas tengah yang hanya melumpuhkan seseorang dengan jangka panjang dan mereka membuatnya tidak akan pernah sadar seakan telah mati, yang seperti ini cukup kau lakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan dahulu kepada Raja di kerajaan Flo..."
"... Tapi kan itu adalah kutukan keabadian! Apa tidak apa-apa?! Aku tidak yakin... Keadaannya berbeda dengan di kerajaan Flo, jika seorang budak ditemui memiliki kekuatan Abadi, aku tidak bisa memikirkan hal gila apa yang akan dilakukan para bangsawan-bangsawan tersebut untuk mendapatkan keabadiannya.... Apakah ada cara lain???..."
Dibelakang, Rara melihat Shoji ribut sendiri, ia hanya bisa melongo bingung .
Astaroth tertawa.
". Hahahaha! Aku lupa memberitahu mu, sihir Eternite hanya bisa dipakai sekali dan tidak akan bisa kembali.."
".. hah? Apa maksudmu??.."
"... Sihir itu adalah sihir yang mencari kecocokan dengan dirinya sendiri, dan pada saat itulah aku yakin bahwa Raja Flo adalah orang yang cocok dengannya, alhasil Eternite pun berhasil pada dirinya, dan sihir kutukan itu sebenarnya juga bisa sebagai penyembuhan namun dengan efek yang jauh lebih besar dari penyembuhan biasa..."
". b..bisa kau jelaskan itu lebih lanjut????..."
".. ketika kau menggunakannya pada seseorang yang sedang sakit atau terkena kutukan, sihir penyembuhan itu akan menyembuhkannya dan memberikan setidaknya cukup kekuatan untuk bangkit kembali, segala aspek yang dimiliki seseorang akan meningkat, sebagai contoh, jika ada manusia atau sejenisnya yang sebelum sakit itu adalah seorang pemanah yang bahkan belum mampu memanah dengan benar, namun setelah kau sembuhkan, maka orang itu akan mampu memanah melewati pepohonan dan menembus setiap pohon yang dilewatinya, ini adalah sihir ku sendiri.."
Shoji terdiam, ia terkejut dan kagum dengan kebaikan Astaroth.
Dan ia pun segera mengeluarkan sihir ungu gelap di tangan kanannya.
Rara tidak berani mendekati Shoji, ia takut.
".. K.kakak!..."
.......
"... Caranya sama dengan yang sebelumnya, cukup arahkan sihir ini ke arah seseorang yang sakit.."
".. Baik, akan kucoba!..."
.....
Shoji pun telah mengarahkan sihir tersebut kearah ibunya Rara, dan sihirnya mulai berkerja.
Aura sihir ungu gelap mulai tersebar di area sekitar.
Banyak bangsawan yang terganggu dengan itu.
Bahkan sang Raja pun melihatnya dari kejauhan istana.
"... Ungu? Apa itu?? "
..
........
Didalam rumahnya, Rara melihat sihir ungu menyelimuti ibunya!
Berada didekatnya saja membuat dada Rara terasa sesak.
Rara sudah tidak kuat berdiri, perlahan berjalan mundur dan akhirnya ia pun terjatuh pingsan bersamaan dengan hilangnya aura sihir ungu Shoji.
Didalam pingsannya, Rara mengingat kembali kenangan indah bersama ibunya, kehidupan dimana Raja kerajaan Durui masih belum se agresif ini terhadap ras demi human.
Berjalan diatas sungai dan bersama mencari kayu bakar.
Sesekali memetik bunga sebagai hiasan.
Dan memakan makanan yang telah disiapkan sang ibu ditengah-tengah taman.
Rara tertidur di atas pangkuan sang ibu, ia mulai merasakan sensasi lembutnya tangan sang ibu membelai rambutnya.
Belaian kasih sayang nya begitu nyata.
Didalam kegelapan mimpi, cahaya menyerang kehadapannya dan ketika Rara membuka matanya.
"... Rara, apa kau sudah bangun? Maaf, sepertinya ibu tidur cukup lama..."
Tersadar dari pingsannya, Rara terbangun diatas pangkuan ibunya..
".. i..ibu!!!"
" Ibu disini, nak..."
Rara pun menangis sejadi-jadinya.