
Malam itu, Gretel tidak bisa tidur karena kesenangan akan berkencan dengan suaminya apalagi Hansel tidak menghindarinya lagi.
Hansel tidur tepat di sampingnya yang membuat Gretel dengan leluasa memandangi wajah suaminya itu.
Tak lama terdengar bunyi getaran ponsel di atas nakas. Ponsel Hansel yang memang dalam mode getar mendapat panggilan.
Gretel pikir itu panggilan dari Boy tapi ketika Gretel lihat itu ternyata panggilan dengan nama kontak Abel.
"Dasar pengganggu!" gerutu Gretel seraya menerima panggilan itu.
Gadis itu hanya diam saja karena ingin mendengar Abel berbicara apa.
"Babe? Akhirnya kau menjawab panggilanku juga, aku merindukanmu..." Abel tampak menangis di panggilan itu. "Kenapa kau susah dihubungi?"
"Kau bilang akan menceraikan istrimu tapi kenapa menghindariku?"
Tangisan Abel semakin menjadi-jadi di sana dan Gretel sangat muak mendengarnya.
"Aku sakit, aku harap kau datang menemuiku..."
Sepertinya Gretel tidak bisa menahan diri lagi jadi gadis itu akhirnya bersuara juga.
"Kalau kau sakit, aku akan mengirimkan dokter pribadiku. Suamiku bukan dokter jadi jangan memintanya datang!" tegas Gretel.
Abel tentu saja kaget karena sadar sedari tadi Gretel lah yang menerima panggilan darinya.
"Mana Hansel? Kenapa ponselnya ada padamu?" cecar Abel kemudian.
"Suamiku kelelahan karena kami baru saja membuat anak," sahut Gretel dengan santai.
"Aku yakin kau itu hanya memprovokasiku, Hansel tidak mungkin menyentuhmu!" seru Abel percaya diri.
"Oh iya? Hubungi saja staff IT yang ada di perusahaan suamiku dan tanya pada mereka, bagaimana hubunganku dengan suamiku!" tantang Gretel. Ternyata adegan ciuman itu sangat menguntungkan dirinya.
Merasa kalah dan ingin memastikan, Abel pun mematikan panggilan itu.
Bukannya dia jahat karena telah merebut Hansel dari Abel tapi dari penyelidikan yang dia lakukan, Abel tidak sebaik itu. Dia selalu memanfaatkan Hansel karena merasa Hansel mempunyai balas budi pada orang tua Abel.
Dulu setelah orang tua Hansel meninggal, orang tua Abel lah yang merawat lelaki itu dan mengajarinya mengurus perusahaan peninggalan orang tuanya.
Dari situ Abel dan Hansel saling mengenal dan dekat. Hanya Hansel yang tahu bagaimana perasaanya pada Abel, entah itu rasa balas budi atau cinta.
"Kalau dipikir-pikir, aku tidak jauh beda dengan Abel," gumam Gretel.
"Tapi, ada di mana orang tua Abel saat perusahaan suamiku akan bangkrut? Kenapa suamiku mau menerima tawaran daddy?"
Gretel baru terpikir hal itu sekarang dan hanya Hansel yang bisa memberi jawaban.
"Gree..." panggil Hansel yang terbangun. Dia tidak mendapati istrinya dan ternyata gadis itu tengah melamun di balkon.
"Kau bangun, Suamiku?" Gretel menutup pintu balkon dan kembali naik ke atas ranjang.
Hansel menatap Gretel kemudian perlahan memeluk gadis itu.
"Apa kau mimpi buruk, Suamiku?" tanya Gretel setenang mungkin. Padahal dalam hatinya dia menjerit karena Hansel yang memeluknya.
Jantung Gretel semakin berdebar-debar tapi dia tidak boleh menunjukkan semua itu terlalu semangat atau semua akan kacau.
"Aku selalu mimpi buruk setiap upacara kematian orang tuaku tiba," ungkap Hansel yang baru saja bermimpi kecelakaan yang menewaskan orang tuanya.
Tangan Gretel terulur mengelus punggung suaminya.
"Ada aku di sini, Suamiku. Semua akan baik-baik saja," ucap Gretel berusaha menghibur. Ini adalah kemajuan besar karena Hansel sudah mau terbuka padanya.
Cium! Cium! Cium!
Setan mesum di kepala Gretel sudah berdemo tapi Gretel langsung mengusir mereka.
Pergilah kalian! Aku sedang menahan diri!