
Bukan hanya April yang terkejut tapi Jesa tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Dia tahu jika Ethel suka memanipulatif keadaan tapi dia tidak tahu kalau akan separah ini.
"Jangan campuri urusanku!" ucap Jesa memberi peringatan.
Ethel justru berdiri dan langsung mencium Jesa di sana. "Kau pasti masih marah padaku karena tadi malam kita main satu ronde saja kan, Honey!"
"Dasar gila!" umpat Jesa dalam hatinya. Bisa-bisanya Ethel mencium dan berbicara seperti itu di tempat umum.
"Ayo Honey kita pergi dari sini dan mencari hotel, kita cicil satu ronde nanti malam baru kita lanjut sampai pagi. Aku tahu kau tergila-gila padaku karena itu kan, kau sangat pandai mencari pasangan kencan," tambah Ethel.
Tentu saja Jesa bertambah malu, dia menutup mulut Ethel dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" protes Jesa.
April semakin syok dengan apa yang dilihatnya, dia kemudian berdehem supaya atensi Ethel dan Jesa mengarah padanya. Dia seperti obat nyamuk sekarang.
Dan berhasil, Ethel menoleh padanya tapi justru berpamitan mengajak Jesa pergi.
"Kau pesan menu apa saja yang kau suka, untuk masalah pembayaran dan sangkutan Jesa biar Pedro yang mengurusnya," ucap Ethel seraya menarik tangan Jesa untuk keluar restoran.
Jesa sudah berontak tapi Ethel tidak mau melepas perempuan itu. Justru Ethel dengan santai memencet tombol dari kunci mobilnya.
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" tolak Jesa.
"Sekali lagi kau berontak, aku akan menciummu lagi!" Ethel mengancam supaya Jesa masuk ke dalam mobilnya.
"Aaaa..." Jesa berteriak frustasi karena bingung dengan keadaan.
Dengan terpaksa dia masuk ke dalam mobil Ethel, dia harus lebih tegas dengan lelaki itu supaya Ethel tidak mengganggu hidupnya lagi.
"Kau menguntitku, ya?" tanya Jesa gusar karena merangkai kejadian sebelumnya. Sangat janggal ketika Ethel tahu semuanya.
"Terima kasih karena telah mempermalukan aku?" ketus Jesa.
"Aku membebaskan kau dari April jadi mulai sekarang kau harus jadi asistenku," balas Ethel dengan santainya.
Kalau Jesa punya penyakit darah tinggi pasti sekarang dia sudah stroke.
"Bukankah itu namanya keluar kandang harimau masuk ke kandang singa," ucap Jesa tidak terima.
Bisa-bisanya hidupnya diatur karena dia tidak memiliki kekuasaan. Dia sangat benci situasi seperti ini.
"Aku melakukan itu untuk mempermudah kau untuk menggilai aku, dari pada kau menggodaku seperti di lift dan tidak mau tanggung jawab," sahut Ethel.
"Kau sangat pantas mendapat reward sebagai manusia termanipulatif sedunia! Aaaaa...." Jesa mengacak rambutnya. Dia bisa gila kalau sampai jadi asisten lelaki itu.
Ethel membawa Jesa ke restoran lain tapi belum sampai ke restoran itu, ban mobilnya bergoyang yang membuatnya menghentikan mobil. Ternyata ban mobil Ethel kempes.
"Sial!" Ethel menendang ban mobilnya. Dia mencoba menghubungi Pedro untuk membantunya tapi di detik itu juga hujan turun dengan deras.
Dan kesempatan itu digunakan Jesa untuk kabur. Perempuan itu keluar dari mobil Ethel dan berlari menjauh.
"Mau kemana?" Ethel mengejar Jesa di tengah hujan.
"Pergi kau!" Jesa terus berlari dan berharap Ethel berhenti mengejarnya.
Tapi, lelaki itu justru berhasil menangkapnya. Kemeja Jesa sudah basah yang membuat bra perempuan itu terlihat jelas.
"Nah kan, kau menggodaku lagi!" Ethel menarik tangan Jesa untuk mencari tempat berteduh. Dia melepas jasnya dan memakaikan pada Jesa. "Dasar perempuan nakal, bilang saja kau ketagihan dengan lightsaber ku!"