
Sesuai perkataan Hansel, lelaki itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan terkadang Hansel sampai pulang larut malam atau tidak pulang.
Karena Hansel harus memperbaiki semuanya dari pabrik, bahan dan pemasaran serta promosi produk propertinya. Hansel ingin mengembalikan nama perusahaan peninggalan orang tuanya.
Sementara suaminya sibuk, Gretel juga menyibukkan diri dengan kelas masaknya dan bekerja. Dia tidak sabar menunggu Ethel naik jabatan supaya Gretel bisa resign dan fokus dengan rumah tangganya saja.
Semenjak Jesa kembali, Ethel mulai serius bekerja. Seperti biasa lelaki itu beranggapan kalau sebentar lagi akan menjadi seorang daddy apalagi Jesa tak kunjung datang bulan.
"Gree, kau harus membantuku untuk memilih keperluan Mochi nanti," pinta Ethel yang datang ke ruangan saudara perempuannya.
Gretel pikir ada masalah apa karena Ethel begitu serius. Ternyata lagi-lagi Ethel memikirkan masalah Mochinya.
"Sebelum itu, sebaiknya kau memikirkan hal lain seperti melamar atau menikahi Jesa. Status Mochi haruslah jelas," balas Gretel.
Ethel langsung menepuk jidatnya tapi mengingat yang sudah-sudah, dia takut ditolak Jesa lagi.
"Kau harus bisa tunjukkan pada Jesa kalau kau itu laki-laki yang keren, aku yakin kalau kau serius bekerja dan tidak memikirkan kematianmu, kau akan bisa memenangkan tender besar dan proyek-proyek baru pasti ada di genggamanmu. Saat itulah Jesa akan tergila-gila padamu," ucap Gretel yang menyemangati saudaranya.
Tanpa Gretel duga, Ethel langsung memeluknya. Kali ini pelukan lelaki itu sebuah pelukan ketulusan.
"Thanks Gree, kau selalu ada untukku. Aku pasti bisa melakukannya dan merebut hati Jesa," ucap Ethel.
"Aku harap kali ini kau lebih serius, okay,"
"Kau pasti akan bisa membuat pabrik bayimu sendiri, Gree,"
"Sebenarnya aku sudah selesai datang bulan hanya saja suamiku sibuk jadi aku tidak mau mengganggu,"
Gretel kemudian melepas pelukannya. "Daddy sebentar lagi pulang jadi aku akan minta cuti karena aku dan Hansel akan pergi bulan madu."
"Bulan madu?" tanya Ethel. Kalau dipikir-pikir saudaranya itu memang butuh suasana romantis. "Kau sudah tahu di mana?"
"Belum, aku belum membicarakannya lebih lanjut dengan Hansel," jawab Gretel.
"Bagaimana kalau pulau Borgia? Kau bisa mengecek sekalian pusat perbelanjaan yang ada di sana," usul Ethel.
"Ish, kau memintaku bulan madu sambil bekerja, ya," protes Gretel seraya memukul lengan saudaranya.
Saat jam makan siang tiba, Gretel mencoba menghubungi suaminya. Gretel memakai panggilan video supaya tahu apa yang dilakukan Hansel.
"Suamiku..." panggil Gretel.
Pada saat itu, Hansel masih sibuk dengan tim promosinya tapi dia menyempatkan diri menerima panggilan dari istrinya.
"Gree..." sahut Hansel seraya menatap istrinya yang tengah berbaring di sofa.
Gretel dengan nakal membuka kancing baju atasnya sampai terlihat belahan dada di sana. "Tiba-tiba aku merasa panas, apa kau sudah makan, Suamiku?"
"Ehem! Tutup itu, Gree..."
"Tutup apa?"
"Itu yang berbelah,"
"Maksudnya ini?" Gretel menggoyangkan buah dadanya.
"Jangan digoyang-goyang begitu,"
"Memangnya kenapa?"
Gretel semakin semangat menggoda Hansel kemudian perempuan itu mendekatkan kameranya dan berbisik.
"Aku sudah selesai datang bulan,"
Deg!
Jantung Hansel langsung berdebar mendengarnya, dia sangat sibuk sampai lupa urusan pembuatan anak.
"Kita dinner romantis di hotel, bagaimana?" tawar Hansel.
Gretel menutup wajahnya malu seraya menganggukkan kepalanya. Akhirnya pancingannya berhasil.