
Sesuai perkataan Gretel, Keenan membantu Jesa keluar dari masalahnya. Hari itu, Keenan datang menemui kakek untuk mewakili Ethel melamar Jesa sekaligus memberikan sertifikat rumah dan jaminan setiap bulannya ketika Jesa sudah menjadi menantunya.
Kakek yang notabene memang mata duitan tentu saja langsung menerimanya. Secara tidak langsung Keenan membeli menantunya lagi.
"Hah?" desaahnya ketika urusannya dengan kakek selesai.
Sekarang tinggal urusan bisnisnya, dia harus memastikan Ethel mampu mengambil alih nantinya. Namun, dia tidak akan memaksa Ethel seperti sebelumnya.
Keenan akan menunggu sampai Ethel benar-benar siap.
Sementara Ethel sendiri masih belum sadarkan diri. Semua bergantian menunggu lelaki itu di rumah sakit.
Sampai tak terasa satu bulan berlalu.
"Gree..." Hansel panik ketika melihat istrinya berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Mereka tengah sarapan dan bersiap ke kantor tapi Gretel tidak seperti biasanya.
"Aku tidak tahan mencium aroma selai kacang itu," ucap Gretel setelah membasuh mulutnya.
Gretel begitu sensitif terhadap bau, dia akan muntah apabila mencium bau yang membuatnya mual.
Sebenarnya Hansel sudah curiga jika Gretel tengah hamil tapi dia harus memastikannya. Jadi, hari itu juga dia langsung mendaftarkan diri istrinya ke dokter kandungan.
"Kenapa lewat jalan ini?" tanya Gretel karena jalanan yang dilewati Hansel berlawanan dengan arah kantor. Lebih tepatnya jalanan menuju rumah sakit di mana Ethel dirawat. "Apa kita akan melihat Ethel terlebih dahulu?"
"Nanti juga tahu," jawab Hansel sekenanya.
Seharusnya Gretel sadar dengan kondisinya karena perempuan itu calon ibu tapi rupanya Gretel masih sangatlah polos untuk urusan seperti ini tapi bersemangat saat membuatnya.
"Oh my God. Apa kau dengar, Suamiku?" Gretel tampak kesenangan setelah mendengar hasil pemeriksaan. "Kita akan mempunyai Hero!"
Gretel sampai meneteskan air mata dan memeluk suaminya.
"Kau bahagia?" tanya Hansel.
"Sangat bahagia," jawab Gretel tanpa ragu.
"Aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu dan Hero nanti," ucap Hansel bersungguh-sungguh. Dia akan menebus semua yang telah Gretel lakukan untuknya selama ini.
"Mom..." panggil Gretel saat masuk ke ruang rawat.
Tessa tidak sendirian tapi selalu bersama dengan Jasa, pada saat itu mereka baru saja selesai mengelap tubuh Ethel yang mulai mengurus.
"Aku ada kabar gembira," Gretel memeluk Tessa sambil meloncat-loncat kecil. "Aku hamil, mommy akan jadi grandma."
Tessa mengucap syukur karena keluarganya diberkati. "Mommy akan jadi grandma dari dua cucu, Jasa juga hamil!"
"Apa?" Gretel langsung melepas pelukannya. "Benarkah itu?"
"Sepertinya usia kandungan kalian kurang lebih sama," jawab Tessa.
Tidak seperti Gretel yang penuh suka cita, Jesa justru sedih karena saat dia hamil, Ethel masih terbaring tak sadarkan diri.
"Mochi sudah jadi, apa kau tidak mau melihatnya lahir? Cepatlah bangun!" Jesa mencoba berbicara pada Ethel.
Seperti sebelumnya, tidak ada respon.
"Kau bilang akan menjadi daddy yang keren untuk Mochi jadi penuhi janji itu," sambung Jesa.
Kali ini ada yang berbeda, tangan Ethel mulai bergerak.
"Mom..." Jesa memanggil Tessa supaya perempuan itu melihat gerakan tangan Ethel.
"Aku akan memanggil dokter!" Tessa bergegas memencet tombol emergency.
Beberapa menit kemudian dokter datang bersama perawat, semua diminta keluar karena sang dokter ingin memeriksa keadaan Ethel.
Semua mondar-mandir di depan ruangan karena tidak sabar dengan hasil pemeriksaan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Jesa ketika dokter sudah keluar.
Dokter tersenyum dan menyampaikan jika Ethel sudah sadarkan diri.
Semua tidak berhenti mengucap syukur, mereka kemudian masuk ke dalam untuk melihat Ethel yang sudah duduk menyender.
Ethel melihat satu persatu yang masuk, wajahnya tanpa ekspresi kemudian menyapa semuanya. "Hai, aku kembali dengan keren!"