TWO VOID: Timeline Shoji

TWO VOID: Timeline Shoji
Keistimewaan Pesta



"Tidak boleh ada pertempuran!! Jangan berantem! Ada anak kecil disini! Lagipula kalian kan tidak boleh berantem sama pemimpin kalian! Yaampun, orang dewasa itu merepotkan."


..


"Ara~ lucunya~" kata Saaki dan Sofie yang menghampiri Rara lalu mencubit pipi Rara seperti agar-agar.


"Whoa, awpwa iwni? Hwentikwan, aw"


..


Mergeus merasa bocah itu benar dan tersenyum.


"William, kurasa sampai disitu saja, kau tidak ingin kan jika Raja iblis membentak mu? Saat aku dibentak olehnya tadi, aku merasa sakit di dada.."


William mengeluarkan suara berdecak ketika dia mendengar perkataan Mergeus.


"Tch, baiklah.. aku mengerti.."


William pun menghilangkan pistolnya dan mulai berbaik badan, dan hendak pergi.


Rara yang melihat William ingin pergi, dirinya berteriak kepadanya.


"Jangan pergi!!! Disini ada makanan dan minuman yang enak!!"


William tiba-tiba saja menghentikan langkahnya ketika mendengar minuman yang enak.


"Ayo sini"


"Oi?!"


Rara pergi menuju William dan memegang tangannya kemudian mengajak William ke tempat mereka berpesta.


Ketika mereka berdua mulai pergi, Saaki dan Sofie juga ingin ikut bersama Rara.


"Pesta? aku ikut juga dong~.."


"Saaki, aku juga ingin ikut dong~"


"Ayo sini!! Ada makanan enak!"


"Yeeyy!"


Dan dengan begitu, bukan hanya William saja yang pergi, tetapi Saaki dan Sofie juga.


Roxxie, Ryzen, Sarah dan Shamp sangat bingung, mereka semua terbengong konyol melihat ada bocah yang dengan santainya berinteraksi dengan jenderal iblis.


Sementara Sylvia hanya tertawa sedikit.


Ketika Rara dan William pergi, Taros bertanya kepada Ryzen dengan tatapan ingin mengetahui sesuatu.


"Bocah yang barusan tadi, kalung yang ia kenakan di lehernya, apa itu?"


Ryzen disini menjawabnya.


"Itu adalah kalung yang diberikan oleh Tuan Shoji kepadanya, itu yang dikatakan Rara, apa ada masalah yang menggangu?"


"Tidak, Tidak ada.. terimakasih.."


Didalam hati, Taros berkata mengenai kalungnya Rara.


"Kalung itu menyimpan kekuatan yang kuat, pemuda yang bernama Shoji itu benar-benar memberikan sesuatu yang merepotkan."


Ketika Rara sedang asyik mengajak ketiga jenderal iblis itu untuk mencoba makanan yang ada di dalam pesta, ibunya berlari dengan tatapan khawatir karena anaknya tiba-tiba saja keluar dan dia kerepotan karena mencari Rara di hampir seluruh rumah-rumah.


"Ah~ Rara ku sayang!"


"?! Ibu?"


Ibunya pun segera memeluk Rara, namun saat itu juga dia menyadari bahwa ketiga orang yang bersama dengan Rara ini adalah sesuatu yang buruk untuk di dekati, oleh karena itu dirinya mengatakan kepada Rara untuk jangan ikut campur dalam urusan yang hanya bisa di tuntaskan oleh tuan Shoji.


"Tidak mau Bu! Mereka tidak memukul Rara, mereka berbeda dengan manusia yang ada di kerajaan Durui!"


Rara menolaknya dan dia merasa nyaman berada di sekeliling jenderal iblis.


Saaki memegang pundak Eris, ibunya Rara, dan berkata.


"Mama, jangan kaku begitu, anak ini tidak memiliki masalah apapun, dia justru membiarkan kami memakan sesuatu yang belum pernah ada di dunia ini."


Sambil memasukkan kue Donat ke mulut Eris.


"Uhm?! Apwa iwni??!"


Eris mengunyah donat yang dimasukkan ke dalam mulutnya dengan perasaan senang.


"Lihat, ibu memakan donat, padahal ibu berkata sebelumnya tidak akan memakannya."


Rara tertawa karena melihat ibunya memakan Donat yang dia katakan tidak akan memakannya.


Saaki juga tertawa karena mereka unik.


Sementara itu William menyadari sesuatu yang aneh di tempat ini, dirinya telah menyicipi minuman beralkohol yang ada disini, dan ternyata itu membuatnya merasa membaik, kemudian William juga menyadari bahwa seluruh makanan yang berada di atas meja, rata-rata makanannya memiliki rasa kuat dan enak, berbeda dengan makanan yang William kenal sebelumnya, dia pernah memakan makanan di suatu kota kerajaan manusia, yang ia rasakan justru hambar dan tidak memiliki rasa selain asin, dirinya juga berkeliling dari kerajaan ke kerajaan, desa ke desa untuk mencari rasa makanan yang berbeda, namun yang ia temukan justru tidak membuahkan hasil, mereka semua hanya memiliki rasa asin di makanannya, ini adalah hobby rahasia dari seorang William.


Dan saat ini, dirinya sedang memakan sebuah Sup hangat yang berada di dalam sebuah mangkok.


"Ehm!!? Apa ini?!!"


Sofie melihat ekspresi wajah William yang tersenyum itu merasa heran.


"Makanan panjang dan berkuah! rasa yang kaya, dalam, dan memuaskan, dengan seimbang antara asin, manis, dan umami. Tekstur ini memberikan kontras yang menyenangkan dengan kuah yang halus, dan bahan-bahan tambahan menambahkan lapisan rasa dan tekstur tambahan!!!"


William mengatakan dengan penuh excited!


Sofie mulai terganggu dengan suara seruput yang dikeluarkan dari mulut William, dia pun menghampirinya.


"Berisik!! Lagipula kenapa kamu bisa memakan sesuatu yang mengeluarkan suara seperti itu?!"


William menggertak Sofie


"Diam kau!"


Sofie mulai jengkel dan mengambil mangkuk itu dari William.


"Woi! Apa-apaan itu?! Kembalikan!"


"Tidak mau, wlee!!"


Sofie membuat sihir pembatas dimensi agar William tidak dapat memasukinya.


"Kiehh!!! Brengsekk kau!"


Taros yang melihat itu mengira bahwa William akan berusaha untuk memicu keributan, dirinya pun langsung berpindah instan tepat ke depan wajah William.


"A— ...?


Ryzen dan lainnya terkejut karena Taros bisa sekejap mata muncul berada di depan seseorang


..


dan berkata dengan suara halus dan tegas kepada William.


"Jangan melakukan hal gila, saat ini Yang Mulia tidak memberi perintah apapun untuk membuat keributan."


William kaget dan dia mendorong muka Taros ke depan.


"Woi kedekatan! Kau kan laki-laki!"


Taros pun mundur selangkah dan berkata.


"Betulkah aku laki-laki??"


Setelah mengatakan itu, Taros berubah menjadi sesosok wanita cantik dengan tubuh yang ideal.


William yang melihatnya pun segera berbalik badan dan berkata.


"Sialan, aku tahu kalau dia itu sebenarnya tidak memiliki gender! Tapi itu....."


Sesekali melirik ke arah Taros, setelah itu dia berbicara pelan berbisik-bisik sendiri dan mengomel sendiri.


"Woaah! Tolong. Kau adalah Taros! Kau tetap seorang lelaki dimata ku! Jangan mencoba untuk menipu ku sialan!"


Merasa dirinya telah selesai menghentikan konflik, Taros kembali berubah menjadi bentuk laki-lakinya, sambil menunggu William yang tiba-tiba suram yang terus menerus menggerutu kekecewaannya kepada bentuk Taros.


Sihir pembatas dimensi milik Sofie tiba-tiba menghilang dan Sofie keluar dengan sangat bahagia.


"Apa ini apa ini apa ini apa ini??????"


Dirinya terus menerus mengatakan hal itu sambil memandangi sup miliknya yang tersisa sedikit.


"Apa yang kau ributkan, Sofie?"


"Woah Taros! Cobalah ini! Coba saja!"


Sofie tiba-tiba memaksa Taros untuk memakan sup nya, hingga Taros pun mencium bau yang tidak biasa dan dia mulai menyicipi makanan itu.


"I-INI?!!!"


Dirinya mengembalikan mangkuknya ke Sofie.


"Bagaimana???"


Tepat setelah memakannya, Taros tiba-tiba terdiam tanpa suara.


"Hey hey, bagaimana?? Apakah enak? Enak kan?"


Tidak ada jawaban.


"Taros! Katakan sesu– eh?"


Secara mengejutkan, Taros mengambil mangkuk yang berisi sup itu kembali dan memakannya sampai habis tak tersisa!


Sssluurrppp


Slurppp


Shh


..


"Hey kau bajingan! Kenapa tiba-tiba kau habiskan itu semua?! Aku juga ingin mencoba itu lebih banyak!"


Jelas, itu membuat Sofie merasa kesal.


Mendengar makanan itu telah dihabiskan, William kembali menjadi normal dan tidak murung, kemudian dia berbalik arah sambil menodongkan pistolnya ke kepala Taros yang sudah kekenyangan menghabiskan semua sup miliknya.


"keparat, siapa yang menyuruhmu untuk menghabiskan itu? Hey jawab kau sialan"


Ketika suasananya berubah menjadi sedikit bahaya, Rara menuju ke arah Sofie dan meraih tangannya kemudian berkata.


"Bocah?"


"Jangan berantam lagi, sup itu dibuat oleh tuan Shoji, tuan berkata makanlah sepuasnya nanti juga akan penuh kembali.."


Tanpa memberikan kata-kata apapun, tepat setelah mendengar penjelasan dari Rara, mereka bertiga Taros, William dan Sofie mulai menunjukkan kekonyolan mereka dengan menaruh mangkuk itu di atas meja dan memperhatikannya dengan jongkok didepan meja menunggu apakah sup nya akan terisi kembali.


Saaki yang melihat tingkah konyol mereka hanya bisa berkata.


"Apa sih yang mereka lakukan?"


Setelah menunggu beberapa menit sampai membuat dua jenderal iblis dan satu tangan kanan Raja iblis menunggu seperti ini, akhirnya sup itu telah terisi kembali!


Makanan ini adalah yang pertamakali bagi seluruh kehidupan yang membuat mereka jongkok menunggu selama 5 menit.


Setelah sup itu telah terisi penuh, mereka tidak langsung merampasnya, mereka bersama berdiri, Taros memegang mangkuk utama, sementara William dan Sofie mengambil mangkuk yang ada di sekitarnya untuk dibagi dengan tenang.


"Ini"


Kata William dan Sofie yang menyerahkan mangkuknya kepada Taros.


Melihat situasi diantara mereka sangat tenang tanpa suara keributan yang seperti biasanya, Mergeus, Poro, Olixier dan Ferr'O berjalan bersama untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Kelompok Ryzen yang melihat itu tidak bisa menghentikan mereka, karena mereka tidak memiliki niat untuk menghancurkan sesuatu dan ini Aman.


Setelah William dan Sofie menyerahkan mangkuknya, Taros memisahkan bagiannya dan membagi setengah dari sup itu ke kedua mangkuk milik mereka berdua, hingga terbagi secara adil dan rata.


Ketika telah terbagi sama rata, barulah mereka bertiga berteriak bersama mengatakan.


"SELAMAT MAKAN!!!!"


Para iblis bawahan bahkan jenderal iblis lainnya tidak tahu apa yang mereka katakan.


"SLURPP!!!"


Seruput demi seruput mulai keluar dari suara William.


"Emm~~~ enak sekali~."


Sofie yang mengatakan itu sambil memegang kedua pipinya.


"Lagi-lagi, apa ini?!"


Dan Taros yang mengatakan itu sambil memakan sup nya.


"M..Mereka heboh sendiri.."


Kata Olixier yang tersenyum disatu sisi mulutnya.


Rara yang melihat mereka sangat antusias dengan makanan yang diciptakan oleh tuan Shoji berkata kepada ibunya.


"Lihat ibu! Makanan tuan Shoji sangat ampuh untuk mereka!"


Ibunya tidak tahu harus mengatakan apa dan hanya berkata.


"B—benar, tuan Shoji memang benar-benar baik hati dan hebat."


Rara tersenyum manis kepada ibunya sambil berkata.


"iya! Aku akan menjadi istri tuan!"


Eris sempat kaget dengan ucapan Rara yang barusan, namun dia sudah tidak masalah dengan itu, Eris mengelus rambut Rara dengan halus sambil berkata.


"Untuk itu, Rara harus menjadi wanita yang baik ya, kapan-kapan ibu akan mengajari mu memasak.."


"Terimakasih, Bu"


Suasana bahagia tercipta dari keluarga kecil tersebut yang saling berpelukan.


Benar-benar bahagia, itu yang diucapkan Ferr'O didalam hatinya.


"Hey heyy! Biarkan aku mencoba itu juga dong!"


Mergeus mulai menggoda William untuk mencoba menyicipi sup yang mereka makan dengan sangat menikmati itu.


Seluruh para Jenderal dan iblis iblis rendahan mulai menikmati makanan yang tiada habisnya yang berada di dalam pesta dan mereka mulai bahagia, mereka menciptakan suasana yang meriah dan penuh sorakan.


Ryzen dan Roxxie juga bergabung dengan mereka untuk memberitahukan kepada mereka agar tidak membuat keributan.


Ketika baru saja ingin mengatakan itu, Mergeus melempar air alkohol memabukkan ke arah mulutnya dan memenuhi mulut Roxxie, hingga dia menjadi mabuk saat itu juga.


Untuk saat ini Ryzen tidak merasakan sinyal-sinyal buruk dari mereka, jadi dia bisa setidaknya sedikit santai sambil memakan roti isi cokelat yang berada tepat di meja di sampingnya.


"Halo~ ini aku Sofie~ kamu memiliki bau yang menarik, mungkinkah???? Ehm..... Bisakah kamu menceritakan itu kepadaku?~"


Ryzen tidak menyadarinya jika disana sudah ada Sofie yang duduk dalam keadaaan mabuk, Ryzen berusaha memahami perkataannya itu, hingga dia mendapati kesimpulan bahwa mungkin saja Sofie dapat mengetahui aura sihir milik malaikat Raziel.


"T–Tidak akan, jangan sok akrab seperti itu, tuan Shoji belum memutuskan apa kita kawan atau lawan, dan lagi.... Berhentilah meraba-raba tangan ku sialan!"


Ryzen menolak untuk mengatakannya dan dia mendorong tangan Sofie yang sedari tadi meraba-raba tangannya melulu.


"Kyaaa!~ hey aku wanita loh, rasakan ini!!"


Sofie membalas Ryzen dengan dorongan yang cukup bertenaga hingga membuat Ryzen terpental jatuh membuat salah satu meja rusak terbelah.


"Aduh! Hei! Apakah ini sinyal perang?!"


Tentu saja itu membuat Ryzen sangat jengkel.


Dengan sigap Sofie menghampiri Ryzen dan


memberikan uluran tangannya.


"Maaf, aku tidak sengaja.."


Mendengar perkataan Sofie yang barusan, Ryzen sempat terpana dan sempat terpancing hingga dirinya baru menyadari bahwa Sofie adalah seorang Succubus.


"Tidak perlu"


Ryzen pun menolak uluran tangannya dan bangkit sendiri, padahal yang sebenarnya ingin Sofie lakukan adalah perasaan asli dirinya yang mulai tertarik dengan Ryzen, derita dari para succubus telah dirasakannya.


..


"Ternyata mereka bisa seakrab itu juga ya.."


Kata Sarah sambil menyarung kan kembali pedangnya.


Para warga yang sedang bersembunyi pun mulai tertarik dengan suara-suara meriah, salah satu dari mereka memberanikan diri dan mulai menyelinap keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ketika sudah sampai dan orang itu melihat suasana pesta yang meriah sambil sembunyi-sembunyi dibelakang rumah, Poro tiba-tiba saja muncul dihadapannya dan mengajak bocah Demi-Human setengah kadal itu untuk bergabung bersama mereka, Poro berkata.


"Aku mengetahuinya, jangan bersembunyi seperti itu.."


Bocah itu merasa ketakutan dan tidak bisa mengatakan apapun.


"Benar, ya? Kami para iblis sangat dipandang buruk oleh ras lainnya... Tapi masa bodo, ini aku membawa biskuit yang didalamnya ada susu sapi kesukaan ku, kalian mungkin sudah merasakannya, tapi jika kalian ingin lagi, datanglah semuanya kesini..."


Poro memberikan bocah Demi-Human itu lima biji biskuit dengan ramah.


Bocah yang tadinya tidak bisa mengatakan apapun, dirinya mulai berkata Terimakasih sambil menerimanya, kemudian dia berlari kembali menuju ke pengungsian.


"Tumbuhlah dan menjadi kuatlah, fakta yang hanya diketahui oleh segelintir petinggi saja, Demi-Human adalah saudara jauh kami para iblis.."


Tepat setelah mengatakan itu, Saaki melihat Poro menghilang memudar dan muncul kembali di atas atap bangunan tertinggi di desa itu sambil tidur berbaring menatap langit yang penuh cahaya rembulan.


"Si Poro benar-benar mengatakan sesuatu yang tidak penting.."


Lalu, Saaki berjalan menuju Rara dan meraih tangan mungilnya untuk berkata.


"Terimakasih ya, berkat mu..."


Rara yang tidak bisa memahami terimakasih itu untuk apa, dia mengatakan.


"Terimakasih?"


"Benar, mustahil bagi mereka untuk bisa seakrab itu, kamu anak yang pemberani..."


Kata Saaki sambil mengelus kepala Rara dan dia pergi untuk bergabung bersama dengan jenderal lainnya.


Rara yang tidak mengerti dia ngomong apa, hanya bisa menunjukkan wajah yang berseri-seri dan memegangi kepalanya.


"Kamu benar-benar anak kesayangan ku, Rara"


Kata Eris sambil memberikan kecupan manis di pipi Rara.


Rara tiba-tiba terdiam dan dia merasa aneh dengan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini, tanpa sadar Rara meneteskan air matanya.


...


"?! Hey William! Mau kemana kau?!! Sini minum lagi dengan ku!"


Kata Taros yang telah mabuk mengatakannya kepada William yang tiba-tiba pergi meninggalkan pesta dan menuju Rara.


Melihat Rara yang tiba-tiba menangis, William pergi menujunya dengan membawa sup yang dia makan sebelumnya.


"A... Tuan, maaf jika anakku menganggu.."


Ucap Eris sambil memeluk Rara.


"Tidak, ini.. berikan sup ini kepadanya.."


"Eh?"


"Sudahlah.."


Lalu Eris menerima sup yang diberikan oleh William itu untuk dia berikan kepada Rara.


Rara menerimanya dan memakannya dengan lahap dan dia mulai kembali tersenyum.


Melihat Rara tersenyum, perasaan aneh menghantui William, perasaan yang seperti tidak ingin melihat seseorang menangis, perasaan seperti itu sudah lama menghilang dan dia pergi kembali sambil menurunkan sedikit topi Fedora miliknya hingga menutupi matanya yang sedang berkaca-kaca, inilah iblis yang telah ditetapkan sebagai musuh seluruh kehidupan.


Ketika William sedang berjalan menuju ke kerumunan pesta, dirinya tiba-tiba saja diam sejenak, Rara berteriak memanggilnya dan berkata.


"Terimakasih paman!"


William tiba-tiba saja tersenyum tipis mendapati dirinya dipanggil Paman oleh seorang bocah, lalu dirinya melambaikan tangan kanannya ke atas sebagai ganti untuk merespon perkataan Rara sambil berjalan menuju ke pusat pesta.


Dalam pesta meriah yang sedang terjadi ini, terbesit dalam pikiran Taros yang mengatakan.


"Apa yang sebenarnya Yang Mulia bicarakan dengan orang yang bernama Shoji itu?"