The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 71 - Tidak Tahu Malu



Suara percintaan menggema di dalam kamar mandi, sang suami tampak memegang pinggang sang istri dan terus memacu tubuhnya.


"Akh! Suamiku..." Gretel sudah tidak tahan lagi.


"Bersama!" Hansel semakin mempercepat goyangan pinggulnya.


Sampai terdengar erangan keduanya ketika gelombang kenikmatan itu datang.


Awalnya mereka hanya ingin mandi tapi ternyata mereka saling menggoda. Dan terbukalah pabrik Hero untuk kesekian kalinya.


"Aku ingin makan sup malam ini," ucap Gretel sambil membasuh tubuhnya di bawah pancuran shower.


"Baiklah, setelah ini aku akan memesannya," sahut Hansel.


Keduanya benar-benar tidak keluar kamar setelah main hujan sebelumnya, mereka menggunakan layanan kamar ketika lapar.


Selesai mandi, Hansel menggendong Gretel dan mendudukkan istrinya di pinggir ranjang. Dengan telaten lelaki itu menggosok rambut Gretel yang basah.


Tak lama ponsel Gretel berdering dan Hansel yang mengambil ponsel itu di atas nakas.


"Siapa?"


"Ethel,"


"Mau apa dia?"


"Pasti ingin curhat,"


"Kapan dia akan berhenti melakukannya,"


Walaupun protes Gretel tetap menerima panggilan dari saudaranya itu.


"Kenapa kau selalu mengganggu," kesal Gretel.


Tidak seperti biasanya, Ethel tampak tidak bersemangat saat berbicara.


"Gree, I'm done!" Ethel terdengar seperti putus asa.


"Ada apa lagi?" tanya Gretel tidak terkejut karena sudah terbiasa dengan sikap saudaranya itu.


"Aku jadi gelandangan sekarang," keluh Ethel.


Mendengar itu, Gretel justru memutus panggilan dan mematikan ponselnya.


"Kenapa?" tanya Hansel jadi penasaran.


"Ethel harus bisa memecahkan masalahnya sendiri, dia tidak bisa terus bergantung padaku," jawab Gretel.


Memang sudah seharusnya Ethel bersikap dewasa mulai sekarang.


...***...


Ethel memandangi ponselnya, dia hanya bisa menghela nafasnya saat Gretel mematikan panggilan secara sepihak.


Bukan hanya dipecat dan tidak diakui, Ethel juga diusir dari apartemen.


"Aku tidak boleh terus begini," gumamnya kemudian.


Ethel harus berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang sementara semua kartunya sudah dibekukan.


"Aha!"


Akhirnya dia mempunyai ide, Ethel akan menjual barang-barang mahalnya.


Dalam keadaan terdesak, harga jauh dibawah harga asli saat pertama kali Ethel beli. Tapi, dia harus rela.


Sementara Jesa sibuk mencari pekerjaan baru, dia melamar pekerjaan apa saja yang penting bisa menghasilkan uang.


"Terima kasih," ucap Jesa ketika diterima menjadi petugas kasir di salah satu mini market.


Jesa bekerja sambil melihat lowongan pekerjaan lain karena gajinya hanya cukup untuk ongkos transport.


"Cintaku..." Ethel tiba-tiba datang untuk menjemput Jesa.


"Aku sedang bekerja!" Jesa mencoba mengusir lelaki itu.


Namun, Ethel justru berbicara pada pemilik mini market kalau Jesa tidak akan bekerja di sana lagi.


"Kau ini apa-apaan!" protes Jesa dengan kesal. "Aku sudah bersusah payah mencari pekerjaan!"


"Kau tidak perlu bekerja," sahut Ethel seraya memberi Jesa segepok uang. "Ini untukmu nanti aku cari lagi!"


Jesa menatap uang di tangannya dengan bingung. "Kau tidak mencuri, 'kan?"


"Aku menjual barang-barangku, untuk sementara pakai itu dulu, aku akan mencoba menghubungi teman kuliahku dan meminta pekerjaan pada mereka," jelas Ethel.


Lelaki itu menggenggam tangan Jesa dan mereka berjalan bersama untuk naik kereta bawah tanah.


"Apa tidak apa-apa meminta pekerjaan pada temanmu?" tanya Jesa. Hal seperti itu pasti akan membuat Ethel malu.


Ethel menggelengkan kepala dan berkata dengan santainya. "Pertama, aku memang tidak punya harga diri. Kedua, aku akan mempermalukan daddy karena calon pewarisnya meminta pekerjaan pada orang lain!"