
Karena malu, Jesa segera meninggalkan tempat sauna. Perempuan itu masuk ke ruang ganti dan mengambil barang-barang di lokernya.
Pada saat dia memakai baju, Jesa mendengar alarm kebakaran berbunyi. Jesa segera mempercepat ganti baju dan cepat keluar dari sauna.
Ternyata tempat sauna itu kebakaran, semua pengunjung di evakuasi. Jesa mencari keberadaan Ethel di tengah kerumunan.
"Ethel... Ethel..." panggil Jesa yang panik.
Namun, batang hidung lelaki itu tidak ada. Dia mencoba menghubungi Ethel tapi lelaki itu tidak menerima panggilannya.
"Di mana dia?" gumam Jesa. Dia akhirnya bertanya pada para pengunjung laki-laki dan menyebutkan ciri-ciri Ethel.
"Pria telur itu? Tadi kami melihat dia masuk ke ruang ganti!"
Jesa semakin cemas, dia tidak bisa pergi kalau belum melihat Ethel selamat. Dia yang mengajaknya ke sauna jadi dia harus bertanggung jawab.
Pemadam kebakaran belum juga datang, Jesa akhirnya memutuskan untuk masuk kembali ke dalam sauna mencari Ethel.
Jesa berlari ke arah ruang ganti laki-laki, api sudah ada di mana-mana tapi Jesa berusaha terjang.
"Ethel..." panggil Jesa saat sampai. Ruangan itu sudah kosong.
"Apa dia memang sudah kembali? Apa aku terlalu berlebihan!"
Namun, firasatnya itu memang benar adanya. Jesa mendengar gedoran pintu dari arah toilet yang membuat perempuan itu langsung ke sana.
"Siapapun tolong aku!"
Terdengar suara Ethel di sana, Jesa bergegas mendobrak pintu dengan sekuat tenaga tapi pintu tidak kunjung terbuka. Jadi, dia mencoba merusak pintu memakai kapak yang dia ambil di kotak emergency.
BRAK!
Ayunan kesekian kali akhirnya pintu rusak dan Jesa segera membuka pintu itu. Ethel yang ada di dalam langsung memeluk Jesa dengan erat.
"Tolong jangan gila disituasi seperti ini!" geram Jesa.
"Mendengar suara marahmu sepertinya kau memang bukan malaikat," balas Ethel.
Sebelumnya saat Ethel masuk ke toilet untuk buang air kecil tiba-tiba pintu terkunci sendiri. Ternyata pintu toilet itu memang rusak dan tak lama setelah Ethel terkunci terjadilah kebakaran itu.
"Ayo cepat pergi!" Jesa mengajak Ethel keluar karena api semakin membesar dan asap ada di mana-mana.
Ethel berlari mengikuti Jesa sampai ada plafon yang jatuh ke bawah dan tepat ke arah kepala Ethel.
"Awas!" teriak Jesa seraya menarik tangan Ethel supaya tidak terkena reruntuhan dari atas.
Jantung Ethel berpacu dengan cepat, lagi-lagi Jesa menyelamatkan dirinya.
Setelah melalui hal yang membuat adrenalin terpacu itu, Ethel dan Jesa akhirnya berhasil keluar. Mereka berdua segera diberi oksigen oleh para petugas.
Sambil menghirup oksigen, Ethel merenung memikirkan semua kejadian sebelumnya. Bukan kali pertama Jesa menolongnya dari ambang kematian.
"Astaga! Apa Jesa pembawa keberuntungan?" Ethel mulai menyimpulkan sendiri.
Lelaki itu segera mendekati Jesa dan bersimpuh di hadapan perempuan itu. Dia tidak akan melepas Jesa apapun yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan? Please, jangan gila sekarang!" pinta Jesa yang masih menghirup oksigen.
Bukannya berdiri, Ethel justru meraih tangan perempuan itu untuk dia kecup.
"Maafkan aku ya kalau sering membuatmu marah, untuk ke depannya aku akan baik padamu, dewi keberuntunganku!" Ethel tersenyum manis sekali.
Dan hal itu membuat Jesa merinding. "Dewi keberuntungan katanya?"