
Hanya butuh waktu seminggu untuk masa pemulihan Ethel, lelaki itu sudah diperbolehkan pulang dan untuk sementara Ethel tinggal di mansion kedua orang tuanya.
Semenjak sadar dari koma, Ethel berubah seratus delapan puluh derajat. Lelaki itu lebih bijak dan dewasa bahkan saat mendengar kehamilan Jesa, dia terlihat begitu tenang.
"Jadi, kau sekarang istriku?" tanya Ethel pada Jesa.
"Mungkin hanya secara negara saja," jawab Jesa malu.
"Setelah aku sembuh total, aku pasti akan menikahimu dengan cara yang benar," ucap Ethel serius.
Tipe Jesa memang lelaki dewasa dan bisa membimbingnya tapi entah kenapa Jesa tidak terbiasa dengan Ethel yang baru, dia merindukan Ethel yang dulu.
"Aku menunggunya," balas Jesa.
Keenan sendiri sampai bingung dengan sikap Ethel, dia sampai curiga ini hanya taktik anak itu supaya cepat diangkat menjadi presdir.
"Kau pasti berakting, 'kan?" tuduhnya.
Ethel membuang nafasnya kasar. "Aku hampir mati jadi tidak mungkin ada pikiran ke arah situ. Dewasalah sedikit, Dad!"
"Astaga, Ethel kerasukan setan rumah sakit. Cepat panggil orang yang bisa mengusir setan itu!" Keenan masih tidak percaya.
...***...
Karena keadaan Ethel terus membaik, Tessa mulai mempersiapkan acara pernikahan. Dia tidak sendirian karena Gretel yang sudah resign ikut membantu.
"Bukankah kau masih mabuk jadi biar mommy saja yang mengurus," ucap Tessa. Dia tidak mau putrinya kelelahan, itu berlaku juga untuk Jesa.
Kedua ibu hamil itu begitu dimanjakan, mereka hanya perlu menjaga kehamilannya saja.
"Aku muntah terus, apa itu wajar, Mom? Aku lihat kakak ipar tidak mengalaminya," keluh Gretel. Dia sampai harus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mualnya yang tidak tertahankan.
"Itu wajar karena masih trimester pertama nanti kalau sudah memasuki trimester kedua pasti rasa mualnya hilang, justru sebaliknya nafsu makanmu akan bertambah dari biasanya," jelas Tessa.
Setiap malam, Hansel selalu mengusap perutnya, sepertinya lelaki itu juga tidak sabar.
Hansel begitu sibuk karena bisnis propertinya mulai berkembang jadi waktu bersama istrinya, dia gunakan sebaik-baiknya.
Lain hal dengan Ethel yang justru menghindari Jesa dan hal itu membuat Jesa menceritakan pada Gretel serta Tessa.
"Ethel yang sekarang kan memang bukan Ethel yang dulu," tanggap Gretel.
"Aku tidak terbiasa dengan sikapnya sekarang," keluh Jesa.
Jesa tidak tahu kalau Ethel memang sengaja menghindari perempuan itu karena takut akan menyerang Jesa, dia selalu mengingat wajah Mochi saat koma jadi dia tidak mau menambahi adonan. Adonan Mochi sudah sangat pas.
Hari terus berlalu sampai hari pernikahan pun tiba, pernikahan Ethel dan Jesa lebih mewah dari pada Gretel dulu karena persiapan yang matang.
Mempelai pria dan wanita juga terlihat bahagia karena mereka bukan menikah secara paksa.
"Rasanya aku ingin mengulang pernikahan kita," komentar Gretel.
"Jangan membuatku merasa bersalah," balas Hansel.
Mereka tengah duduk dan menunggu mempelai wanita datang.
"Tapi, aku sekarang bahagia. Jadi, tidak masalah," ucap Gretel lagi.
Tak lama Jesa keluar bersama dengan Keenan dan kakek yang mengantar perempuan itu pada suaminya.
Ethel yang melihat istrinya datang sekuat tenaga bersikap tenang. Dia harus mempertahankan jiwa laki-lakinya.
Namun, tubuhnya berkhianat, lightsabernya on saat melihat Jesa yang cantik.
"Dasar pengkhianat!" umpatnya dalam hati.