
Pertarungan yang sengit antara Shoji dan rekan-rekannya melawan kerajaan Durui kini telah selesai, matahari pagi yang cerah menjunjung tinggi cahaya kemenangan, hanya menyisakan sisa-sisa pejuang yang sedang kelelahan.
Mereka duduk di atas rumput hijau dengan pakaiannya yang penuh bekas darah, sang pejuang yang membersihkan kelicikan dari kepemerintahan, Roxxie, Ryzen dan Sylvia saat ini sedang pingsan, mereka tidak sempat menyadari bawah Shoji tidak ada selama pertarungan sebelumnya, meskipun begitu mereka tetap yakin bahwa Shoji lah yang sebenarnya telah mengambil peran besar dalam pertarungan ini.
Muncul pertanyaan, dimanakah dan bagaimana nasib mereka para Demi-Human yang berada didalam kerajaan Durui sebelumnya?
Maka itu telah terjawab dari pemandangan damai yang penuh senyuman dan kasih sayang, perasaan terbebas dari jeratan, saat ini mereka semua sedang menjaga ketiga manusia penyelamat mereka yang sedang istirahat.
Sebelumya, setelah mereka berhasil mengalahkan segala musuh yang berada di dalam kerajaan Durui, Ryzen dan Roxxie telah pingsan lebih awal dan begitupun dengan Sarah.
Yang tersisa hanyalah Sylvia yang saat itu telah terbangun dengan kekuatan Avellyn bersamanya.
Bagai Dewi yang cantik dengan segala keanggunannya.
Sylvia telah menyelamatkan seluruh nyawa para Demi-Human tepat setelah gunung yang telah menyerang mereka lenyap.
Ketika Gunung itu lenyap, dan saat itulah Sylvia mencari dan langsung menggunakan sihir Teleportasi nya untuk menyelamatkan mereka yang tersisa.
Banyak yang telah kabur meloloskan diri ketika sosok misterius yang sebelumnya menyapu habis daerah sekitar kerajaan Durui.
Sylvia hanya mampu menyelamatkan mereka yang tersisa didalam kerajaan Durui, dengan jumlah awal seluruh ras Demi-Human sekitar 15.000, Sylvia hanya dapat menyelamatkan 3.000 dari mereka yang tersisa dan terselamatkan nyawanya, jumlah itu belum menjadi total dengan jumlah para Demi-Human yang telah kabur meloloskan diri.
Setelah Sylvia selesai dengan semuanya, pada saat ini Sylvia membuat seluruh ras Demi-Human, bukan hanya Demi-Human saja, tetapi para prajurit prajurit yang berada dibawah pimpinan Sarah pun juga berpindah tempat ke suatu lahan hijau yang jauh dari kerajaan Durui.
Saat itu hanya tersisa Sylvia beserta Roxxie, Ryzen, Sarah, Shamp, Ribery, Rara beserta ibunya yang telah pingsan, hanya Sylvia sendiri yang menyaksikan terbitnya matahari yang mengawali hari-hari barunya.
Setelah itu, Sylvia membawa mereka yang tersisa ke tempat berkumpulnya para Demi-Human dan para prajurit yang sebelumnya ia pindahkan.
Para Demi-Human beserta para prajurit pun senang dengan kehadiran Sylvia, mereka mengerumuni Sylvia yang baru saja tiba dengan rasa penuh terimakasih.
"Ini sudah lebih baik."
Ketika dia mengatakan itu, Sylvia pun pingsan seketika.
Dan sampailah pada saat ini, para prajurit-prajurit milik Sarah kini bertugas untuk menjaga mereka yang sedang pingsan agar tidak kenapa-napa.
Para Demi-Human pun bertugas untuk mengumpulkan makanan dan buah-buahan, yang nantinya itu akan diberikan kepada mereka.
Salah satu Demi-Human setengah kelinci, bertanya kepada salah seorang prajurit yang sedang berjaga.
"Kapan mereka akan sadar? Aku ingin memberikan apel ini kepada mereka.."
Gadis yang baik.
Prajurit itu dengan halus berkata sambil mengelus kepalanya.
"Mereka akan segera bangun kok, dan aku yakin, apel yang akan kalian berikan ini akan membuat kekuatan mereka pulih kembali, terimakasih ya..."
"I..iya!"
Gadis itupun tersenyum kemudian pergi.
Berhari-hari berlalu, lebih tepatnya sudah 4 hari mereka pingsan
Pagi ini, Daerah sekitar mereka yang tadinya hanya lahan hijau beserta pepohonan yang rimbun, kini telah menjadi suatu pedesaan, pedesaan itu dibangun oleh para ras Demi-Human beserta bantuan dari prajurit-prajurit lainnya.
Roxxie, Ryzen dan Sylvia beserta yang lainnya kini berada didalam suatu rumah khusus bagi mereka para penyelamat untuk beristirahat.
Ketika waktu menunjukkan pukul 13:00 siang hari, Roxxie telah terbangun lebih awal dan bingung dengan situasi saat ini, kenapa dia bisa berada didalam suatu rumah?
Roxxie pun berjalan keluar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, ketika dia telah berada diluar, Dirinya terkejut karena mereka sedang berada di suatu pedesaan.
Tidak lama kemudian, Roxxie menerima banyak sekali orang-orang yang berkumpul menanyakan kabarnya.
"E..eh?? Siapa kalian? Tunggu.t...tunggu dulu"
Dia tidak sanggup meladeni mereka semua.
Kemudian tetua desa ras Demi-Human bernama Yuo menghampiri Roxxie dan menertibkan keramaian.
Kemudian dirinya berlutut dihadapan Roxxie sambil berkata.
"Aku tidak memiliki apapun untuk membayar kebebasan kami yang telah kalian bebaskan dari kerajaan Durui, hanya.. Terimakasih.."
Merasa kebingungan, Roxxie berkata sambil mengangkat tubuh tetua desa tersebut agar tidak merendahkan dirinya dihadapannya.
"T..tidak, aku sama sekali tidak menginginkan bayaran apapun, lagipula siapa yang..."
Tidak lama lagi, keluar lah Sylvia, Sylvia berkata.
"Siapapun itu, yang jelas dirinya adalah penyelamat yang baik hati." Sambil tersenyum.
"Sylvia?! Kau sudah bangun??"
Kemudian disambung oleh Ryzen.
"Tentu, apa kau tidak menanyakan kabarku?"
Merasa sedikit malas dan merepotkan, Roxxie berkata.
"Oh, begitu.. bigimini kibir mi? Apa seperti itu?"
Roxxie malah ngeledekin Ryzen.
"Oi, aku benci nada mu berbicara"
"Ada masalah? Tuan pahlawan???"
Ryzen jengkel dan ketika mereka saling berhadapan, seperti biasa, Sylvia memisahkan mereka.
"Hey sudahlah!"
Mereka berdua pun kemudian saling berjabat tangan dan Roxxie berkata.
"Kerja bagus, sobat."
Dibalas dengan Ryzen.
"Tentu."
mereka terkadang akur terkadang tidak.
Dan muncul lah dibelakang mereka Shamp beserta Sarah, Rara, dan ibunya.
Rara berkata kepada ibunya dimana kakak Shoji, bukan dijawab oleh ibunya, justru dijawab oleh Ryzen.
"Dirinya sedang dalam kepentingan yang tidak bisa di ganggu!"
"Uhmm.... Begitu ya..."
Jika ditanya mengapa Ryzen tahu Rara mengenal Shoji, itu karena Sihir Shoji yang berada di jam pasir yang dikenakan oleh Rara!
Melihat seluruh penyelamat mereka telah sadarkan diri, seluruh warga yang berada didalam desa itu pun sepakat akan mengadakan pesta!
Roxxie bersorak.
"Yeyy!! Pesta!"
Sementara Rara bingung.
"Apa itu pesta?"
Pertanyaannya dijawab oleh Shamp.
"Adalah kondisi dimana kamu akan merayakan sesuatu dengan memakan banyak makanan dan minuman serta melihat tari-tarian, kira-kira seperti itu.."
"Terimakasih.." ucap ibunya Rara.
Namun pesta itu akan diadakan malam hari, masih ada cukup waktu bagi mereka untuk berbicara tentang apa yang sebelumnya terjadi.
Shamp pergi ke atas dataran yang sedikit lebih tinggi dari pedesaan itu dan mulai menggali tanah.
Kemudian Roxxie melihat Shamp, dirinya menghampiri Shamp dan berkata.
"Untuk rekan pasukan Crusader?"
"Menurutmu?"
Roxxie pun mengambil cangkul yang berada didekatnya dan membantu Shamp untuk menggali tanah.
Melihat Roxxie membantunya, Shamp sedikit menghormati Roxxie.
Disisi lain, saat ini Ryzen sedang berada di pusat kota, dirinya sedang membantu para warga untuk mempersiapkan pesta.
Dan Sylvia saat ini sedang menyendiri, dirinya hanya berjalan-jalan di sekitar desa sambil memikirkan sesuatu dan mengatakannya dengan menatap langit.
"Tuan Shoji, aku tahu saat itu kamu telah menyelamatkan ku, aku juga tahu kamu saat ini sedang dalam sesuatu yang besar, aku tahu segala kebaikan dan kehangatan mu, oleh karena itu, saat ini— Dimanakah dirimu?"
Dimana Shoji saat ini berada? Jawabannya adalah, saat ini Shoji sedang berada di suatu planet asing yang antah-berantah, dalam kondisinya yang sedang pingsan, Shoji sedang diperlakukan layaknya seorang dewa oleh para makhluk asing yang berada disana.
Setelah cukup lama dirinya pingsan, Saat ini Shoji telah terbangun sadarkan diri.
Melihat atmosfer yang berbeda dari yang sebelumnya ia rasakan, dia mengetahui bahwa saat itu dirinya sedang terbaring di dalam suatu kamar.
"Apa yang terjadi ..?"
Astaroth menjawab pertanyaannya.
"Kamu sedang berada di planet lain."
Awalnya Shoji tidak begitu mengerti, namun setelah jeda waktu hening berlalu, dia...
"A—APA?!!! JELASKAN PADAKU!"
dirinya benar-benar terkejut mendengarnya.
Kemudian Astaroth menjelaskan semuanya, menjelaskan seluruh situasi yang telah berlalu disaat Shoji pingsan dalam memulihkan kondisinya.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu.."
"Apa itu?"
Astaroth ingin bertanya sesuatu kepadanya, terdengar cukup serius.
"Ini mengenai saudari mu, Nakamura Irina."
"Eh?"
Baru mendengarnya saja, pupil matanya melebar menandakan dia bahagia mendengar kabarnya.
"Apa kau ingin tahu?"
"TENTU SAJA!"
"Jangan berteriak, baik, dengarkan.."
Shoji pun mendengarkan penjelasan yang akan Astaroth berikan.
"Nakamura Irina saat ini telah berada di depan pintu gerbang masuk ke alam semesta yang bernama Gaudes, dirinya telah berada disana selama hampir 100 tahun lamanya, hanya menunggu didepan gerbang saja."
"Kakak? Gaudes itu... Apakah dia menungguku?"
"Sepertinya seperti itu, namun ada sesuatu yang tidak dia ketahui, aku ragu kenapa Void Sharpnes tidak mengetahuinya dan memberitahu hal sepenting ini kepada Irina, dan dia memberitahukannya kepada ku"
"Apa maksudmu?"
"Nakamura Irina telah membunuh sekitar 9 dari 10 Dewa di dunianya, para dewa-dewi yang berada di dalam alam semesta dewa hanya tersisa 1, mereka semua telah turun ke permukaan untuk mencoba membunuh Nakamura Irina, namun, mereka semua dikalahkan."
Mendengar perkataan Astaroth ini, membuat Shoji terdiam sesaat, dia berpikir bagaimana kakaknya bisa melakukan itu?
"Tidak ada yang harus dia lakukan, jika ingin masuk ke dalam alam Dewa, dia bisa dengan mudah memasukinya karena telah memenuhi syarat tertutup."
"S.. syarat tertutup? Seperti apa itu?"
"Mereka yang telah membunuh beberapa Dewa, dapat memiliki hak istimewa untuk menempatkan diri sebagai seorang Dewa baru di alam semesta para dewa."
Penjelasan Astaroth tidak dapat di proses lebih detail oleh Shoji.
"Jadi singkatnya, Kakak ku telah menunggu selama 100 tahun itu hanya tindakan yang percuma?"
"Benar, Nakamura Irina tidak akan dapat menemui mu disana, karena kalian berada di dimensi serta semesta yang berbeda, sungguh 100 tahun yang percuma."
Shoji pun berdiri dan berlari keluar dengan cepat.
Melihat Shoji berlari, para penghuni di planet ini tidak ada yang dapet menghentikannya.
sementara itu Astaroth berbicara dengan dirinya sendiri.
"Vide berbohong mengenai Doppelgänger nya, kenapa dia berbohong? padahal dirinya yang disana sudah jauh lebih awal telah dikalahkan dan lenyap ditangan Nakamura Irina, ini belibet, melihat semua berita yang disampaikan oleh Void Sharpnes, sampai pada point bahwa menurutku Vide tidak berbohong, dia hanya menerima info dari Doppelgänger miliknya jauh sebelum Doppelgänger miliknya dikalahkan oleh Irina, itu berarti, Vide hanya menerima info yang sudah lama dan itu bukan yang terbaru, Vide tidak mengetahui bahwa saudaranya telah tewas, Vide juga tidak mengetahui apa-apa mengenai Nakamura Irina yang telah menyapu bersih kesembilan para Dewa, Nakamura irna—... dirinya bagai monster yang tak terhentikan."
......................
"Apa yang ingin kau lakukan, Shoji?"
Astaroth bertanya kepadanya mengenai tindakannya yang spontan ini.
"Tidak ada.. aku hanya meluapkan kekesalan ku."
Hal yang sebenarnya dirasakan oleh Shoji adalah.
"Dia mampu mengalahkan para Dewa sekuat Vide sendirian? Dan telah sampai di depan pintu gerbang Gaudes lalu melakukan hal yang sia-sia seperti menungguku selama 100 tahun? Aku tidak percaya aku selemah itu, Kakak!!"
Shoji merasa dirinya sangat lemah jika dibandingkan dengan kakaknya saat ini.
"Bahkan aku butuh banyak sekali perjuangan untuk melawan Dewa Vide, tapi kakak. Kau.."
Aura Shoji menjadi negatif karena dia membandingkan dirinya dengan kakaknya.
Astaroth tidak akan mencoba untuk menghentikannya karena Shoji sedang dalam depresi untuk melepaskan lelahnya.
Setelah cukup lama dia berlari dan kelelahan, Shoji terbaring menatap langit-langit malam diatasnya.
"Apa yang akan kulakukan mulai sekarang?"
Shoji pun memejamkan matanya dan kembali tertidur, di dalam tidurnya ia bermimpi, bermimpi sesuatu yang dapat menjawab seluruh keraguannya.
Shoji melihat tampilan siluet seluruh rekan-rekannya mengulurkan tangan mereka kepadanya, dan mendengar suara Ryzen yang berkata.
"Jika saat itu kau tidak ada, aku tidak dapat sekuat saat ini, terimakasih."
"Ryzen.."
Setelah itu dilanjutkan dengan suara Roxxie.
"Kau adalah yang terkuat, aku percaya setelah pertarungan kita saat itu, Tuan!"
"Roxxie..."
Dan terakhir Sylvia berkata sambil memeluk Shoji.
"Kamu adalah seorang manusia yang baik dan kuat, sifat percaya diri dan rendah hati yang kau miliki membuat diriku nyaman berada didekat mu, tuan.. sungguh, kamu telah menolong ku, pengalaman terbaik dalam hidupku adalah ketika kita bersama-sama melakukan petualangan, bersama melawan musuh, dan bersama dalam kedamaian.. aku berterimakasih kepada mu atas nama Sylvia dan seluruh ras Elf, kami semua ada untukmu, tuan..."
Sylvia pun perlahan memudar dan mimpinya berakhir.
"Sylvia!"
Setelah mimpinya berakhir, Shoji terbangun sambil meneriakkan nama Sylvia.
Dan saat ini dirinya telah menemukan sesuatu yang harus dilakukan, hanya dialah yang dapat melakukannya, hanya dia yang dapat memberikan perlindungan kepada teman-temannya.. Shoji meyakini itu.
"Baiklah, maaf ya teman-teman, aku telah membuat kalian menunggu, aku akan segera pergi menuju kalian, dan bersama kita akan berpetualang!"
Ketika sedang dalam situasi yang energik, Astaroth bertanya kepada Shoji.
"Itu bagus, namun bagaimana kau akan kembali? Ini berada di planet yang sangat jauh dari planet asal mu."
Shoji terdiam.
"Oh iya!! Lakukan sesuatu dong Astaroth!"
Dia merengek meminta Astaroth melakukan sesuatu kepadanya.
"Mustahil, energi sihir kita berdua sedang dalam proses pemulihan"
Shoji tidak bisa membantahnya karena itu benar.
"Yaampun bagaimana ini?!! Adakah sesuatu!?"
Astaroth dengan tertawa kecil mengatakan.
"Ahaha, tenang saja.. kita menemukan satu rekan baru disini,.."
Mendengar kata rekan yang baru, Shoji tidak mengerti apa yang sedang Astaroth katakan.
"Oi Astaroth, rekan baru? Siap—a...."
Ucapannya belum selesai karena Astaroth menyela kata-katanya.
"Turunlah kau, Avidite!"
Tiba-tiba saja dari bawah bayangan Shoji, terdapat cahaya warna merah yang berkedip-kedip.
"A—apa itu?!!!"
Cahaya merah itu pun pergi keluar bayangan dan siapa yang menyangka bahwa itu adalah Naga Agung Avidite!
Tubuhnya yang sangat besar ini sudah pasti Avidite!
"Kau, KAU KAN AVIDITE!!"
"Tepat sekali"
Tapi sejak kapan dia berada dibawah bayang-bayang Shoji? Jawabannya sejak Shoji dipindahkan oleh Vide, beberapa saat sebelum Shoji pergi, Avidite melesat dengan sangat cepat, dirinya melesat sambil menghilangkan hawa kehadirannya dan menghilangkan bentuk fisiknya, seperti cahaya hitam yang masuk menerobos tubuhnya.
Avidite berhasil mengelabui Dewa Vide hingga akhirnya dia dapat dengan nyaman berada didalamnya.
Tubuh Avidite sangatlah besar, bahkan hampir menutupi setengah luas dari planet ini.
Para penduduk sekitar yang melihat sesuatu aneh itu mulai ketakutan! Mereka pikir sang dewa telah murka kepada mereka dan akan memusnahkan mereka!
"Sangat mengagumkan, tuan berhasil mengalahkan salah seorang Dewa seorang diri, kamu benar-benar tuanku! Seseorang yang telah menjadi penantian ku yang panjang.."
Shoji terdiam, dia masih belum percaya Avidite.
"Aku tidak akan lagi menyerang sesuatu yang kau lindungi, tuan, aku akan menjaga mereka sebagaimana kamu menjagaku, jadi.. kumohon naiklah ke atas tubuh ku, bersama kita akan mulai pergi.."
"Apa kau serius?"
"Tentu saja" kata Avidite sambil tersenyum.
Shoji langsung menaiki tubuhnya dan langsung memberikan sebuah perintah.
"Antar aku kembali ke tempat teman-teman ku berada!
"SIAP!!!"
Saat ini sang Naga Agung Avidite bersama manusia biasa mulai menjalin kerjasama hubungan sebagai Majikan dan bawahan, mereka mulai pergi meninggalkan Planet asing tersebut dan saat ini sedang berada di ruang angkasa.
Sebagai seorang manusia biasa, tentu Shoji baru kepikiran soal .
"Bagaimana aku bisa bernafas di ruang angkasa??"
Astaroth menjawab.
"Seharusnya kau bertanya seperti itu saat pertamakali menginjakkan kaki di dimensi Vide, konyol sekali.."
"Ya sudah sih, aku kan juga bertanya... Jadi, berapa lama lagi kira-kira kita sampai?"
Avidite terdiam, dia seperti tidak yakin dengan sesuatu.
"Kita akan sampai dengan kecepatan seperti ini sekitar....... 80 tahun perjalanan, tuan.."
"Bagus, 80 tahun ..— sebentar!!!!"
Shoji tidak mengira akan selam itu, tidak. Sebenarnya dia sudah mengira karena mengingat ini adalah perjalanan ruang angkasa, tapi kan Avidite adalah seekor Dewa Naga, terlebih memegang gelar Agung.
"80 tahun????!!! Jika aku sudah sampai disana, aku akan melihat Sylvia ku yang cantik telah berubah menjadi nenek-nenek berambut silver! Dan duo R itu mungkin telah mati karena pertikaian bodoh mereka! Sungguh, bisakah dipercepat?!.."
Shoji mulai marah-marah gak jelas.
"Mau bagaimana lagi, Tuan, ternyata kita berada di ujung semesta, dengan kecepatan ku saat ini adalah yang sudah terbilang cepat, kurasa."
Kata Avidite mencoba meyakinkan Shoji.
"Itu benar, Shoji. Planet yang memiliki kehidupan aneh itu berada di ujung semesta, kau harus bersabar sedikit~ HAHAHAHA!"
Shoji jengkel, kenapa Astaroth terdengar sangat menjengkelkan!?
"Aaakkhh!! Diamlah, baik.. ini caraku, bisakah kau mengimbanginya?!"
"C..cara apa?"
Ketika Avidite ingin bertanya penjelasan dari perkataan Shoji, Shoji malah mengabaikannya dan mulai mencoba hal baru.
Dirinya menggabungkan teknik teleportasi instan miliknya dengan kekuatan Avidite.
Pada saat itu, Shoji memposisikan kedua telapak tangannya diatas pundak Avidite dan Avidite saat itu merasa pundaknya dingin dan menusuk.
"Tuan, apa ini? Sangat dingin"
"Baiklah kita mulai!!!"
Setelah Shoji selesai mensinkronisasikan sihirnya dengan sihir milik Avidite, sebuah gerbang teleportasi tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ayo Avidite! Masuk kesana!.."
"Dimengerti!!"
Kemudian mereka berdua pun langsung masuk kedalamnya dan dalam waktu yang sangat cepat mereka tiba di atas langit-langit Kerajaan Durui.
"Dimana kita??"
Astaroth yang melihat ide Shoji ini sebenarnya tertawa sedikit didalam hati, itu karena..
"Segala menghubungkan sihirmu dan Avidite, kamu benar-benar awam dalam teleportasi ya, padahal kamu sebenarnya tinggal memutar telapak tangan mu searah jarum jam dan portal yang sama dengan yang kau buat itu akan tercipta, Ahahaha..."
Setelah berhasil tiba di atas langit-langit Kerajaan Durui, Shoji melihat kondisinya telah sangat hancur lebur, dia bahkan sempat tidak mengenalinya.
"Jadi, seperti inilah hasil akhirnya.., kalau begitu.. dimana Ryzen dan lainnya??"
Avidite memberitahukannya bahwa.
"Menuju Arah Selatan, rekan-rekan anda sekarang sedang dalam persiapan perang, entah akan melawan siapa.."
Shoji terheran-heran kenapa mereka ingin berperang? Dan lawan siapa?
Sementara itu di sudut pandang Ryzen dan Roxxie, mereka merasakan aura ganas dan sangat mengintimidasi tiba-tiba muncul begitu saja entah darimana asalnya.
Ryzen berkata sambil menggunakan zirahnya.
"Dia ternyata masih hidup!!"
Dan, Roxxie sedang dalam persiapan energi sihirnya yang terkumpul.
"Si Brengsekk itu kembali!!!"
Mereka berdua sudah tahu dan hafal dengan kehadiran Avidite, itu karena hawa kehadirannya membawa sensasi berbeda dari yang lainnya.
Saat ini mereka berdua dalam kondisi kesalahpahaman.
Kembali pada Shoji, dirinya berpikir bahwa rekan-rekannya mungkin berpikir dia telah mati, oleh karena itu Shoji hendak membuat permainan kecil yang mana..
"Tokoh utama yang mati tiba-tiba kembali dengan membawa sang Naga Agung sejati!! Wahh! Itu bagus!"
Avidite tidak mengerti dengan apa yang Shoji gumam kan.
"Jadi, bagaimana tuan? Apakah kita akan kesana? Menuju rekan-rekan mu?"
Shoji menjawab dengan semangat
"IYA! segera kita menuju kesana!"
"Baik!!"
Mereka berdua pun sedang dalam perjalanan menuju rekan-rekan Shoji lainnya.
Didalam perjalan, Shoji membisikan Avidite agar terbang dengan sedikit lebih pelan.
"Tolong terbang dengan perlahan"
Itu bertujuan untuk memberikan kesan yang tegang dan mencekam, seperti aura musuh kuat yang perlahan mengarah kepada mereka! Ini skenario yang dibuat oleh Shoji.
Berbeda dengan Ryzen dan Roxxie, Ketika akan menjadi seperti itu, kalung jam pasir milik Rara tiba-tiba saja berkelap-kelip, kebetulan saat itu Rara sedang bersama Sylvia.
"Kakak, ini berkelap-kelip, ada apa???"
Sylvia langsung merasa bahwa ini adalah tanda Shoji sedang berada di sekitar sini, setidaknya sedang menuju kearah sini.
"Uwahh, itu benar-benar cantik, itu tandanya kakak Shoji sedang menuju kesini.."
Rara pun tersenyum senang berkata dengan sedikit air mata.
"Betulkah?? Yeyy!!! Kakak..."
Sylvia justru telah mengenali bahwa aura itu adalah milik sesuatu dan sesuatu itu membawa Shoji diatasnya! Mengetahui itu, Sylvia tersenyum gembira tidak sabar ingin bertemu dengannya.
"Tuan!!!"
Saat ini, Roxxie dan Ryzen telah membuat persiapan perang untuk melawan Avidite, terdapat Shamp dan Sarah juga disana, benar-benar kesalahpahaman yang menyenangkan!!
Ternyata tindakan yang dilakukan Shoji ini membuat cerita lain, dimana seluruh pasukan Raja Iblis juga ikut campur dalam permainan perang perangan nya.
Abbadon sang Raja iblis pun telah selesai mempersiapkan pasukannya beserta persiapan seluruh para jenderal!
"Kau mulai bergerak ya, Avidite!!!"