
Hujan semakin deras dan hawa semakin dingin yang membuat Hansel jadi mondar-mandir tidak jelas.
Hansel gelisah tapi Gretel tampaknya masih ingin menyiksa suaminya.
"Aku pergi dulu," pamit Hansel.
Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk keluar dari kamar hotel. Kalau lama-lama bersama Gretel kepalanya bisa pecah.
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Hansel keluar dari kamar.
Gretel awalnya bersikap acuh tapi lama-kelamaan jadi cemas juga, dia takut suaminya melampiaskan hasratnya pada perempuan lain.
"Tidak!!!" teriaknya.
"Suamiku..." Gretel menyusul suaminya dan mencari Hansel. "Ayo kita buka pabriknya sekarang!"
Ternyata Hansel berada di kafe yang ada di hotel, lelaki itu memesan kopi dan memilih memeriksa laporan yang dikirim Boy padanya.
Setidaknya dia akan melupakan hasratnya yang sudah membara.
"Itu dia!" seru Gretel ketika melihat suaminya duduk sendirian sambil berkutat di depan laptop.
Perlahan tapi pasti, Gretel memeluk Hansel dari belakang. Dari aroma tubuh Hansel langsung tahu jika itu adalah istrinya.
"Sudah tidak marah lagi?" tanya Hansel.
"Marah ternyata membuang energiku cukup banyak," jawab Gretel.
"Maafkan aku, Gree. Seharusnya aku tidak mendorongmu, aku hanya tidak ingin kau terkena racun dari Abel. Sekali lagi dia berani mengganggu kita, aku pasti akan melaporkan ke polisi karena Abel sudah melanggar perjanjian," ucap Hansel masih berusaha meyakinkan.
Gretel menghela nafasnya panjang. "Aku tidak mau membahasnya lagi!"
"Aku kedinginan, ayo kembali ke kamar, Suamiku!"
"Ke kamar mau ngapain?" tanya Hansel memancing.
"Itu..." Gretel jadi malu. "Ya sudah kalau tidak mengerti!"
Gretel ingin pergi meninggalkan Hansel tapi ditahan oleh lelaki itu.
"Kita kembali bersama," ucap Hansel seraya menutup laptopnya.
Pasangan suami istri itu pun melangkah bersama meninggalkan kafe untuk menuju kamar mereka.
Hansel mencium Gretel sambil berjalan dan membimbing istrinya duduk di kasur.
Setelah Gretel duduk barulah Hansel membuka baju atasnya.
"Apa aku boleh membukanya, Istriku?" tanya Hansel meminta izin pada Gretel ketika ingin membuka baju istrinya itu.
Gretel mengangguk, Hansel memperlakukannya begitu lembut, lelaki itu membuka helai demi helai bajunya dengan hati-hati.
Tentu saja karena untuk pertama kali bagi istrinya, Hansel ingin memberikan kesan yang penuh kasih sayang supaya malam pertama mereka menjadi tak terlupakan.
Hansel melakukan dengan perlahan, tidak terlalu lambat atau pun terburu-buru. Dia akan membuat Gretel benar-benar siap untuk membuka pabrik.
"Tahan, aku harus melakukan ini supaya tidak terlalu sakit, Istriku," ucap Hansel seraya membuka kaki Gretel dan menunduk di bawah sana.
Gretel langsung meremas seprai, rasanya dia ingin berteriak, rasa aneh dan malu membaur jadi satu.
Untuk menahannya, Gretel menggigit salah satu jarinya.
"Suamiku..." Gretel sepertinya tidak tahan lagi untuk sesi selanjutnya.
Hansel menghentikan pemanasannya, dia kembali mencium bibir istrinya supaya Gretel tidak tegang.
"Rileks saja," ucap Hansel sambil mengecup leher Gretel. "Kalau kau masih tegang, aku akan kesulitan!"
"Apa kau takut?"
Gretel menggeleng. "Aku hanya gugup saja!"
"Awalnya mungkin sakit tapi kalau sudah terbiasa pasti tidak akan sakit lagi," jelas Hansel sambil merubah posisi berlutut karena ingin membuka celananya.
Gretel menelan ludahnya susah payah karena dia akan melihat mesin pembuat anak Hansel untuk pertama kalinya. "Tenang, Gree! Kau harus bersikap biasa saja!"
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya terus berdebar kencang ketika celana Hansel terus turun ke bawah.
_
Maaf baru up ges, othor kemarin2 lagi tamatin cerita othor yang lain jadi baru bisa up yang ini.
Beban othor udah mulai kurang ini jadi bakal up langsung banyak bab gitu ya ges, stay tune and Luv❤😘