The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 56 - Narsis Man



"Ethel memang aneh dan merepotkan tapi ada alasan kenapa dia begitu," ucap Gretel pada suaminya.


Saat ini keduanya dalam perjalanan menuju apartemen mereka.


"Aku kira dia memang begitu," sahut Hansel.


Gretel menggeleng. "Ini bermula saat kami berkunjung di Indo, waktu itu kami masih berumur sepuluh tahunan."


"Dulu Ethel sempat menghilang saat kami bermain, ternyata dia disembunyikan hantu!"


Hansel mengerutkan keningnya karena baru mendengar hal seperti itu.


"Percaya tidak percaya sih tapi memang Ethel disembunyikan hantu. Sejak saat itu, Ethel jadi paranoid, dia percaya dengan mitos-mitos dan selalu merasa hidupnya terancam," lanjut Gretel.


"Apa sebaiknya tidak dibawa ke psikiater saja?" tanya Hansel.


"Ethel tidak mau dianggap gila jadi dia tidak mau ke psikiater. Walaupun menyebalkan, dia saudara kembarku jadi kita harus membantu Ethel supaya bisa bersama Jesa, Suamiku," ucap Gretel penuh harap.


Hansel menghela nafasnya sebelum menjawab istrinya. "Aku sangat ingin membantu tapi pekerjaanku juga banyak, aku harus memastikan semua stabil, Gree!"


"Aku juga harus pergi ke pabrik dan memeriksa bahan-bahan properti. Jadi, aku akan sangat sibuk," sambungnya.


Gretel sedikit kecewa karena artinya waktu bersama suaminya akan berkurang.


"Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, supaya kita bisa berbulan madu," ucap Hansel yang membuat mata Gretel melotot.


"Bulan madu?" tanya Gretel tersipu.


"Kita harus memperbaiki pernikahan kita, Gree," jawab Hansel.


Rasanya hati Gretel dipenuhi berjuta kupu-kupu, dia harus memberi kesan yang baik saat bulan madunya nanti.


Proses pembuatan Hero harus berjalan lancar.


...***...


Sementara Jesa yang tinggal di rumah kakeknya tengah membersihkan rumah kakeknya itu. Dia masih menganggur jadi Jesa bepikir keras caranya mencari pekerjaan.


"Jesa..." panggil sang kakek.


Lelaki tua itu memberikan beberapa lembar kertas pada cucunya.


Jesa menerima itu dan melihat berapa tagihannya. "Kenapa sebanyak ini, Kek?"


"Semua harga memang naik jadi cepatlah menikah supaya kau punya suami yang bisa membantumu," desak sang kakek.


Jesa membuang nafasnya kasar, inilah kenapa dia tidak betah tinggal bersama kakeknya karena tuntutan menikah dan menikah.


"Aku baru saja terbebas dari April jadi uangku memang tidak banyak karena gajiku memang tak seberapa sebelumnya. Aku akan mencoba mencari pekerjaan lagi," ucap Jesa mencoba menenangkan sang kakek.


Tak lama pintu rumah mereka diketuk seseorang.


Tidak ada lubang pintu jadi Jesa langsung membukanya saja.


"Cintaku...." seru seseorang yang bertamu itu.


Pupil mata Jesa melebar karena melihat siapa yang datang.


"Ethel?" Jesa tidak percaya lelaki itu berkunjung ke tempat kakeknya di pagi buta. "Kau tidak ke kantor?"


Ethel memang berpakaian bebas jadi aura mudanya sangat terpancar.


"Aku meliburkan diri karena ingin menjemputmu," ucap Ethel tanpa beban.


"Siapa yang datang?" tanya sang kakek.


Ethel berdehem dan mencoba memperkenalkan dirinya. "Nama saya Ethel, umur 23 tahun, hobi menonton film, untuk saat ini saya tidak mempunyai penyakit apapun. Satu-satunya penyakit saya adalah kerinduan pada cintaku..."


"Cintaku?" tanya kakek sambil menatap Jesa yang tengah memijat pelipis. "23 tahun?"


"Kau berpacaran dengan pemuda dengan tampang pengangguran seperti itu?"


Ethel menggelengkan kepalanya. "Saya bukan pengangguran kakek walaupun pengangguran banyak uang adalah cita-citaku!"


"Saya ini calon presdir!"


"Presdir?" tanya kakek semakin tidak percaya.


"Walaupun tidak meyakinkan tapi saya sangat serius, Kakek!" Ethel menyibak rambutnya. "Dan jangan lupakan saya masih muda dan tampan!"