
Ethel terus memandangi Jesa, mereka duduk di ruang tamu. Padahal di depan mereka ada kakek tapi Ethel tidak melepas pandangannya dari Jesa.
"Ehem!" Kakek berdehem supaya Ethel melepas pandangan mata dari cucunya.
Namun, Ethel tetap menatap Jesa, kedua tangan lelaki itu justru meraup wajah Jesa dan menatapnya lebih intens.
"Apa berat badanmu turun?" tanya Ethel.
"Pasti kakek tidak cukup memberimu makan, 'kan?"
Jesa menggeleng. "Aku kan memang diet!"
"Kau sudah kurus jadi untuk apa kurus lagi?" Ethel gusar karena Jesa tidak cukup makan.
Ethel ingin memesan makanan tapi ditahan oleh Jesa.
"Tidak perlu, lebih baik kau pulang saja. Kita kan sudah tidak ada hubungan lagi," ucap Jesa mencoba mengingatkan Ethel.
"Jesa sudah punya calon suami jadi kau lebih baik jangan mendekati cucuku lagi," timpal kakek yang menganggap Ethel adalah bocah ingusan.
Ethel sekarang mengalihkan atensinya pada kakek. "Memangnya calon suaminya Jesa seperti apa? Saya akan berusaha menjadi yang kalian mau!"
"Aku tidak yakin," sinis sang kakek.
Karena akan sulit untuk membuat Ethel sadar, Jesa terpaksa menarik lelaki itu ke kamarnya.
Di dalam sana, Jesa lagi-lagi meminta Ethel untuk jangan mengganggunya. Jesa kali ini memohon, hidupnya sudah cukup sulit jadi dia tidak mau menambahnya dengan Ethel.
Namun, hal tak terduga terjadi. Ethel menangis saat mendengar Jesa mengusirnya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Kau tidak harus mencintaiku tapi aku mohon jangan tinggalkan aku!"
"Cukup bagiku untuk kau tinggal di sisiku, aku tidak akan serakah!"
Ethel meraih tangan Jesa kemudian dia tempelkan pada pipinya. "Apapun yang kau pikirkan, bahkan aku tahu kalau aku aneh,"
"Tapi, sepertinya aku akan benar-benar gila jika kau tidak bersamaku!"
Mendengar itu, Jesa tentu saja kaget apalagi tangisan Ethel terlihat begitu tulus. Si manipulatif akhirnya mengakui perasaannya.
Jesa jadi bingung sendiri bagaimana cara menenangkan Ethel, jadi perempuan itu langsung memeluk Ethel supaya tenang.
"Semua akan baik-baik saja, jadi berhentilah menangis," ucap Jesa berusaha membujuk.
Tapi, Ethel tak kunjung berhenti menangis. Akhirnya Jesa menggunakan jurus jitunya, perempuan itu mencium Ethel dengan lembut.
Mata lelaki itu sampai terbelalak karena mendapat serangan ciuman mendadak itu. Mereka berciuman dan saling membalas pada akhirnya.
Suasana menjadi panas, entah karena di kamar Jesa tidak ada AC atau memang gairah keduanya yang tersulut.
Saat tangan Ethel menyusup ke celana Jesa untuk memeriksa, perempuan itu masih tidak memakai tampon dan sudah dipastikan Jesa tidak datang bulan.
"Ethel..." Jesa berusaha mendorong tubuh lelaki itu ketika melepas celana yang dia pakai.
"Kau sudah basah," ucap Ethel seraya berbisik.
Jesa hanya bisa memalingkan wajah karena malu.
"Jangan mengatakan hal seperti itu," ucap Jesa yang tidak mau membahasnya.
"Kita adon Mochi lagi, ya," bujuk Ethel.
Tanpa mendengar jawaban dari Jesa, lelaki itu kembali mencium perempuan itu. Kali ini ciuman Ethel begitu lembut sampai membuat Jesa terbawa suasana.
Ethel perlahan menurunkan celananya kemudian dia menaikkan Jesa ke atas perutnya. Dia membaringkan diri dengan menjadikan kedua tangannya bantal.
Dari bawah, Jesa terlihat sangat seksi.
"Ayo Jesa, kita mulai!" ajak Ethel seperti tanpa beban yang berarti.
Lightsaber sudah mode on.