
Dengan kondisi basah kuyup akhirnya Ethel mencari hotel tapi sayangnya hanya ada motel yang dekat dengan posisi mereka.
"Apa boleh buat," ucap Ethel seraya memesan salah satu kamar motel.
Ethel tidak biasa menggunakan kunci manual, dia biasa menggunakan pass card atau kunci bersandi jadi lelaki itu tampak kewalahan saat membuka pintu.
"Begini caranya!" Jesa yang tidak tahan ingin membantu Ethel membuka pintu, tangannya menggenggam tangan lelaki itu dan mencoba membantu memutar kunci.
"Sepertinya kau sudah tidak tahan, ya. Kau terus menggoda laki-laki muda sepertiku," komentar Ethel karena mendapat perlakuan seperti itu.
Tenang... Tenang...
Diam lebih baik menghadapi manusia manipulatif seperti ini
Jesa mencoba tidak membalas perkataan Ethel, dia akan memperjelas hubungan mereka dan berharap akan berakhir hari ini juga. Hidupnya sudah sulit, dia tidak mau bertambah sulit lagi.
Pintu pun akhirnya terbuka tapi Ethel tidak memberi Jesa kesempatan berbicara, Ethel merapatkan tubuh Jesa ke dinding dan langsung menyambar bibir perempuan itu.
Terjadi pergulatan lidah di sana, dua amatiran yang mencoba belajar caranya berciuman dengan benar.
"Kau ternyata tidak bisa menahan diri, ya," ucap Ethel setelah melepas ciumannya.
"Kau yang menyerangku duluan," protes Jesa. Dia merutuki kebodohannya yang membalas ciuman lelaki itu.
"Tidak usah malu-malu, kau juga mau, 'kan? Jujurlah kalau kau teringat terus tentang kejadian malam itu," tuntut Ethel.
Kalau untuk urusan itu memang Jesa selalu teringat tapi dia tidak mau ambil pusing.
"Aku bisa menuntutmu karena kasus pelecehan tapi hal itu tidak akan aku lakukan justru aku membebaskanmu dari April," lanjut Ethel.
"Kau mencari informasi tentangku?" tanya Jesa.
"Tunggu dulu--" Jesa berusaha menahan wajah Ethel yang akan mendekat lagi padanya.
"Apa lagi? Kita dalam situasi genting sekarang!" Ethel menunjuk celananya yang menonjol, rupanya lightsaber tidak bisa kembali tidur sedari tadi.
"Maka dari itu, kita harus memperjelas semuanya. Aku menolak untuk menjadi asistenmu dan untuk malam itu, kita lupakan saja. Kalau kita bertemu, anggap kita tidak saling mengenal," ucap Jesa supaya hubungannya dengan Ethel jadi jelas. Dia akan memaklumi jika Ethel adalah laki-laki yang masih labil.
Mendengar itu, Ethel memicingkan matanya pada Jesa. Dia merasa dipermainkan oleh perempuan itu.
"Pertama, kau mengambil keperjakaanku. Kedua, kau menggodaku dan tidak mau bertanggung jawab. Ketiga, kau main tarik ulur sekarang. Kau membuatku bingung," ucap Ethel.
Lelaki yang merasa menjadi korban itu langsung terduduk lesu, dia tidak menyangka akan dicampakkan.
"Jangan mendramatisir keadaan, aku juga kehilangan kesucianku tapi aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku bisa menabung dan operasi virgin kalau aku mau menikah jadi aku rasa impas," ucap Jesa yang kekeh ingin mengakhiri hubungan tidak jelasnya bersama Ethel.
Jesa pun kembali meraih jas Ethel dan memakainya lagi. "Aku pinjam dulu, ya. Nanti akan aku kembalikan!"
Saat perempuan itu membalik badannya, dia mendengar suara isak tangis dari Ethel yang membuatnya berhenti melangkah.
Jesa berjongkok dan meraup wajah Ethel yang banjir dengan air mata. "Kenapa menangis? Kita bukan sepasang kekasih, kita hanya dua orang yang tidak sengaja melakukan one night stand!"
Untuk perpisahan mereka, Jesa akhirnya memeluk Ethel supaya lelaki itu tenang. Jujur saja wajah Ethel sangat menggemaskan, sekarang wajah menggemaskan itu terbenam di dadanya.
"Kau mulai menggodaku lagi, aku tidak akan memberimu ampun!" Ethel berdiri dan menggendong Jesa lalu dia naikkan tubuh itu ke atas ranjang.
"Kali ini kau harus bertanggung jawab!"
Ethel langsung membuka seluruh pakaiannya di depan Jesa.
"Aaaa.... Aaaa...." Jesa berteriak karena melihat lightsaber Ethel.