The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 39 - Berbagi Rasa



Hansel mengelap air mata Gretel yang menetes, dia selalu merasa bersalah jika melihat istrinya menangis.


"Kenapa menangis?" tanya Hansel.


Lelaki itu kemudian memeluk istrinya supaya Gretel tidak menangis lagi.


"Sekarang apa aku boleh tahu kenapa kau selalu menolakku?" tanya Gretel sambil membalas pelukan suaminya.


Setidaknya Gretel bisa memperbaiki kekurangannya.


"Sebenarnya aku menolak semua perempuan yang mengungkapkan perasaannya padaku, Gree," ungkap Hansel.


"Abel? Bagaimana dengannya?" tanya Gretel. Dia harus mendapatkan jawabannya malam ini juga.


"Itu adalah bentuk balas budiku pada kedua orang tuanya," jawab Hansel. Dia melepas pelukannya kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


Hansel tidak pernah bercerita pada siapapun tapi karena dia mulai nyaman bersama Gretel, malam ini dia akan menceritakan semuanya.


"Balas budi bagaimana, Suamiku?" tanya Gretel yang akan pura-pura tidak tahu apa-apa. Dia ikut duduk di samping suaminya dan memasang kedua telinganya.


"Sejak orang tuaku meninggal, orang tua Abel yang merawatku karena orang tua kami bersahabat. Mereka mengawasiku dan mengajariku mengurus perusahaan nantinya." Hansel mulai bercerita pada Gretel.


"Saat aku sekolah dan kuliah, perusahaan sementara dipegang oleh mereka. Saat aku lulus kuliah barulah sepenuhnya perusahaan orang tuaku jatuh ke tanganku tapi..."


Hansel menghela nafasnya sebelum melanjutkan. "Perusahaan itu sudah tidak stabil dari awal jatuh ke tanganku, aku berusaha terus membangunnya tapi hutang semakin bertumpuk!"


"Lantas apa hubungannya dengan Abel? Apa kau mencintainya, Suamiku?" tanya Gretel.


"Seperti yang aku bilang, hubunganku dengan Abel adalah bentuk balas budi. Aku berusaha membuka hatiku untuknya," jawab Hansel.


"Lalu kenapa kau menerima tawaran daddy ku? Padahal kau bisa saja menikahi Abel?" Gretel mencoba terus menggali isi hati Hansel supaya dia tahu ke depannya harus bagaimana.


"Karena aku ingin terbebas dari rasa balas budi itu dan berjuang sendiri dengan bantuan daddy Keenan, walaupun jumlah omset belum stabil, aku yakin ke depannya perusahaan akan bisa berkembang," jelas Hansel.


Hansel menggeleng, sebenarnya dia sudah curiga tapi dia takut untuk menggali lebih dalam.


"Pada akhirnya orang terdekatku akan menyakiti dan meninggalkanku. Itu kenapa aku sulit untuk mencintai seseorang karena jika mengenal rasa itu, aku harus siap untuk sakit dan kehilangan," ucap Hansel seraya menundukkan wajahnya.


"Kau sangat beruntung karena mempunyai keluarga yang hangat, Gree," sambungnya.


Gretel merangkul suaminya mencoba untuk menghibur. "Apa karena hari ini adalah hari kematian orang tuamu, kau merobohkan dinding pertahananmu, Suamiku? Aku merasa jadi istrimu yang sesungguhnya karena kau mau berbagi rasa denganku!"


"Dan keluargaku adalah keluargamu juga walaupun daddy atau saudaraku suka aneh," tambahnya.


"Jadi kau berpikir kalau kau itu tidak aneh?" tanya Hansel dengan kekehan.


"Di keluargaku yang normal hanya mommy Tessa," jawab Gretel tidak membenarkan perkataan suaminya.


Sedetik kemudian Gretel merasa Hansel mengubah posisinya untuk saling berhadapan, lelaki itu mendekatkan wajah dan mengecup bibir Gretel.


"Bagaimana mungkin gadis normal bisa bertahan setelah ditolak puluhan kali, kau aneh, Gree," ungkap Hansel.


"Aku aneh karenamu, Suamiku," sahut Gretel.


Suasana menjadi gerah, Hansel mencoba mencium istrinya lagi dan mendorong tubuh Gretel untuk berbaring di atas ranjang.


"Kyaaa... Apa ini saatnya membuat anak? Aku harus bagaimana? Pikiranku kosong, aku hanya merasakan jantungku yang rasanya mau keluar, aku butuh turorial!" Gretel bermonolog dalam hatinya.


"Ethel..."


_


Jangan minta bantuan Ethel yang ada nanti malah sesat, Gree😭