
Hansel terbangun karena ada aroma makanan yang masuk indra penciumannya. Saat dia membuka mata ternyata di meja nakas, samping dia berbaring ada kopi dan roti bakar.
Pasti Gretel yang telah menyiapkan semua itu.
"Gree...." panggil Hansel mencari istrinya tapi gadis itu tak kunjung menampakkan diri.
"Apa dia sudah berangkat ke kantor?" gumam Hansel.
Lelaki itu teringat kejadian dini hari saat dia terbangun dan memeluk Gretel sampai tertidur lagi. Dia yakin jika istrinya itu tidak tidur semalaman dan sekarang Gretel sudah kembali bekerja.
"Apa dulu setiap hari dia begini saat menguntitku?" gumam Hansel. Pasti Gretel akan bangun pagi-pagi demi bisa menguntitnya di pagi hari padahal gadis itu hanya melihatnya lewat saja di parkiran.
Hansel mulai memikirkan perasaan Gretel selama ini, dia kira Gretel hanyalah adik kelas yang menyukai kemudian akan lupa begitu saja. Tapi, ternyata dia salah.
Aku menyukaimu, Hansel
Mau kah kau jadi kekasihku?
Aku sungguh-sungguh menyukaimu
Walaupun kau menolakku berulang kali
Aku akan tetap menyukaimu
Kalimat-kalimat pernyataan cinta Gretel terngiang kembali di kepala Hansel.
Membuang pikiran itu, Hansel mulai bersiap-siap ke kantornya. Besok sudah weekend, dia bisa pulang cepat hari ini.
Hansel akan memantau perkembangan perusahaannya, kali ini dia tidak boleh kebobolan lagi dan rugi.
...***...
Sementara di kantor, Gretel tertidur di ruang kerjanya karena mengantuk. Semalaman dia tidak tidur apalagi saat Hansel memeluknya, jantungnya serasa mau melompat keluar.
BRAK!
Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang membuat Gretel kaget dan terbangun.
"Gree..." si pelaku yang tak lain adalah Ethel langsung memeluk saudaranya yang nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya.
Ethel menubruk tubuh Gretel yang tertidur di sofa, tentu saja Gretel langsung berontak.
"Lepaskan bodoh! Aku bukan inses!" pekik Gretel yang kesal karena sikap Ethel. "Kau selalu seperti ini!"
"Kau kenapa lagi? Jadi drama hilang keperjakaan itu belum selesai?" tanya Gretel tak habis pikir.
Bisa-bisanya Ethel mengagetkannya karena drama yang dia buat sendiri.
"Bagaimana perasaanmu kalau jadi aku?" tanya Ethel.
Kali ini dia melepaskan Gretel supaya mereka bisa berbicara dengan santai.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mendramatisir keadaan! Kalau sudah terjadi mau bagaimana lagi, lagi pula perempuan yang kau tiduri juga tidak minta tanggung jawab," ucap Gretel mengutarakan pendapatnya.
"Itulah masalahnya, dia mencampakkan aku begitu saja. Aku merasa menjadi pemuas nafsunya," sahut Ethel.
Well, laki-laki itu selalu merasa menjadi korban karena Jesa yang memulai duluan.
"Hahaha..." Gretel tertawa akan sikap Ethel yang seperti itu. "Atau dia tidak puas makanya kau dibuang!"
"Tidak mungkin, mulutnya selalu mendesaah saat aku mendorongnya," ucap Ethel tidak terima.
"Jangan membicarakan hal seperti itu padaku, cepat keluar sana!" usir Gretel. Dia merasa Ethel sangat mengganggu waktunya.
Dan dia merasa Ethel sedang pamer padanya.
"Kau memang tidak bisa membantuku," ketus Ethel seraya berdiri sambil membenahi jasnya. "Aku akan tetap mempertahankan harga diriku!"
"Tidak usah hiperbola, bilang saja kau ketagihan," sindir Gretel.
"Tidak mungkin, dia yang selalu menggodaku," elak Ethel. Dia berjalan menuju pintu dan keluar, Ethel berusaha bersikap keren seperti biasanya.
Tapi, memang bayangan Jesa selalu melintas di pikirannya.
Akhhh... Akhhh....
Kepalanya diisi oleh suara desahaan Jesa.
"Dasar perempuan nakal bahkan saat tidak ada pun, kau terus menggodaku," gumam Ethel.
"Aku tidak akan menyerahkan tubuhku lagi dengan mudah," tambahnya.
_
Yang bener?🤣