
Gretel sudah membayangkan akan membuat anak malam ini, melewatkan malam panas bersama suaminya. Gadis itu senyum-senyum sendiri, Gretel sangat penasaran dengan bentuk benda yang membuat celana suaminya menonjol itu.
"Aku tidak boleh kaget saat melihatnya nanti," gumam Gretel dalam hatinya.
Semakin dia membayangkan semakin Gretel merasakan hawa panas di tubuhnya. Sampai akhirnya Gretel merasakan sakit di perutnya.
"Kenapa ini? Apa karena aku memikirkan hal mesum?" Gretel memegangi perutnya dan tak lama dia merasakan suatu cairan keluar.
"Huaaa... Tidak!" jerit Gretel sambil menangis.
Hansel yang pada saat itu menyetir mobil sampai kaget karena Gretel tiba-tiba menangis dan menjerit seperti itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada hal yang tidak diinginkan datang," jawab Gretel seraya mengusap-usap matanya.
Hansel mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud istrinya itu. "Tamu tak diinginkan?"
"Bentuknya cair dan warnanya merah," ucap Gretel memberi clue.
"Sirup merah?" tebak Hansel.
"Kurang tepat," sahut Gretel sambil menatap suaminya. "Dia datang sebulan sekali!"
"Sebulan sekali?" gumam Hansel memikirkan. "Bentuknya cair dan warnanya merah?"
Beberapa detik kemudian Hansel langsung paham yang dimaksud istrinya, dia terkekeh karena Gretel yang berbelit-belit.
"Maksudnya kau datang bulan?" Hansel yakin tebakannya kali ini benar.
Dan Gretel kembali menangis lagi sambil menutup wajahnya.
"Kita tidak bisa membuat anak lagi," ucap Gretel kecewa.
Di sisi lain, Jesa sudah kembali ke apartemen bersama Ethel. Perempuan itu semakin dibuat merinding karena sikap Ethel sekarang langsung berubah setelah mengatakan jika dia adalah dewi keberuntungannya.
"Dewiku, kau ingin makan apa malam ini? Apa kita makan malam di luar saja?" tanya Ethel yang membuat Jesa kaget karena laki-laki itu muncul dari arah belakangnya.
"Ngh, kita pesan dan makan di apartemen saja," jawab Jesa. Dia tidak akan mau jalan berdua lagi dengan Ethel ke tempat umum.
"Baiklah, aku akan memesan makanan enak untuk dewiku," balas Ethel.
Lelaki itu memilih menu di restoran mahal untuk Jesa. Dewi keberuntungan harus mendapat makanan yang enak dan berkualitas.
"Aku harus bersikap dewasa supaya kami terlihat seumuran," ucap Ethel seraya mencari kaca mata dan sebuah koran.
Saat Jesa keluar dari kamar, Ethel dengan tampang sok coolnya membaca koran dengan wajah serius.
"Aku sudah memesan makanan, kita tinggal menunggu saja, duduklah dewiku!" Ethel berbicara tanpa melihat Jesa karena sok sibuk. "Ya ampun cuaca untuk minggu depan sepertinya sangat buruk!"
Jesa sampai dibuat kehabisan kata-kata karena tingkah Ethel. Dia tidak tahu kalau laki-laki yang ada di depannya itu memang paranoid dan percaya dengan mitos, Ethel selalu merasa hidupnya sial dan dibayangi oleh kematian.
Sekarang dia sadar kalau Jesa memang dewi keberuntungannya. Jadi, dia harus bersikap baik supaya Jesa betah berada di dekatnya.
"Mengenai yang aku katakan di sauna..." Jesa mulai membicarakan rencana kepergiannya lagi.
Dan Ethel buru-buru langsung menutup korannya.
"Dewiku, aku punya uang banyak. Kau mau apa? Aku pasti bisa membelinya, aku akan berusaha keras supaya bisa cepat jadi presdir agar hidupmu terjamin," bujuk Ethel.
"Jadi, hiduplah bersamaku sampai kita menjadi kakek dan nenek," sambungnya.
Jesa mencoba mengatur nafasnya supaya tidak emosi, dia harus tetap waras menghadapi Ethel yang gila. Jesa tidak boleh ikut-ikutan gila.
"Besok kau mulai kerja menjadi asistenku, kita harus merayakan hari pertama kau kerja dewiku. Apa malam ini kita akan membuat Mochi?" tanya Ethel tanpa dosa.