The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 73 - Bersimbah Darah



Keenan mendapat panggilan dari kantor polisi tapi meminta Pedro untuk datang, dia malu setelah mendengar kenapa Ethel bisa ditahan.


"Anak itu tidak berhenti membuat ulah," keluhnya.


Hal sama dirasakan oleh Tessa, dia sebenarnya tidak tega tapi mau bagaimana lagi.


"Kita tunggu kabar dari Pedro saja," timpal Tessa.


Dan tak lama mereka mendapat laporan jika Ethel sudah bebas karena sudah dijamin oleh Pedro.


Pedro membantu Ethel mengemasi barang dan mengantar lelaki itu ke mansion orang tuanya.


Semarah-marahnya orang tua pasti terbuka pintu maaf yang selebar-lebarnya untuk anak mereka.


Tidak mau menghakimi, Keenan dan Tessa membiarkan Ethel ketika sampai. Ada rasa bersalah luar biasa di hati Ethel, dia pasti akan meminta maaf ketika suasana sudah kondusif.


"Antarkan ini di kamar Ethel," Tessa memberikan nampan berisi makanan pada pelayan.


Saat Ethel menerima itu jiwa cengengnya kambuh, ini semua terjadi karena dia terlalu berambisi pada Mochi dan dewi keberuntungan. Dia sampai melupakan kedua orang tuanya.


"Mommy..." Ethel berteriak memanggil Tessa.


Tessa hanya bisa mengulum senyumnya, dia kembali ke kamar untuk tidur bersama suaminya.


Keesokan harinya, baik Keenan atau Tessa masih mengabaikan Ethel.


Keenan bersiap bekerja seperti biasa dan Tessa mengurus keperluan suami dan rumah tangga.


"Katanya Gree akan cepat kembali," ucap Tessa.


"Semoga setelah ini tidak akan ada masalah lagi," sahut Keenan.


Pada saat itu, Tessa tengah memasang dasi suaminya.


"Bagaimana kalau Gree hamil? Kita akan menjadi kakek dan nenek," ucap Tessa kegelian.


Saat mereka keluar kamar, Keenan dan Tessa kaget karena Ethel yang bersimpuh di depan kamar mereka.


"Aku memang anak tidak berguna, maafkan aku yang sudah menyusahkan semua orang," ucap Ethel menyesal.


Keenan dan Tessa saling pandang satu sama lain, mereka tidak bisa memaafkan Ethel dengan mudah karena pasti lelaki itu akan mengulanginya lagi.


"Buktikan jika kau benar-benar menyesal!" pinta Keenan.


Ethel mengangguk. "Aku akan melamar Jesa secara jantan!"


Hari itu, Ethel akan membuktikan omongannya itu. Dia membeli cincin dengan uang yang dia punya, walaupun tidak mahal, dia harap Jesa mau menerimanya.


Dia mendatangi rumah kakek tapi saat sampai di sana, Ethel melihat Jesa dan kakek pergi jadi dia mengikutinya.


Ternyata Jesa dan kakek pergi ke salah satu restoran, di sana ada seorang lelaki menunggu mereka. Kakek ingin mengenalkan Jesa pada calon suami pilihannya.


Tentu saja Ethel tidak terima, dia buru-buru turun dari mobil dan tidak melihat kanan kirinya lagi.


Ada sebuah truk yang membawa bahan makanan ke restoran, sang supir tidak menyadari ada Ethel yang lewat di depannya. Saat sadar, dia tidak sempat mengerem. Dan...


Bruk!


Badan Ethel tertabrak dan terpental.


Semua orang mengerumuni Ethel yang tergelatak dengan berlumuran darah.


"Cepat hubungi ambulance!" teriak orang yang panik.


Jesa melihat itu dari dalam restoran karena dinding restoran itu kaca jadi bisa melihat ke arah jalanan. Perasaannya jadi tidak enak, dia pamit ke toilet padahal ingin melihat keadaan di luar.


"Ethel..." Jesa histeris ketika melihat keadaan Ethel yang tak sadarkan diri.


Tangan Ethel terbuka dan ada kotak cincin yang sebelumnya lelaki itu genggam.