
Jesa tidaklah bodoh pasti tujuan Ethel sekarang adalah mendaftarkan pernikahan tanpa bertanya padanya dulu.
"Kenapa kau selalu melakukan hal tak terduga seperti ini?" tanya Jesa yang sebelumnya menarik Ethel untuk bicara berdua. Dia tidak enak hati dengan Hansel dan Gretel yang besar kemungkinan akan dijadikan saksi pernikahan mereka.
"Karena kau selalu berusaha memutuskan hubungan kita," balas Ethel.
"Hubungan kita? Memangnya hubungan kita seperti apa? Semua tidak akan seperti ini kalau kau tidak merasa menjadi korban," ketus Jesa.
"Jadi selama ini kau merasa tidak bersalah setelah menodaiku?" tanya Ethel tak habis pikir.
Inilah hal yang paling membuat Jesa kesal setengah mati, Ethel selalu seperti itu. Mau Jesa menjelaskan seperti apapun, lelaki itu selalu manipulatif.
"Aku tidak akan menyerahkan hidupku dengan orang sepertimu!" Jesa berkata penuh penekanan supaya kali ini Ethel mengerti.
Jujur saja mendengar kalimat itu keluar dari mulut Jesa membuat Ethel langsung down. Ethel merasa menjadi laki-laki tidak pantas untuk menikahi seorang wanita.
"Kata-katamu sungguh menyakitkan tapi aku tetap ingin menikahimu karena kau dewi keberuntungan yang akan memberiku Mochi," ucap Ethel yang menahan sesak di dadanya.
Ethel tetap mendaftarkan pernikahan mereka, dipikiran Ethel yang penting sah dulu. Dan dia harus jadi walinya Jesa karena tahu jika gadis itu seorang yatim piatu.
Namun, hal tak terduga terjadi saat Jesa tinggal membubuhkan tanda tangan saja di dokumen pernikahan.
"Kakek, aku setuju menikah dengan calon suami yang kakek pilih," ucap Jesa sengaja menelepon sang kakek di depan Ethel.
Jesa lebih memilih calon suami pilihan kakeknya dari pada harus menikah dengan Ethel yang membuatnya bisa gila.
"Lebih baik kau intropeksi diri, aku akan kembali ke apartemen dan mengambil barang-barangku. Mulai sekarang, kita tidak saling mengenal lagi!" tegas Jesa. Dia tidak mau mengikuti permainan Ethel lagi.
Hansel dan Gretel melihat drama di depan mereka dengan wajah bingung. Mereka sebagai saksi pernikahan dibuat antara mau tertawa atau iba dengan Ethel.
"Lebih baik kita bawa Ethel pergi," ucap Hansel yang malu karena jadi pusat perhatian.
"Iya, kau benar, Suamiku!" Gretel berjalan mendekati saudaranya dan menarik tangan Ethel untuk membawanya pergi. "Ayo Ethel. Kau cari dewi keberuntungan lain saja!"
"Tidak bisa, Gree. Hanya Jesa yang bisa membuat Mochi untukku!" tolak Ethel yang masih ingin membujuk Jesa di sana.
Jesa semakin geleng kepala melihat perilaku Ethel, dia semakin yakin dengan langkah yang dia ambil. Tanpa mau memperpanjang drama lagi, Jesa akhirnya pergi dari kantor pencatatan sipil itu.
Dan Ethel semakin merasa hancur seolah semesta tengah mempermainkan dirinya.
"Gree..." Ethel memeluk saudara perempuannya. "Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, 'kan? Jesa tidak mau bertanggung jawab, masa depanku sudah hancur!"
Gretel mendengus kasar, mungkin dia akan melakukan hal sama jika berada di posisi Jesa.
"Tidak ada perempuan yang mau menyerahkan hidupnya begitu saja, apalagi kau tidak memintanya dengan baik-baik," ucap Gretel.
Ethel langsung mendapat pencerahan karena mendengar nasehat saudaranya itu. "Aku akan meminta daddy membeli Jesa seperti daddy membeli Hansel. Daddy pasti senang karena bisa membeli menantu lagi!"