
Gretel senyum-senyum sendiri jika mengingat kalimat ambigu dari Hansel apalagi saat di pemakaman, suaminya tampak tidak peduli dengan teriakan Abel.
"Apa ini sebuah kode?" gumam Gretel dalam hatinya.
"Poin kebajikanku sepertinya terus terisi, bagus Gree!"
Namun, dia tidak mau bertindak gegabah karena memikirkan perasaan Hansel adalah hal terpenting.
Mereka saat ini dalam perjalanan menuju ke mansion daddy Keenan.
Gretel melirik ke arah suaminya yang fokus menyetir kemudian bertanya. "Apa maksud Abel tadi, Suamiku?"
Dia akan berpura-pura tidak tahu pasal Hansel yang berjanji akan menceraikannya setelah pernikahan mereka berusia enam bulan.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Gree. Jadi lebih baik kau tidak perlu tahu," sahut Hansel yang mulai memikirkan perasaan istrinya.
Gretel tidak bertanya lagi, dia sudah cukup senang atas jawaban Hansel. Dia berharap hubungannya dengan suami semakin membaik setiap harinya.
...***...
Di sisi lain, Jesa hanya bisa meratapi kebodohannya karena kembali berhubungan badan dengan Ethel.
Dia saat ini masih berada di unit apartemen Ethel karena lelaki itu tetap menahannya pergi.
"Bodoh kau Jesa!" perempuan itu memukul kepalanya saat kembali mengingat kejadian tadi pagi ketika bangun tanpa busana.
Jesa mengingat dalam keadaan setengah sadar dan terus diganggu oleh Ethel.
"Dasar playing victim, manipulatif, egois, tidak tahu malu!" teriak Jesa.
Ethel yang baru kembali membeli makanan dari lantai bawah mendengar semuanya. "Kau pasti meneriaki aku, 'kan?"
"Baguslah kalau sadar," ketus Jesa.
Ethel malas berdebat, dia meletakkan belanjaannya di atas meja. Ada dua kantong belanjaan, yang satu berisi makanan dan satunya yang membuat Jesa penasaran.
Saat Jesa buka isinya penuh dengan pengaman.
"A--apa ini?" tanya Jesa terbata.
"Oh God!" Jesa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maka dari itu, ini semua untuk berjaga-jaga," ucap Ethel.
"Berjaga-jaga? memangnya aku mau melakukannya lagi?"
"Sejauh ini, kau terus menggoda dan menjebakku!"
Ethel duduk di samping Jesa kemudian mengutarakan rencananya. "Untuk sementara kita tinggal bersama dulu, aku takut kau hamil!"
Membayangkan saja Jesa jadi takut sendiri, bagaimana dia nantinya akan hamil anak dari Ethel. Pasti dia akan mati berdiri karenanya.
"Sesuai perjanjian, kau menjadi asistenku. Kau akan mendapat gaji dan tempat tinggal gratis," sambung Ethel.
Sepertinya Jesa tidak punya pilihan, dia harus menghadapi semua masalah dengan berani.
"Kalau aku hamil, aku akan memberikan bayi itu padamu," ucap Jesa.
Ethel hanya bisa menghela nafasnya, dia merasa benar-benar menjadi korban. Setelah dinodai, dicampakkan dengan merawat seorang bayi.
"Mochi, aku memberi nama anak kita Mochi," ucap Ethel kemudian.
"Ya ampun kan belum pasti aku hamil atau tidak, kenapa kau sudah memberinya nama," sahut Jesa tak habis pikir.
"Kalau begitu..." Ethel memberikan ponselnya pada Jesa. "Tulis nomor ponselmu, aku akan menyimpannya dengan nama Mochi!"
Jesa mengambil ponsel itu dan menulis nomornya, dia memang membutuhkan kontak Ethel kalau dia benar-benar hamil.
"Malam ini, keluargaku akan mengadakan makan malam bersama. Kau harus ikut bersamaku," ajak Ethel.
"Kenapa aku harus ikut? Aku ingin tinggal saja," tolak Jesa.
Ethel mengusap perut Jesa sebelum menjawab. "Mochi harus makan dengan baik, masakan mommy ku paling enak!"
"Aaaa.... Jangan menganggapku hamil!" teriak Jesa.