
Hansel memandangi dokumen yang sudah ditanda tangani oleh keluarga Abel. Walaupun mereka sudah ada surat perjanjian seperti ini, Hansel harus tetap waspada karena mereka adalah keluarga yang licik.
Suara microwave mengalihkan atensi Hansel, lelaki itu memanaskan lasagna untuk sarapan.
"Gree..." Hansel memanggil istrinya karena sarapan sudah siap.
Karena datang bulan, urusan Gretel lebih lama dari biasanya. Perempuan itu pun keluar dari kamar dengan penampilan rapi siap pergi ke kantor.
Gretel mengulum senyumnya saat melihat Hansel memakai afron sambil mengenakan kemeja kantor.
"Thanks untuk sarapannya, Suamiku," ucap Gretel kemudian.
Hansel melepas afron kemudian lelaki itu duduk di samping istrinya. "Bagaimana perutmu?"
"Sudah tidak apa-apa," jawab Gretel seraya menyuap lasagna ke dalam mulutnya.
Dan Hansel dengan lembut mengelap bibir Gretel padahal tidak ada lasagna yang belepotan.
"Kau kenapa, Suamiku?" tegur Gretel.
"Apa setan mesumnya tidak kembali lagi?" tanya Hansel ambigu.
Gretel terkekeh kemudian mengecup bibir suaminya gemas. "Pertama-tama, kita harus melakukan morning kiss setiap hari!"
"Kedua, mulai hari ini aku akan mengantar dan menjemputmu ke kantor," timpal Hansel.
"Ketiga..." Hansel dan Gretel berucap bersama-sama lalu tertawa bersama karena mereka seperti sepasang remaja yang baru jadian.
"Aku akan membuat daftar, apa-apa saja yang harus kita lakukan, Suamiku," ucap Gretel.
Hansel setuju saja, dia mulai nyaman bersama dengan Gretel.
"Aku tidak sabar bertemu dengan Ethel," ungkap Gretel yang harus memberitahu saudaranya perkembangan pernikahannya.
Selesai sarapan, Hansel menggandeng tangan Gretel saat menuju parkiran basement. Mereka tertawa bersama dan terus bercerita sampai tiba di perusahaan keluarga Hoult.
"Apa kau mau masuk, Suamiku?" tanya Gretel.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke dalam," jawab Hansel yang ikut turun mengantar istrinya.
Saat mereka masuk dan sampai di lantai atas ternyata Ethel belum sampai.
Pada saat itu memang Ethel dan Jesa bangun kesiangan. Jadi, mereka masih dalam perjalanan.
"Maafkan aku ya, dewiku. Aku tidak akan telat lagi dan akan menjadi calon presdir yang disiplin, ini untuk masa depan kita yang cerah," ucap Ethel yang masih menyetir mobil.
"Fokus saja ke jalanan," sahut Jesa.
Beberapa menit kemudian mereka sampai, Ethel turun dari mobil dan berjalan cepat untuk membukakan pintu mobil untuk dewi keberuntungannya.
"Kita sudah sepakat kalau di kantor, jangan bersikap berlebihan," ucap Jesa yang tidak nyaman. Dia tidak mau dianggap kecentilan atau menggoda Ethel supaya bisa jadi asisten lelaki itu.
Padahal kenyataannya dia terpaksa melakukannya.
"Baiklah, dewiku." Ethel sok jadi penurut tapi ujung-ujungnya dia masih bersikap berlebihan pada Jesa.
Mereka berdua menuju lantai atas dan saat sampai, Ethel langsung disambut oleh Gretel yang marah padanya.
"Ethel..." teriak Gretel seraya mengacak pinggang.
Bukannya merasa bersalah, Ethel justru berlari menghambur memeluk Gretel.
"Gree, akhirnya..." Ethel semakin mengencangkan pelukannya. "Aku sudah menemukan dewi keberuntunganku ternyata orang itu adalah Jesa!"
"Hah?" Gretel hanya bisa memberi respon seperti itu. "Apa kau yakin?"
"Iya, aku akan menyerahkan hidupku pada Jesa," ucap Ethel lagi.
"Sebenarnya hubunganku dengan Hansel juga membaik, poin kebajikanku terisi penuh. Sebentar lagi aku akan membuat anak," sahut Gretel yang juga ingin berbagi kebahagiaan.
"Aku juga sedang membujuk Jesa untuk membuat Mochi lagi karena produksi yang pertama gagal," ungkap Ethel.
"Mochi?"
"Itu nama anak kami,"
"Kau memberi nama anak yang belum jadi anak?"
_
Aku ngetik ini gak selesai2 dari tadi karena ngakakš¤£