The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 40 - Single Daddy



Gretel hanya pasrah saja mengikuti alur yang dibawa suaminya, dia bahkan tidak sadar saat dibimbing dari sofa ke atas ranjang.


Yang dia rasakan hanyalah degupan jantungnya, rasanya dia ingin pingsan saat ini juga.


"Kau harus tetap sadar, Gree!" pekik Gretel dalam hati. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.


Gretel menikmati ciuman dari Hansel yang semakin menggebu-gebu. Namun, sedetik kemudian Hansel melepas ciuman dan menjauh.


"Kenapa? Apa aku bau, Suamiku?" tanya Gretel yang jadi berpikiran negatif. "Aku akan sikat gigi, tunggu ya."


"Bukan begitu." Hansel mengacak rambutnya karena bingung. Dia tidak mau merusak Gretel sementara hubungannya dengan Abel belum benar-benar berakhir.


Gretel terdiam dan mencoba memahami Hansel, bukankah dia sering ditolak?


Jadi, tidak apa-apa, semuanya akan segera berakhir. Gretel harus memutuskan hubungan Hansel dengan keluarga Abel supaya rumah tangganya tidak ada yang mengganggu lagi.


"Suamiku..." panggil Gretel seraya membungkus dirinya dengan selimut. Gadis itu seperti kepompong sekarang. "Kemarilah, ayo tidur dan besok kita berkencan lagi!"


...***...


Di sisi lain, Tessa membungkuskan banyak makanan pada Jesa karena Ethel yang memintanya.


"Nanti kalau habis aku akan menghubungimu, Mom," ucap Ethel sambil mengecup pipi Tessa karena ingin berpamitan pulang.


Sebelumnya, dia dan Keenan berada di ruang kerja untuk membahas sesuatu yang penting. Sementara Jesa menjadi super canggung karena harus menemani Tessa di dapur.


"Kau perhatian sekali dengan asistenmu, urusan makan pun kau jaga," sahut Tessa.


"Aku kan bos baik hati, Mom. Aku tidak mau bawahanku kelaparan saat bekerja," ucap Ethel memberi alasan.


Walaupun tak masuk akal, Tessa menerima alasan itu. Tunggu saja tanggal mainnya, sebentar lagi pasti akan ketahuan.


"Ya sudah, pulang sana! Antar Jesa pulang dengan selamat, kata orang Indo tidak baik membawa anak gadis pulang malam-malam," ucap Tessa yang mengingat mendiang Bianca. (sesepuh Keenan)


"Gadis? Jesa bukan gadis lagi, Mom. Dia itu..." Ethel tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena betisnya ditendang oleh Jesa.


"Argh! Kenapa kau menendang bosmu!" protes Ethel.


Setelah berpamitan, Jesa berlalu pergi untuk keluar dari mansion.


"Asisten jaman sekarang berani dengan bosnya," gerutu Ethel seraya mengambil tas berisi makanan sang mommy.


"Jesa! Tunggu aku..."


Ethel mengejar perempuan itu kemudian memberikan tas makanan yang dia bawa. "Setidaknya bawa makananmu!"


"Aku tidak mau!" tolak Jesa.


"Kau ya tidak menghargai aku, aku akan memotong gajimu!"


"Bagus, usir saja aku sekalian!"


"Kau menantang, ya!? Kau pasti berencana membawa kabur Mochiku!"


Jesa menghentikan langkahnya kemudian menendang betis Ethel lagi. "Berhenti menganggapku hamil! Ini pasti cuma akal-akalanmu, setelah aku mengingatnya kau tidak memasukkannya di dalam!"


"Kenapa kau bisa begitu yakin?" tanya Ethel.


"Karena aku tidak mencium baunya atau ada sesuatu yang lengket di tubuhku," jelas Jesa.


Ethel masih kekeh untuk berjaga-jaga. "Setidaknya tunggu sampai kau datang bulan!"


"Terserah!" Jesa berjalan kembali dan masuk ke dalam mobil.


Mereka pun pergi meninggalkan mansion, di dalam perjalanan keduanya hanya diam saja karena kehabisan tenaga untuk berdebat.


"Aku akan tidur di unitku yang telah kau beli," ucap Jesa saat sampai. Dia buru-buru turun dari mobil untuk menghindari Ethel.


Ethel masih diam di dalam mobil dengan matanya yang melihat Jesa berjalan ke arah lift basement.


"Semoga Mochiku tidak mengikuti sifat ibunya," gumam Ethel. Sebelum Jesa datang bulan, dia akan menganggap bibitnya masuk di rahim Jesa.


"Besok aku harus membeli buku pedoman menjadi single daddy," sambungnya.