
Hansel dan Jesa saling memandang satu sama lain karena melihat sepasang saudara kembar yang membicarakan pembuatan anak dengan wajah polos mereka.
"Gree," panggil Hansel supaya Gretel melepas pelukannya dengan Ethel.
Gretel melepas pelukan saudaranya dan mendekati Hansel di sana. "Apa kita juga akan memberi nama pada calon anak kita, Suamiku?"
"Kita belum melakukan prosesnya jadi lebih baik pikirkan itu dulu," sahut Hansel yang menggandeng tangan istrinya untuk menjauh. Dia tidak mau Gretel bertindak di luar nalar jika berdekatan dengan saudara laki-lakinya.
Tertinggal Jesa yang kesal akan sikap Ethel, lelaki itu memperlakukannya seperti pasangan padahal kenyataannya hubungan mereka tidaklah jelas.
"Dewiku..." panggil Ethel yang membuat Jesa melotot padanya.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" ketus Jesa.
Ethel justru senyum-senyum sendiri melihat Jesa yang marah padanya. Dia menjadikan itu hobinya sekarang.
"Ayo, aku tunjukkan di mana ruanganmu dan pekerjaan apa saja yang harus kau lakukan," ajak Ethel.
Dengan terpaksa Jesa mengikuti Ethel dari belakang ternyata lelaki itu membawa Jesa ke ruangannya.
"Karena Pedro masih bepergian bersama daddy jadi sementara pekerjaanmu hanya duduk dan menatapku yang bekerja. Saat Pedro kembali, dia akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Ethel.
"Aku sudah terbiasa menjadi asisten April jadi aku sedikit paham, pasti pekerjaanku tak jauh beda," sahut Jesa seraya duduk di sebuah kursi asisten yang selama ini kosong.
Keenan memang selama ini tidak memanjakan Ethel, dia meminta putranya untuk mandiri. Maka dari itu Keenan membiarkan Ethel hidup sendiri di apartemen dan bekerja tanpa asisten.
Walaupun sekarang Ethel belum cukup meyakinkan tapi Keenan yakin jika Ethel bisa menjadi pemimpin perusahaan suatu hari nanti.
"Aku tidak akan memperlakukanmu seperti yang April lakukan padamu!" tegas Ethel.
"Kenapa aku tidak yakin, ya?" balas Jesa yang merasa hidupnya tak jauh beda antara bersama Ethel atau April.
Keraguan Jesa itu sangat mengganggu Ethel, lelaki itu memang berkutat di layar komputernya tapi pikirannya memikirkan hal lain. Di satu sisi dia harus bisa meyakinkan tender besar, di sisi lain dia takut Jesa pergi darinya.
Diam-diam Ethel mengirim pesan pada Gretel untuk menahan Hansel. Dia sudah merencanakan sesuatu di kepalanya yang susah ditebak itu.
Saat jam makan siang, Ethel segera melakukan rencananya itu sebelum terlambat.
"Kita akan pergi makan siang bersama Hansel dan Gretel," ucap Ethel pada Jesa yang masih sibuk mencocokkan jadwal karena tidak adanya Pedro.
"Baiklah." Jesa yang merasa tidak curiga langsung menghentikan pekerjaannya.
Mereka berdua keluar dari ruangan bersamaan dengan Hansel dan Gretel yang akan menuju lift yang sama.
Gretel langsung berbisik pada saudaranya itu. "Apa kau yakin?" tanyanya mengingat pesan dari Ethel sebelumnya.
"Tentu saja, ini satu-satunya cara," jawab Ethel yakin.
Gretel tidak mampu melarang, dia berharap keputusan yang Ethel ambil adalah keputusan terbaik.
Mereka berempat pun masuk ke dalam lift dan memakai mobil yang sama, pada saat itu mereka memakai mobil Ethel.
Tidak ada percakapan di dalam mobil itu karena semua sedang gugup kecuali Jesa. Perempuan itu sudah membayangkan makanan yang akan dia pesan nanti, dia harus memilih yang kalorinya rendah.
Namun, bayangan itu buyar ketika mobil berhenti di kantor pencatatan sipil. Jesa kembali merinding.
"Kali ini apa yang akan dilakukan si gila padaku," batinnya.
_
Maaf baru up, beberapa part ke Ethel dulu ya habis itu part Gretel sampe buat anakš¤
Stay tune terus ges...