
Di sebuah rumah sakit, Abel menempati salah satu ruangan VIP setelah melewati beberapa tindakan medis.
Gadis mulai sadarkan diri, saat Abel membuka mata, dia mendapati Hansel yang duduk menunggunya.
"Aku tahu kau akan datang padaku, Babe," ucap Abel seraya tersenyum manis. Tangannya terulur untuk membelai pipi Hansel namun tangan itu langsung ditampik begitu saja oleh lelaki itu.
Abel mengerutkan keningnya karena penolakan Hansel itu. Bukankah Hansel sekarang ada di depannya karena peduli padanya?
"Babe..." panggil Abel.
"Jangan pernah memanggilku seperti itu!" geram Hansel dengan tatapan galak. "Aku sudah cukup bersabar padamu!"
"Tapi kau justru membuat masalah terus menerus bahkan kau nekat meminum racun dan memfitnah istriku. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Gretel, aku tidak akan memaafkanmu," tambah Hansel.
Tujuan Hansel mendorong Gretel memang untuk menjauhkan istrinya itu dari Abel supaya darah yang keluar dari mulut Abel tidak mengenai Gretel.
Namun, terlihat sepintas memang seperti Hansel mempercayai drama yang dibuat oleh Abel dan papanya.
"Ini yang terakhir Abel jika kau begini lagi, aku tidak segan-segan akan menjebloskanmu ke penjara!"
Setelah berkata seperti itu, Hansel pergi meninggalkan ruang Abel dirawat. Dia harus cepat kembali pada istrinya.
Malam pertama mereka jadi berantakan gara-gara insiden ini, Hansel harus memperbaiki semuanya.
"Gree..." Hansel mencoba menghubungi istrinya tapi tidak tersambung.
Hansel jadi bingung antara kembali ke hotel atau pulang ke penthouse, insting Hansel mengatakan jika Gretel kembali pulang.
Buru-buru Hansel naik ke lantai paling atas saat sampai, pada saat itu waktu sudah dini hari. Kalau belum melihat Gretel, hatinya tidak tenang.
"Gree..." panggilnya saat membuka pintu kamar.
Kosong, tidak ada siapapun.
"Apa dia masih di hotel?" gumam Hansel yang ingin kembali ke hotel.
Namun, atensinya teralihkan dengan makanan yang ada di atas meja makan. Ada masakan Gretel dan sebuah pucuk surat.
Untuk Suamiku
Aku sudah berhenti berharap, aku tahu perasaan memang tidak bisa dipaksakan
Aku berpikir kalau suatu hari, kau akan membalas cintaku
Tapi, ternyata aku salah
Jadi, aku sekarang mundur
Surat perceraian akan diurus pengacara keluargaku
Selamat tinggal, Hansel
Hansel langsung meremas surat itu, Gretel telah salah paham padanya.
"Tidak, Gree..." Hansel mengacak rambutnya sambil memandangi masakan istrinya. Masakan itu sudah dingin tapi dari tampilannya pasti Gretel sudah berusaha keras.
Tanpa memperdulikan jam, Hansel bergegas ke apartemen Ethel. Pasti kakak iparnya itu tahu di mana Gretel berada.
Kedatangan Hansel tentu ditolak oleh Ethel, Ethel hanya memandangi wajah panik Hansel dari interkom apartemennya.
Jika, dia keluar pasti Ethel tidak bisa menahan diri untuk menghajar Hansel.
"Apa tidak sebaiknya dibuka saja? Kita bisa mendengarkan dari dua sisi, siapa tahu Gretel salah paham pada suaminya. Dilihat dari wajahnya, dia terlihat panik tanpa dibuat-buat," ucap Jesa yang berdiri di samping Ethel.
"Dia pasti panik karena tidak ada lagi yang akan menyokong perusahaannya. Lihat saja, aku pasti akan membuatnya bangkrut," balas Ethel. Dia masih kesal karena Hansel yang membuat adiknya menangis.
Jesa menggelengkan kepalanya, dia merasa bukan siapa-siapa jadi tidak bisa berbuat banyak hal. Kalau dipikir-pikir dia juga sama halnya dengan Hansel yang seperti memanfaatkan Ethel.
"Ethel..." Hansel mencoba menggedor-gedor pintu sekarang.
Sampai ada beberapa petugas security yang menangkap Hansel dan mengusirnya karena mengganggu penghuni apartemen.