
Ethel mendekat ke arah Jesa dan ikut naik ke atas ranjangnya. Dia menunduk kemudian mencium leher perempuan itu.
"Sepertinya aku lapar," bisik Ethel.
Jesa membalik tubuhnya. "Aku tidak mau!" tolaknya.
"Sekali saja, ya." Ethel membujuk dengan mengigit daun telinga Jesa.
"Katanya kau tidak akan memakanku," gumam Jesa. Dia sudah memejamkan matanya.
"Kau sengaja menggodaku dengan menaikkan kaosmu itu, 'kan?" Ethel mencoba menurunkan kaos Jesa tapi dia baru menyadari sesuatu kalau Jesa tidak memakai bra. "Astaga!"
"Ternyata benar dugaanku, kau merencanakan ini dari awal," sambungnya.
Ethel pun langsung membenamkan wajahnya di dada Jesa, dia bermain di sana sampai membuat Jesa seperti cacing kepanasan.
Malam itu mereka melakukan penyatuan lagi, entah apa yang akan terjadi keesokan harinya.
...***...
Gretel bangun pagi-pagi karena alarm yang berbunyi, dia ingin mematikan alarm itu tapi atensinya tertuju pada tangan Hansel yang melingkar di perutnya.
Ternyata Hansel tidur sambil memeluknya dari belakang.
"Suamiku..." Gretel membalik tubuhnya dan wajahnya langsung berhadapan dengan Hansel.
Satu tangan Gretel terulur untuk membelai wajah suaminya.
"Kenapa kau sering menolakku?" gumamnya.
Tidak mau membuang waktu, Gretel segera bersiap-siap untuk pergi ke pemakaman orang tua Hansel.
Ketika Gretel sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, barulah Hansel bangun. Lelaki itu semalaman tidak bisa tidur kemudian dia nekat memeluk Gretel dan tak lama langsung tertidur.
"Kau sudah bangun, Suamiku? Mandilah, aku sudah memesan sarapan," ucap Gretel yang baru keluar dari walk in closet.
Hansel menepuk jidatnya dan buru-buru bangun karena dia terlambat bangun.
"Kenapa tidak membangunkan aku, Gree," protes Hansel pada istrinya.
Bukannya merasa bersalah, Gretel justru tertawa sendiri, dia merasa rumah tangganya sudah mulai hidup, sebelumnya keadaan mereka sangat pasif.
Menunggu suaminya selesai bersiap, Gretel mengambil pesanan makanannya. Dia menatanya di meja makan dan setia menunggu Hansel sambil bermain ponsel.
"Aku harus menghubungi Ethel, dia pasti lupa kalau hari ini kita akan makan malam di mansion daddy," gumam Gretel seraya mendial nomor saudaranya.
Lelaki itu membuka matanya dan terkejut ada Jesa di sampingnya apalagi kondisi mereka tanpa busana.
Buru-buru Ethel turun dari ranjang dan menerima panggilan dari ponselnya.
"Kau ke mana saja!?" seru Gretel yang kesal karena panggilannya baru saja diterima.
"Gree..." Ethel tampak panik. "Aku melakukannya lagi!"
"Melakukan apa?"
"Pembuatan anak! Sepertinya aku dijebak!"
"Kalau kau melakukan berulang kali artinya kau suka!"
"Tidak mungkin, dia lebih tua dariku!"
"Siapapun itu, bawa ke mansion daddy nanti malam!"
TUT!
Gretel langsung mematikan panggilan karena tidak mau mendengar alasan Ethel.
"Siapa itu?" tanya Hansel yang baru bergabung ke meja makan.
"Si Ethel, dia terus-terusan membuat anak!" Gretel menancapkan garpu di piringnya.
Hansel yang ketinggalan informasi jadi bertanya-tanya. "Dengan wanita bayaran?"
"Dengan teman tindernya," jawab Gretel singkat.
Melihat wajah Gretel yang kesal membuat Hansel tidak bertanya lagi. Mereka makan dalam diam sampai selesai.
"Suamiku, jika daddy atau mommy nanti bertanya kapan akan memberi mereka cucu, jawab saja kita menundanya," ucap Gretel sambil mengelap mulutnya.
"Yang sebaiknya kau cemaskan justru kepergian orang tuamu untuk berbulan madu berkedok perjalanan bisnis. Mereka bisa saja membuat adik untukmu," sahut Hansel.
Gretel terkesiap karena tidak berpikir sejauh itu. "Tidak..."
_
Suruh mommy Tessa suntik KB dulu, Greeš¤£