
Jesa sendiri akhirnya mendatangi April untuk meluruskan kejadian sebelumnya. Dia tidak bisa menjelaskan semuanya dari awal jadi Jesa terpaksa mengikuti skenario Ethel.
"Jadi, kau dan Ethel sudah putus?" tanya April memastikan.
"Iya begitulah." Jesa tidak mau membahas masalah Ethel lebih jauh lagi.
"Dilihat dari mana pun kalian memang tidak cocok," sindir April.
"Lebih baik jangan membicarakan masalah pribadi lagi. Aku akan bekerja seperti biasanya," ucap Jesa.
April tersenyum smirk, dia mengambil tumpukan kertas di mejanya kemudian dia lempar ke tubuh Jesa yang membuat kertas-kertas itu berserakan di lantai.
"Foto copy masing-masing sepuluh lembar!" perintahnya dengan arogan.
Tanpa membantah, Jesa menunduk dan memunguti kertas-kertas itu.
"Ingatlah selalu posisimu itu, kau tidak akan pernah pantas bersanding dengan Ethel," sindir April.
Jesa hanya bisa menahan penghinaan itu, dia harus menahan lebih lama karena ada perjanjian yang mengikat mereka.
Dia berharap ke depannya Ethel tidak mengganggunya lagi. Namun, harapannya itu tinggal harapan semu karena tak lama kemudian Pedro datang ke kantor April.
"Ada apa ini?" tanya April bingung.
"Sepertinya anda sudah tahu Nona April, saya datang kemari atas perintah tuan Ethel," jawab Pedro.
Pedro mengeluarkan beberapa dokumen perjanjian atas pelunasan hutang Jesa dan pemecatan gadis itu.
"Saya ingin urusan tidak berbelit supaya cepat selesai atau..." Pedro mengeluarkan pena di saku jasnya.
April yang tahu itu adalah ancaman pemutusan kerja sama mau tidak mau harus melepas Jesa. Dia membubuhkan tanda tangannya.
"Terima kasih atas pengertiannya," ucap Pedro.
Tidak ada sahutan dari April karena dia merasa dibohongi oleh Jesa. Katanya sudah putus tapi ternyata Ethel masih menebusnya.
Sementara Pedro bergegas mencari Jesa untuk dia bawa pergi.
"Siapa ya?" tanya Jesa saat melihat Pedro.
"Jangan bilang ini ulah si manipulatif itu!" seru Jesa yang langsung mengingat wajah Ethel. "Aaaaa... Tidak!!"
...***...
Hansel memeriksa keadaan perusahaannya, dia akan mengikuti saran Gretel untuk meningkatkan promosi supaya penjualan naik dan kondisi bisa stabil kembali.
"Kita harus melakukan rapat dengan devisi pemasaran," ucap Hansel pada asistennya.
"Saya akan mengaturnya, Bos," sahut Boy.
Saat Boy ingin pergi dari ruangan, Hansel menahannya sebentar.
"Kau dan Gree berteman, 'kan?" tanya Hansel tiba-tiba.
"Iya Bos. Ada apa?" Boy bertanya balik. Dia merasa kaget tapi berusaha tetap tenang.
"Apa yang disukainya?" tanya Hansel tanpa memandang Boy. Dia berpura-pura membaca berkas padahal lelaki itu tidak sabar mendengar jawaban dari asistennya.
"Sejauh saya mengenal Gree yang paling dia sukai hanya anda, Bos," jawab Boy jujur.
Hansel tersenyum tipis tapi buru-buru dia memasang wajah datar lagi. "Kalau itu aku juga tahu! Maksudku barang atau apapun yang dia sukai!"
"Apa ya?" Boy jadi berpikir sejenak karena hidup Gretel sudah berkecukupan jadi gadis itu menyukai hal yang sederhana. "Dulu pernah saat study tour dia memborong penjual gulali dan gula-gula kapas untuk dia bagikan, saya rasa Gree suka yang manis-manis!"
"Yang manis-manis?" batin Hansel. Dia memikirkan apa itu. "Apa aku belikan gula saja?"
Kemudian dia menggeleng, kenapa Hansel jadi berpikir seperti itu.
"Kau boleh pergi!" ucap Hansel kemudian.
Hansel menyelesaikan pekerjaan hari ini lebih cepat, sebelum pulang dia mampir ke penjual gula kapas, dia berniat memberikannya pada Gretel.
Namun, saat Hansel tengah menunggu gula kapas itu tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan dari belakang.
"Aku merindukanmu, Babe," ucap Abel yang sebelumnya mengikuti Hansel dari lelaki itu keluar dari perusahaan.