
Gretel senyum-senyum sendiri dalam perjalanan pulang. Dia terus terbayang Hansel yang menciumnya padahal mereka ada di tempat umum dan disaksikan oleh beberapa staff.
Wajah gadis itu masih merona apalagi Boy dan lainnya bertepuk tangan tadi.
"Bagaimana rasanya kalau sampai kami membuat anak?" gumam Gretel yang kembali berfantasi nakal.
"Poin kebajikanku mulai terisi," sambungnya.
Gretel kemudian bersenandung, dia menambah laju mobilnya supaya sampai duluan. Karena dia dan Hansel memakai mobil masing-masing tentu saja mereka pulang terpisah.
Tapi, Hansel berada tepat di belakang Gretel. Laki-laki itu tampak gusar karena Gretel yang membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata begitu.
"Gree..." panggil Hansel saat mereka sampai di parkiran basement.
Hansel mempercepat langkahnya karena Gretel sudah di depan lift yang ada di parkiran itu.
"Lain kali kau harus mengurangi kecepatan mobilmu," ucapnya.
"Kau mengkhawatirkan aku, Suamiku?" tanya Gretel yang tambah tersipu malu.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Sepasang suami istri itu masuk dan keadaan jadi canggung karena tidak ada yang membuka percakapan satu sama lain.
"Daddy ku akan berangkat untuk perjalanan bisnis jadi aku dan Ethel akan bertanggung jawab selama daddy pergi," ucap Gretel memulai membuka suara pada akhirnya. Dia harus menjalin komunikasi yang baik dengan suaminya. "Apa weekend ini kau ada waktu, Suamiku? Selama menikah kita belum berkunjung ke mansion daddy!"
"Apa daddy mengundang kita?" tanya Hansel.
"Ya, sebelum berangkat. Kita diundang makan malam bersama," jawab Gretel.
Hansel tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya weekend ini adalah hari peringatan kematian orang tuaku. Aku akan mengunjungi makam mereka. Apa kau mau ikut? Setelah pulang dari pemakaman, kita akan ke mansion daddy!"
"Tentu saja aku mau!" Gretel refleks langsung merangkul lengan suaminya. Dia tidak menyangka jika Hansel akan mengajaknya.
Gretel akan menganggap bahwa itu adalah kencan pertamanya dengan Hansel.
"Yah, walaupun kencan di pemakaman. Dari pada tidak sama sekali," batin Gretel.
Di sisi lain, Jesa baru terbangun dari tidurnya setelah dia digempur oleh Ethel habis-habisan. Pinggangnya sampai sakit karena dia tidak tahu lagi berapa kali mereka bermain.
Yang Jesa ingat, Ethel terus mendorongnya dan bodohnya dia menikmati hal itu.
"Aku harus pulang sebelum dia bangun," ucap Jesa seraya melirik ke arah sampingnya di mana Ethel masih tertidur.
Pelan-pelan dia turun dari ranjang dan memunguti bajunya yang setengah basah. Jesa memakainya lagi dan segera pergi dari kamar motel itu.
"Aku harus berbicara pada April saat sampai di apartemen," batin Jesa yang tidak berani membuka ponselnya. Pasti April mencoba menghubunginya untuk meminta penjelasan.
Jesa memesan taksi untuk kembali ke apartemen, dia tidak mau ikut memikirkan ban mobil Ethel yang bocor.
Sesampai di gedung apartemen, Jesa bergegas ke kamar unitnya untuk membersihkan diri dahulu.
Dan Ethel yang baru bangun mencari keberadaan Jesa tapi tidak menemukan perempuan itu.
"Di mana dia?" gumamnya.
Ethel mencari handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dia mendapati jika baju dan tas Jesa sudah tidak ada lagi.
"Apa ini?" Ethel menjadi gusar karena merasa Jesa menjadikannya pemuas nafsu semata. "Apa dia mengira aku ini seorang gigolo yang habis manis sepah dibuang?"
"Setelah dia mendesaah keenakan lalu mencampakkan aku!"
_
Dah pulang aja dari pada playing victim, wkwkwk
Ethel emang ngeselin parah ya ges tapi bentar lagi dia bakal bucin dan ngejar2 Jesaš¤
Dan Gretel bakal uwu2an sama mas bojo.
Ikutin terus cerita mereka ya ges ya....