
Hansel dan Gretel sudah sampai di mansion daddy Keenan, mereka segera turun dari mobil. Di perjalanan tadi, mereka menyempatkan membeli kue untuk buah tangan.
"Biar aku yang membawanya," ucap Hansel saat Gretel membawa kue itu turun dari mobil.
Hansel mengambil kue dari tangan istrinya kemudian tangan itu dia genggam. Lelaki itu tidak akan mempermalukan istrinya di depan keluarganya sendiri.
"Terima kasih, Suamiku," ucap Gretel kesenangan. Dia sampai menyenderkan kepalanya di bahu suaminya dan mereka berjalan ke dalam mansion.
Tidak ada penolakan dari Hansel lagi saat mereka melakukan skin touch.
Dari lantai atas mansion, Keenan mengamati kedatangan putrinya. Dia tersenyum miring karena melihat kemajuan atas pernikahan Hansel dan Gretel.
"Jangan sampai aku rugi dalam membeli menantu ini," gumamnya.
Keenan kemudian turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan putri dan menantunya.
"Sayang..." panggil Keenan pada istrinya yang sibuk di dapur. "Gree, datang bersama suaminya!"
"Oh iya?" tanggap Tessa.
Dan tak lama yang mereka bicarakan akhirnya masuk ke dalam mansion juga.
"Itu mereka!" seru Keenan seraya mendekat dan memeluk Gretel.
"Kita setiap hari bertemu di kantor, Dad," protes Gretel karena seolah Keenan tidak pernah bertemu dengan nya.
"Kalau di kantor kan beda, kau adalah staff kalau sekarang kau adalah putriku," balas Keenan.
Hansel tersenyum melihat interaksi keduanya sampai dia tersadar jika Keenan saat ini berganti menatapnya dengan tajam.
"Jadi, sekarang matamu sudah normal atau masih buta?" tanya Keenan begitu menohok.
"Dad, jangan berkata seperti itu pada suamiku!" Gretel membela Hansel, dia tidak mau hubungannya kembali renggang.
"Maafkan saya, Dad. Saya akan bekerja lebih baik lagi," ucap Hansel kemudian.
Semua jadi melihat ke arah Ethel yang baru masuk.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau," gerutu Jesa. Dia jadi bingung harus bersikap bagaimana apalagi hubungannya dengan Ethel tidaklah jelas.
"Kau diam saja biar aku yang bicara, kau hemat saja suaramu yang suka meneriakiku itu," sahut Ethel tanpa merasa bersalah.
Ethel mengangkat satu tangannya. "Hallo semuanya..."
"Siapa ini?" Tessa yang melihat dari kejauhan langsung mendekat karena penasaran dengan perempuan yang dibawa putranya.
"Namanya Jesa, dia adalah asistenku, Mom," jawab Ethel.
Tessa menaikkan kedua alisnya kemudian melihat ke arah Keenan karena merasa de javu. Dia jadi mengingat masa lalunya bersama Keenan.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya," ucap Jesa hormat.
"Kalau begitu, ayo kita semua ke meja makan, makanannya sudah siap!" ajak Tessa.
Semua pun berjalan menuju meja makan bersama pasangan mereka masing-masing.
"Wah, mommy memasak banyak sekali," komentar Gretel yang melihat meja makan penuh dengan berbagai olahan masakan. Lalu dia menoleh ke arah Hansel. "Kau pasti akan suka masakan mommy, Suamiku!"
Hansel menanggapi dengan seutas senyuman samar, dia sudah lama tidak merasakan momen keluarga seperti ini.
"Mochi akan mendapat nutrisi yang baik malam ini," batin Ethel. Dia meminta Jesa duduk di sampingnya karena dia akan meminta perempuan itu makan yang banyak.
"Kau masih ingat kan kalau aku sedang program diet," bisik Jesa.
"Kau tidak boleh diet, itu akan membahayakan Mochiku!" tegas Ethel.
Melihat semua sudah berkumpul, Keenan berdehem karena dia akan memimpin doa.
"Semua diam dan bersikaplah tenang di meja makanku!" Keenan harus bersikap keren sebagai suami, ayah dan mertua.