TWO VOID: Timeline Shoji

TWO VOID: Timeline Shoji
Dimension Master: Arca dan Golem!



Sementara daerah diluar Dimensinya sedang dalam keributan, Shoji tidak merasakan getaran atau apapun yang terjadi meskipun telah diserang, ini adalah apa yang mereka sebut sebagai "Dimension Master".


Kondisi atau sihir dimana pengguna telah sampai pada tahap akhir kekuatan yang bersangkutan dengan Dimensi.


Pengguna dapat menciptakan suatu Ruang Dimensi khusus miliknya sendiri, memisahkan diri dari dunia luar dan mengambil eksistensi dunia atau wilayah didalam sihirnya menjadi miliknya sendiri, area didalam tidak akan pernah bisa terusik oleh siapapun yang berasal dari luar, bahkan Avenir pernah mempelajari sihir ini namun tidak sesempurna Shoji.


Tidak ada siapapun yang bisa menetralkan sihirnya.


Saking kuatnya, True Dimensional bahkan mampu bertahan dari ledakan bintang-bintang.


Sehingga ruangan didalamnya itu sangat cocok digunakan untuk pembicaraan yang sensitif mengenai para Dewa-dewa dan bahkan mampu menjadi tempat tinggal dimana pun dan kapan pun.


....


"Vide, Tevilla, Tevilli, Avenir, Bommby, Nyranius, Sedna, Azzahiel dan Treaner.. hei, tersisa satu dewa lagi yang belum kau berikan.."


Abaddon belum melakukan apapun namun tiba-tiba Avidite muncul dalam bentuk kecil, seukuran Anjing, Naga seukuran Anjing!


"Eh kau! Kenapa tiba-tiba keluar seperti ini?"


Melihat Avidite yang keluar dari bawah bayangannya Shoji tidak tahu apa yang akan Avidite lakukan.


"Maaf Tuan, ini bukanlah sesuatu hal yang penting.." ucap Avidite dalam bentuk Naga anjing nya, itu Imut!


"Ha?? Katakan saja.."


"Baiklah.. Sebenarnya..."


"Sebenarnya apa?..."


"Sebenarnya aku baru saja mencoba sihir perubahan bentuk seperti ini, aku tidak tahu kalau itu akan membuat ku keluar dari bayanganmu, dan .. m–maaf tuan?"


Avidite melihat Shoji dalam kondisi kedua tangannya ingin mencengkram dirinya.


"Naga berbentuk, tidak.. Naga seukuran Anjing? Diam dan jangan bergerak.."


"O..oke.."


Shoji pun meraih Avidite dan mengelus-elus nya.


"Coba lihat! Aku memiliki sesuatu yang imut dan lembut seperti ini!"


Ucap Shoji sambil memeluk meluk Avidite, seakan seperti memeluk Anjing.


"T—Terimakasih, tuan.."


.


Di dalam True Dimensional milik Shoji, keadaan tenang dan damai. Shoji duduk bersama Avidite yang berubah menjadi bentuk Naga kecil, dan mereka berdua terlihat sangat akrab satu sama lain. Meskipun Shoji adalah seorang manusia dan Avidite adalah seorang Naga Agung, hubungan mereka sangat dekat.


Namun, ketika Abaddon meminta perhatian Shoji, kedua dari mereka memberhentikan permainan mereka dan mendengarkan dengan serius. Abaddon tampaknya memiliki sesuatu yang ingin dia sampaikan.


"Apa itu?" Tanya Shoji dengan wajah serius.


..


"Ekkhem, Shoji.. kurasa ada sesuatu yang harus ku katakan."


Mendengar itu, Shoji dan Avidite berhenti bermain dan mereka duduk berpangku untuk mendengarkan.


"Apa itu?"


..


Abaddon, dalam hatinya, mulai berkomunikasi dengan Astaroth melalui sihir Telepati khusus miliknya. Dia ingin memastikan bahwa pesan ini tidak terdengar oleh siapa pun selain Shoji.


"Apa kau ada di sana?.." Abaddon mencoba menghubungi Astaroth dengan hati-hati.


Tidak ada jawaban segera, tetapi kemudian suara Astaroth muncul dalam pikiran Abaddon. "Ya, aku ada. Apa yang kamu inginkan, Abaddon?"


Abaddon melanjutkan dengan waspada, "ini hanya memastikan saja, kumohon jangan membuat diriku seakan terlihat mencurigai sekutunya sendiri."


"Aku bisa mengerti, lalu? Katakan saja." Tegas Astaroth.


"Masa depan yang hancur itu..... apakah ulah mu?"


Tiba-tiba Abaddon membicarakan sesuatu seperti Masa depan yang hancur! Astaroth berkata dengan nada serius.


"Tidak, meskipun aku bisa melakukannya, aku tidak akan pernah melihat masa depan Orang ini secara langsung, ku rasa ada kekeliruan disini, Abaddon.."


Abaddon tidak tahu apa yang dimaksud Astaroth, kemudian Astaroth mengatakan.


"Kehancuran yang kau maksud itu tidak jelas diartikan untuk siapa dan dimana, jika kehancuran itu terjadi pada pihak Dewa, maka aku bisa memastikannya itu benar, namun apabila sebaliknya... aku ragu."


Abaddon sekali lagi menghela nafasnya sejenak dan dia berkata.


"... begitu ya? Maaf, ini sudah cukup, terimakasih, kau yang dipanggil Astaroth The magic core of the world. "


Setelah selesai berbicara melalui Telepati.


Kemudian, Abaddon kembali fokus pada percakapannya dengan Shoji dan Avidite. Dia menjelaskan bahwa satu dewa tersisa tersebut telah menghilang dan tidak bisa ditemukan oleh siapapun.


"Dewa yang menghilang, aku hanya dapat menjelaskannya seperti itu."


"Apa maksudmu? Dewa yang menghilang? Bagaimana bisa?"


"Meskipun diriku memang memiliki akses informasi ke dunia Surgawi melalui Treaner, dirinya mengatakan padaku bahwa ada seorang Dewa pelayan utama milik Oberster Gott yang menghilang, hanya sampai disitu dan kupikir ini telah cukup."


Abaddon mengakhiri penjelasannya.


Shoji merenung berpikir mengapa Dewa itu menghilang? Shoji khawatir kepadanya sebab.


"Mengalahkan Kesepuluh Dewa dan aku bisa bertemu kembali dengan kakak?! Bagaimana dengan Dewa yang menghilang itu? Sial, ini lebih merepotkan."


Kemudian Astaroth memberikan nasihat kepada Shoji.


"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan."


"Kau benar!"


"Jadi? Apa pembicaraan untuk pemenuhan syarat ini telah selesai?"


"Iya, lagipula Aku sudah merekam semua perkataan mu dengan sihir yang ku ciptakan sendiri, jadi. Aku tidak harus sangat waspada kepadamu, jika kau mengkhianati kepercayaan ku, maka saat itu juga nasib mu beserta para bawahan mu akan ku putuskan~" Setelah mengatakan sesuatu untuk melenyapkan dengan nada ceria, Abaddon merasa Shoji telah berhasil untuk mengintimidasi dirinya.


...


Sementara itu, di luar True Dimensional, keributan dan pertarungan terus berlanjut. Para jenderal iblis berusaha untuk mengatasi serangan-serangan dari para Vacries!


Mereka yang berada di sisi barat yaitu Poro dan William menemukan sesuatu yang aneh.


"Benda itu mengeluarkan energi sihir yang mengganggu, mungkinkah benda itu?"


William dan Poro saat ini sedang bersembunyi di balik pepohonan, dilapisi dengan sihir masing-masing dari mereka.


"William, benda itu memang memiliki konsentrasi sihir yang besar, tapi aku ragu jika itu adalah—"


Belum selesai berbicara, Poro telah mendapatkan serangan dari Benda yang mirip seperti patung itu dan terpental!


"Sialan!!" Ucap Poro yang kesal karena dirinya telah terkena pukulan berat di perutnya.


Benda itu memiliki bentuk seperti arca yang aneh dengan perpaduan antara iblis dan Malaikat.


"Sepertinya kita telah menginjak sebuah ranjau,— menghindar!"


Pukulan demi pukulan dan dikombinasikan dengan kecepatan tinggi, membuat William yang seorang Sniper, serta Poro yang seorang informan tidak cocok untuk mengalahkannya secara langsung.


"Benda besar apa itu bajingan!?" Ucap William


Didalam posisinya, mereka berdua berencana untuk menjaga jarak dari Benda aneh itu.


Namun, sebelum Poro bisa bergerak, William mendengar peringatan dari Poro.


"William belakang mu!"


Dia segera berbalik dan melihat benda besar yang telah disebutkan.


"Hah?—"


Kkkgghhh!!!


Baru saja membalikkan wajahnya, William saat itu terkena pukulan berat di wajahnya, membuat topi kebanggaan dirinya itu hancur.


Ketika ingin berjalan menuju William, Poro lengah dan membuat dirinya mendapatkan tendangan di perutnya.


Mereka berdua pun terpental cukup jauh dengan arah yang sama.


Getaran yang dihasilkan pun cukup membuat seisi hutan berguncang, bahkan Roxxie dan Ryzen juga merasakannya.


Taros berkata "apa itu barusan?!"


Roxxie yang tadinya dalam kondisi berapi-api untuk mengalahkan para Vacries, setelah guncangan yang terjadi beberapa saat lalu, dirinya turun dan berkata kepada Ryzen.


"Kau tahu? Bukan hal yang bagus jika muncul gempa dadakan!"


Melihat Roxxie yang seakan kabur, Vacries dan Valldres menyombongkan diri mereka sendiri, seakan-akan Roxxie telah kalah.


"Kau pecundang! Dan kupikir apakah kau takut oleh Gempa, hah!? Hahahah!!"


Vacries tertawa lepas dan menunjuk-nunjuk Roxxie dengan pedangnya.


Valldres berkata dengan nada yang menjengkelkan didengar bagi Roxxie.


"Ara~ apa kamu takut dengan gempa? Lucunya~."


Saat ini, Vacries dan Valldres sedang tertawa lepas di langit-langit, Ryzen yang heran mengapa Roxxie tidak terprovokasi dengan perilaku mereka pun berkata kepadanya.


"Tidak biasanya, kupikir kau seharusnya terbang dan memberikan pukulan keras di wajah mereka, ada apa Roxxie?"


Dengan tenang, Roxxie menonaktifkan sihir iblis mergeus, dirinya berkata dengan nada tinggi kepada Ryzen.


"Sudah saatnya kau jangan berpura-pura tidak mengetahuinya, Ryzen!"


Ryzen yang sudah tahu akan seperti ini, mengatakan.


"Dan ya, kau betul. Hanya saja aku membiarkan dirimu untuk melepas rasa amarah mu saja kepada mereka, sejak kapan kau menyadarinya?".


Nampaknya terdapat sesuatu rahasia yang Ryzen sembunyikan dari Roxxie..


Roxxie menyilangkan tangannya dan memejamkan matanya kemudian mengatakan.


"Sejak pertama kali aku memukul salah satu dari mereka, saat itu aku merasa bagaimana bisa tubuhnya mengeluarkan suara yang seakan itu seperti suara kayu yang retak?"


Roxxie membuka matanya kembali dan melanjutkan ucapannya.


"Jika itu retakan tulang aku bisa mengerti, tapi."


Roxxie mengeluarkan sesuatu benda dari kantong celananya dan menunjukkan itu kepada Ryzen.


"Benda yang berwarna cokelat dan berserat ini, mereka adalah Boneka!"


Ryzen sebenarnya juga sama dengan Roxxie, pada awalnya dia mengira mereka benar-benar berbahaya, namun ketika Ryzen mengamati Roxxie yang baru saja memukul salah seorang dari para Vallqries, dirinya menyadari bahwa itu bukanlah sosok manusia ataupun makhluk hidup, lebih seperti sebuah Golem yang sedang digerakkan oleh sesuatu.


"Dan kemudian kau juga menyadari hal lain tentang ini pada saat kau melawan mereka berdua, benar?"


Roxxie menjawabnya. "Ya, itulah mengapa aku hanya mencoba-coba hal baru yang ku ketahui dari kekuatan ku, lagipula, sebagai golem. mereka cukup menyebalkan juga, brengsek!."


Tidak sengaja mendengar kata-kata yang Roxxie katakan, Taros semakin tahu bahwa.


"J–jadi, Vallqries yang berada di atas sana itu hanya Golem?! Maksudku, bukankah Golem sejatinya memiliki batasan kekuatan? Namun, mengapa kekuatan mereka cukup hampir setingkat dengan William? Tidak, aku yakin William akan marah mendengar ini, oleh sebab itu, sudah dipastikan bahwa Golem yang berada disana bukanlah Golem biasa! Kekuatan Dewi dari tadi membayang bayang diantara mereka..."


Taros melirik kearah Roxxie dan Ryzen, kemudian dirinya memberikan sedikit ucapan pujian dengan suara kecil.


"Hanya dalam satu momen mereka dapat mengidentifikasi pertarungan.. sungguh luar biasa.."