
"Yang Mulia..."
Saat ini, seluruh pasukan Raja iblis Abaddon yang berada disini beserta seluruh jenderal-jenderal nya sedang berlutut dihadapannya.
"William, aku ingin bertanya satu hal padamu.."
Sepertinya Abaddon memiliki pertanyaan kepada William.
"Apa itu? Yang Mulia.."
...
"Apa pendapatmu tentang mereka? Bagaimana pandangan mu terhadap Shoji? Apa kesan mu ketika bertemu dengan mereka para Demi-Human? Dan bagaimana penilaian mu terhadap bawahan Shoji? Angkat kepala mu dan jelaskan kepada ku.."
"Baik, tuan.."
William memberikan informasi dan jawaban yang Raja iblis Abaddon inginkan.
"Tuan Shoji jika harus dikatakan, dirinya adalah seorang yang berwibawa namun disisi lain, entah apa yang ku rasakan saat itu, dirinya seperti kebingungan akan sesuatu dan dari dalam jiwanya aku yakin, dirinya sedang buru-buru entah untuk tujuan apa, mereka para Demi-Human merupakan aset berharga dalam peperangan, kekuatan mereka hanya anda yang mengetahuinya, lalu aku tertarik dengan salah satu bawahan tuan Shoji..."
Ketika mengatakan ini, mata Taros mengarah ke Mergeus, Taros melihat Mergeus seperti ingin mengatakan sesuatu.
Menyadari itu, Mergeus berkata dalam posisi hormat jongkok dan menatap ke Raja iblis.
"Benar juga... Dia, bukan? Yang namanya Roxxie itu? Benar.. tidak salah lagi itu adalah sihir ku, maksudku, aura sihirnya memiliki keselarasan dengan milik ku, jika itu bukan sihir ku, tidak mungkin aku merasa ada sesuatu yang terhubung, tapi.... Aku tidak ingat kapan terakhir kali dan bahkan, apakah aku pernah memberi kekuatan ku kepada manusia begitu saja?..."
Hening sejenak...
Didalam keheningan ini, Poro yang memiliki pengetahuan yang sangat luas mengatakan kepada Mergeus tentang.
"Saat itu, pernah.."
"Apa maksudmu, Poro??"
"..Mergeus, dirimu pernah menerima permintaan manusia dan memberikannya kekuatan, tidak.. aku tidak yakin apa benar-benar seperti itu, tapi, kupikir kalian akan keberatan untuk mengetahuinya, jadi aku tidak akan mengatakannya.."
Abaddon melihat Poro dengan dingin, dirinya mempersilahkan Poro untuk menceritakannya.
"Tidak masalah, Poro... Aku yakin, mata mu yang sangat istimewa itu benar-benar tidak berbohong.."
Mendengar sanjungan yang Abaddon katakan, Poro sedikit tersenyum dan dirinya mulai berdiri sambil menceritakan mengenai bagaimana seorang manusia dapat memiliki kekuatan dari seorang Unifiers.
"Aku akan menceritakannya dalam posisi orang ketiga, dan kekuatan itu pertama kali muncul di pertarungan dirinya melawan salah satu prajurit kerajaan yang bernama Shamp.."
Poro mulai bercerita di hadapan Raja iblis serta mendapatkan perhatian penuh dari jenderal lainnya.
Hening ...
"Kenapa orang itu tiba-tiba diam? Katakanlah.."
"Benar-benar aneh pria itu.."
Sofie dan Saaki mulai menyinyir Poro secara berbisik-bisik.
Tiba-tiba saja, mereka para jenderal iblis semuanya, mendapatkan penglihatan nyata dari apa yang akan Poro katakan.
"A—Apa ini?"
Ini pertamakali nya bagi William untuk melihat sihir Poro yang seperti ini.
Seperti semacam sihir proyeksi layar yang muncul didalam masing-masing kepala Jenderal iblis lainnya.
"Visioekter.. adalah sihir yang memproyeksikan gambar dari ingatan atau penglihatan yang aku miliki, dan mari kita mulai..."
....
Dahulu, Ayahnya adalah seorang mantan pangeran yang kabur dari kerajaan tak bernama kemudian dirinya menikahi seorang gadis pedesaan, selama tiga tahun mereka menjalani cinta, akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menikah dan memiliki satu orang anak, didalam kehidupannya mereka adalah keluarga yang bahagia, mereka tinggal di sebuah rumah yang tidak begitu mewah dan sangat sederhana, para penduduk sekitar juga memiliki kedekatan yang baik dengan keluarga mereka, sampai suatu hari ketika pasukan Ayahnya telah menemukan sang Pangeran yang telah kabur..
".. Bocah itu ada disekitar desa ini.."
sang Ayah pun segera memberikan perintah penghancuran terhadap pedesaan yang selama ini ditempati Pangeran
".. !!segera periksakan satu persatu rumah dan bunuh siapapun yang menghalangi!!!..."
Saat itu tepat setahun setelah Roxxie terlahir, .. Pedesaan tersebut telah dihancurkan! Banyak warga tak bersalah juga menjadi korban.
Melihat tindakan anarkis dan barbar yang diciptakan oleh pasukan kerajaan tersebut dari dalam bangunan kecil, membuat ibu Roxxie bernama Fietra ketakutan...
".. istriku, tenanglah... Aku akan selalu bersamamu dan akan selamanya bersama Roxxie!.."
".. apa yang harus kita lakukan!? Sudah hampir lima jam kita bersembunyi! Roxxie telah menangis dan sepertinya ia kelaparan... Makanan.... Kita membutuhkan makanan !!..."
Kata Fietra sambil memegang kedua lengan Ragus yang panik melihat Roxxie anaknya kelaparan..
Melihat kondisi keluarganya akan segera hancur, Ragus berinisiatif untuk menyerahkan diri dan membuat permohonan perlindungan keluarganya terhadap ayahnya..
".. ?! Mau pergi kemana kau, Ragus? "
".. yang mereka inginkan adalah aku, kalian hanya cukup berada disini dan tunggu saja.. aku akan mendapatkan makanan!.."
Ragus pun segera pergi untuk menyerahkan diri...
"..t..tunggu, Ragus!..."
Fietra tidak dapat mengejar Ragus, tidak lebih mengejar... Berdiri pun sudah tidak bisa..
Pada akhirnya Ragus pun telah tertangkap oleh ayahnya..
".. anak kurang ajar! seharusnya kau paham siapa dirimu! dan lagi, selama ini sepertinya kau telah memiliki keluarga, bukan?!..."
".. b.. benar, mengenai itu ayah... Izinkan aku membawa makanan untuk mereka..."
".. dimana mereka, keluarga mu?..."
".. ........."
Ragus tidak dapat menjawabnya.
".. ada apa? Kau terlihat kelaparan... hmm... Bukankah kau menginginkan roti ini?.."
Kata Ayah Ragus sambil memegang sepotong Roti yang panjang...
".. i...itu..."
Ragus dalam keraguan, dirinya berpikir jika menerima Roti tersebut maka itu sama saja telah menyerahkan diri, didalam hati Ragus berkata..
".. lantas kenapa?! Aku akan menyerahkan diriku dan kembali menjadi boneka darinya! Aku tidak peduli selama Fietra dan Roxxie dapat hidup!..."
Ragus pun segera mengambil Roti panjang tersebut dari tangan ayahnya...
".. sudah diputuskan, pergilah temui mereka...."
Ucap sang Raja yang setelahnya ia melirik salah satu prajurit untuk mengikuti Ragus..
Ragus pun segera berlari menuju ke tempat persembunyian Fietra dan Roxxie..
".. Fietra!! Ini.. makanlah!!..."
"..r..Ragus! Roti ini..... Apakah kamu benar-benar akan..- " Ucap Fietra sambil menangis...
".. ya.. benar, untuk sementara waktu kita akan berpisah dan aku sesekali akan menemui kalian.. sesekali....."
...
Setelah itu Fietra pun segera memberikan potongan potongan kecil Roti tersebut kepada Roxxie, ...mereka pun memakannya... dan Roxxie telah tertidur...
..
"... Kalau begitu..... Selamat tinggal, Fietra, Roxxie...." mencium dahi Fietra dan Roxxie, Ucapan selamat tinggal dari Ragus..
"..Eh?.."
" Ada apa, Fietra?..."
Tiba-tiba Fietra gemetar ketakutan!
".. ada apa dibelakang ku?..."
"..T..tidak, Ragus... Larilah! Kumohon lari dan selamatk-!..."
....
..
".. h–ha?..."
Didepan Ragus, kepala Fietra tiba-tiba terpotong!
Ragus menengok ke belakang melihat ada satu prajurit yang telah memenggal kepala Fietra, Ragus terdiam, mendadak segala rasa kesedihan dan kemarahan tercampur, Ragus memegang kepala Fietra dan menciumnya dari bibir ke bibir, tidak ada kata pun yang keluar dari mulutnya, Ragus hanya menangis dan menangis...
".. pangeran, mari ikut saya.."
Ketika Prajurit tersebut ingin memegang tangan Ragus, Ragus membelok kemudian berkata...
"..Ku Bunuh kau!!!.."
Ragus pun membunuh prajurit tersebut dengan satu serangan tepat di lehernya! Ia mencabik-cabik leher prajurit tersebut dengan pisau!..
Sambil merasa sedih dan menangis, Ragus membawa Roxxie yang masih tertidur untuk kabur bersamanya.
"... Ragus!!! Apa yang kau lakukan bocah bodoh!!!kejar dia!! Seluruh pasukan kejar Ragus!!!..."
..
Selama tiga jam Ragus dalam pengejaran Sang Raja, setelah pergi jauh memasuki hutan dan wilayah antah berantah pada akhirnya dirinya pun lolos dari kejaran mereka dan Ragus pun membangun rumahnya kembali di dalam Hutan antah berantah tersebut...
Setelah tujuh tahun dari kejadian mengerikan itu, Roxxie telah berumur delapan tahun dan dirinya belum pernah mengetahui wajah asli sang ibu, terkadang Roxxie juga bertanya kepada Ragus tetapi Ragus tidak menjawab pertanyaan....
Alasan mengapa Roxxie tidak mampu mengingat wajah sang ibu karena Ragus telah menggunakan sihir melupakan ingatan kepada Roxxie, hal ini dilakukan agar Roxxie tidak sedih mengingat ibunya dipenggal kepalanya.
Hingga pada titik dimana Ragus harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap ibunya, sambil memegang kedua sisi lengan kanan dan kiri Roxxie, Ragus pun berkata...
".. dengar Roxxie, tujuh tahun yang lalu ketika umurmu masih setahun, ibu mu telah tiada... Dirinya telah terbunuh oleh pasukan kerajaan yang tidak diketahui.... Maaf.. maaf karena selama ini aku menyembunyikannya dari mu..."
"..I.. ibu!..."
Mendengar itu Roxxie pun menangis sejadi-jadinya..
".. maafkan aku..."
Ragus pun ikut menangis..
Ragus tidak menjelaskan tentang bagaimana ibunya dibunuh, dirinya hanya mengatakan kepada Roxxie bahwa mereka para pasukan kerajaan menyerang desa dan mulai membunuh secara barbar.
...
Dan ini adalah titik dimana Roxxie telah menanamkan rasa kebencian terdalam terhadap para prajurit kerajaan, terutama mereka yang membunuh seseorang yang tak bersalah...
Pada akhirnya... pria bernama Ragus tersebut dalam malam yang gelap dan dingin, dirinya telah melakukan sebuah ritual pemanggilan iblis, apa tujuan ia melakukan itu? Karena bertujuan untuk memberikan sebuah peninggalan perlindungan terhadap Roxxie.
Itu berarti kesepakatan yang Ragus tawarkan adalah nyawanya, tetapi sebelum Ragus mendapatkan Mergeus sebagai iblis yang dipanggil, Ragus telah gagal sebanyak sembilan belas kali, itu menyebabkan tubuh nya lemas karena kekurangan sihir sehingga ia harus mengorbankan sepasang matanya...
Pada percobaan terakhir ini akhirnya Ragus berhasil!
Lingkaran sihir tersebut menyala dan Mergeus pun keluar dari dalamnya sambil berkata...
".. sungguh perjuangan yang mengerikan untuk seorang manusia.... setidaknya akan ku dengarkan apa yang membuatmu berjuang hingga seperti ini...."
Ragus yang telah lemas kehabisan mana pun mengatakan ..
".. satu... Satu permintaan untuk satu nyawa ku... Kumohon berikan anakku perlindungan mu, iblis..."
Mendengar itu membuat Mergeus tergelitik..
".. Hahaha, kukira semacam permintaan menjadi yang terkuat ternyata aku salah.... Ini demi anak mu? Apa kau serius?... Baiklah, satu nyawa adalah satu kesepakatan, berarti ini adalah kontak sementara yang jika kesepakatan tersebut telah berlaku maka akan selesai.... Benar? "
Mendengar penjelasan Mergeus yang sepertinya ia telah salah paham akan sesuatu...
"..benar tetapi... aku tidak ingin dirimu.. tetapi kekuatan mu!.. hanya kekuatan mu saja, gunakan satu kesempatan kekuatan mu untuk menyelamatkan nyawa anakku di kemudian hari..."
Mergeus melihat ke arah Ragus yang sedang tergeletak dibawah lantai kayu sambil berkata...
"... Kau.... .. ... Baiklah... Tidak ada seorang ayah yang bodoh mengorbankan nyawanya demi mendapatkan kesepakatan dengan iblis... Kau yang pertama HWHAAHAHAHA!!"
Tubuh Mergeus dan Ragus pun bercahaya menandakan kesepakatan telah terjalin dengan nyawa Ragus sebagai bayarannya...
Mergeus pun menghilang dan di pagi hari adalah waktu dimana Roxxie telah kehilangan sang ayah..
...
"Sudah selesai, kira-kira seperti itulah, bagaimana menurutmu Mergeus?"
Kembali dengan cerita utama, Mergeus yang tidak mengira dirinya pernah melakukan hal semacam itu merasa aneh.
"Begitu ya? Ahahaha!!! Menarik..."
Tiba-tiba saja Mergeus tersenyum tipis berkata dengan suara pelan.
"Sepertinya anak itu memiliki bakat untuk memiliki kekuatan yang telah ia gunakan, tidak peduli seberapa besar kekuatan itu.."
Ucap Sofie.
Melihat semua terutama Mergeus telah selesai untuk mengetahui asal usul pancaran kekuatan besar dari Roxxie, Abaddon segera mengalihkan topiknya.
Abaddon memerintahkan seluruh jenderal untuk membuat Barrier dari masing-masing variasi kekuatan yang mereka miliki.
"Buatlah sebuah Barrier terkuat di sekitar desa ini, dan kau, akan menjadi pemimpin di desa ini sekaligus perwakilan dari para Demi-Human.. Qeryz.."
Tanpa disangka, dari bawah tanah tepat di samping Abaddon berdiri, muncullah Qeryz yang diketahui telah mati ketika melalui ujian Taros sebelumnya, Qeryz dibangkitkan kembali oleh Abaddon!
Seketika hal itu membuat mereka para jenderal terkejut, terutama Olixier.
"Qeryz?!"
...