The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 58 - Pabrik Mochi Dibuka



Sayup-sayup Kakek mendengar suara-suara aneh dari kamar Jesa. Karena pintu tertutup suara itu tidak terlalu jelas apalagi indera pendengarannya mulai berkurang karena sudah tua.


Di dalam kamar, suara benturan kulit terus saling beradu. Ethel dan Jesa menahan desahaan mereka tapi suara percintaan mereka sudah bisa membuktikan betapa bersemangatnya itu.


"Apa kau lelah, cintaku?" tanya Ethel yang sekarang sudah merasa tidak menjadi korban lagi.


Ethel mengambil alih posisi untuk menyuntik Jesa dari belakang dalam posisi berdiri. Dia akan mempraktekkan semua gaya yang pernah ditontonnya di video xxx.


Keringat membanjiri tubuhnya tapi tidak menyurutkan semangat Ethel untuk terus menggerakkan pinggulnya.


Sementara Jesa hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras. Sampai tak lama kemudian, Jesa merasakan ada semburan hangat yang masuk.


Ini pertama kalinya dia merasakan itu, Jesa langsung sadar seketika.


"Kenapa di dalam?" protesnya.


Ethel tak mampu menjawab lagi karena lelaki itu masih lemas setelah menembakkan fermipan kental, bahan dasar pembuatan Mochi.


"Sebentar cintaku, rasanya geli..." Ethel masih tidak mau melepas Jesa. Jujur saja ini pertama kalinya dia juga merasakan menembak di dalam.


"Sepertinya malam itu rasanya tidak begini," ungkapnya.


"Maksudmu tidak kau masukkan di dalam, 'kan? Aku sudah menduga kalau cuma akal-akalanmu," ketus Jesa sambil berusaha menjauhkan dirinya. "Lepaskan aku!"


Akhirnya Ethel melepas Jesa dan mereka ambruk di atas ranjang. Keduanya masih mengatur nafas tapi tak lama kakek mengetuk pintu.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" teriaknya.


"Gawat!" Jesa segera memperbaiki penampilannya dan membuka pintu.


Saat Jesa membuka pintu, dia lupa bahwa banyak tanda merah yang ditinggalkan Ethel di leher dan dadanya. Jadi tanda merah itu terlihat apalagi Jesa hanya mengenakan kaos saja.


Kakek langsung paham, lelaki tua itu langsung gelap mata dan menjambak rambut Jesa.


"Jadi kau memang berhubungan dengan pemuda itu? Kau menghancurkan masa depanmu untuk nafsu sesat! Sekarang laki-laki mana yang akan mau jadi suamimu!" ucap kakek yang semakin menguatkan jambakannya.


Ethel yang melihat Jesa diperlakukan seperti itu tidak terima, pantas saja Jesa tidak betah tinggal bersama lelaki tua itu.


"Lepaskan!" Ethel menarik Jesa ke pelukannya. Wajah Ethel merah padam karena marah. "Jangan memperlakukan cintaku seperti ini!"


"Ini semua adalah salahku, kalau tidak ada yang mau menikahi Jesa, biar aku yang menikahinya," tambah Ethel. Dia mengambil coat yang dipakainya tadi dan sekarang memasangnya pada tubuh Jesa.


"Ayo kita pulang!" ajaknya.


Kakek tidak mau menyerah, dia masih menahan Jesa untuk tetap tinggal.


Dan Ethel membuka dompetnya kemudian melempar semua yang ada di dalam. Beruntung dia mempunyai uang cash yang cukup banyak.


"Aku akan menjamin hidup Jesa!" ucap Ethel seraya menggandeng tangan perempuan itu untuk keluar dari rumah.


Sementara kakek sibuk sendiri, dia memunguti uang yang telah Ethel sebar sebelumnya.


"Dari mana bocah itu mendapat uang sebanyak ini?" gumamnya.


Jesa miris melihat sang kakek yang seperti itu, dia tidak punya pilihan selain mengikuti Ethel.


"Kita pergi makan dulu, ya," ucap Ethel yang seolah tidak terjadi apa-apa.


"Langsung kembali ke apartemen saja, aku berantakan dan belum membersihkan diri," sahut Jesa. Tubuh perempuan itu rasanya lengket dan bagian bawah tubuhnya juga masih basah karena fermipan kental Ethel sebelumnya.


"Baiklah, cintaku. Setelah ini jangan pergi-pergi lagi," pinta Ethel.


"Asal kau tidak menangis lagi," ucap Jesa memberi persyaratan.


"Untuk itu, jangan beritahu siapapun ya. Aku khusus menangis hanya untukmu saja, cintaku..." Ethel merasa senang karena Jesa bisa tinggal bersamanya lagi dan tentunya pembuatan Mochi akan terus berlanjut.


_


Habis ini Hansel dan Gretel ya, siapin tisue ges karena ada bawangnya dikit🤭