
Sesuai perkiraan hujan kembali turun, Hansel dan Gretel pun jadi kehujanan. Mereka langsung mencari tempat berteduh.
"Kalau cuacanya terus begini, sepertinya kita tidak bisa jalan-jalan di Pulau Borgia. Padahal banyak wisata di sini," ucap Gretel sambil memainkan air hujan di tangannya.
"Sepertinya penerbangan juga bermasalah kalau begini, kita tidak bisa kembali dengan cepat," sahut Hansel.
"Sepertinya alam memang memberi pertanda, Suamiku," ucap Gretel lagi. Dia mendekati Hansel dan mengelus dadanya. "Alam seolah menginginkan kita berada di dalam kamar terus!"
Hansel berdehem, sepertinya setan mesumnya Gretel mulai berbisik.
"Jadi, ayo kita kembali ke hotel! Kali ini aku akan mencoba di atas," ajak Gretel.
"Apa boleh buat," tanggap Hansel.
Akhirnya pasangan suami istri itu menembus hujan untuk kembali ke hotel, keduanya tertawa saat badan mereka basah kuyup.
Malah sempat-sempatnya mereka berdansa dan berciuman di tengah hujan.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Gretel yang ingin tahu bagaimana perasaan suaminya.
"Awalnya aku ragu tapi sekarang aku sudah yakin jika aku mencintaimu, Gree. Aku seperti orang gila saat kau tinggalkan," jawab Hansel.
Gretel melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!"
"Aku akan menyegel janjimu ini!" Hansel mencium bibir istrinya di bawah guyuran hujan.
Badan keduanya sudah dingin jadi mereka kembali ke hotel dan membuat Hero sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
...***...
"Ada apa, Kee?" tegur Tessa yang melihat wajah suaminya tampak tidak baik-baik saja.
"Ethel semakin bertingkah, dia tidak mau menikahi Jesa. Kau tahu kan mereka tinggal bersama," ucap Keenan sambil memejamkan matanya. "Rasanya aku sudah menyerah, Sayang!"
"Biar aku yang bicara padanya nanti," balas Tessa sambil memeluk suaminya. Dia masih mengingat momen mereka saat honeymoon.
Pasti Ethel dan Jesa sedang panas-panasnya seperti itu sekarang. Tidak bisa dibiarkan, Ethel tidak bisa bertindak sesuka hatinya.
"Mom," panggil Ethel yang datang sambil membawa bucket bunga. "Kenapa memintaku datang kemari?"
"Duduk dulu!" Tessa menerima bucket bunga dari Ethel kemudian meletakkannya di meja.
"Hanya kita berdua?" tanya Ethel.
Tidak ada jawaban sampai Tessa memperlihatkan beberapa foto perempuan.
"Mommy sudah memeriksa profil mereka, latar belakang mereka semua baik," ucapnya.
Ethel mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, Mom? Aku sudah mempunyai Jesa!"
"Oh, begitu. Apa status Jesa sekarang? Kekasih, istri, atau teman tidur?" tanya Tessa.
"Jesa adalah cintaku, dia teman hidupku," jawab Ethel.
Tessa menganggukkan kepalanya. "Jadi teman hidup tanpa ikatan? Jadi sewaktu-waktu bisa saja di antara kalian akan saling meninggalkan!"
"Tidak, Jesa akan selalu bersamaku," ucap Ethel jadi kesal sendiri. "Kalau mommy hanya membicarakan hal seperti ini, aku akan pergi!"
"Pergilah! Karena mulai sekarang aku tidak menganggapmu anak lagi, aku tidak mau mempunyai anak yang tidak bisa bertanggung jawab sepertimu. Saat kau mempunyai anak nanti aku tidak akan mengakuinya sebagai cucu dan sebaiknya kau tidak perlu kembali ke kantor karena mulai sekarang kau diberhentikan secara tidak hormat!" tegas Tessa.
"Mom..." protes Ethel.
Namun, Tessa sudah pada keputusannya.
"Sekarang kau bisa hidup sesuka hatimu," ucap Tessa sambil berlalu pergi.
Ethel tentu saja tidak percaya, dia berusaha mengejar sang mommy.
"Mom, dengarkan aku dulu!" pinta Ethel.
Tessa tetap melangkah menuju mobil yang menunggunya.
"Jika anak itu datang ke mansion, usir dia!" perintah Tessa pada supir pribadinya.