
Hansel meraih tangan Gretel yang menutupi wajah istrinya itu. Gretel kelihatan begitu menggemaskan padahal sebelumnya gadis itu bersemangat mengajaknya bercinta. Tapi pada saat Hansel memberi respon justru Gretel jadi malu-malu kucing.
"Gree, kau kenapa?" tanya Hansel.
Wajah Gretel sudah merona, dia menunjukkan bagian menonjol di celana suaminya.
"Aku takut melihatnya, sebelumnya aku tidak pernah melihat celanamu seperti itu," jawab Gretel semakin malu.
Dan hal itu membuat Hansel semakin bersemangat menggoda istrinya.
"Sepertinya dia marah," ucap Hansel memberi kode keras.
"Marah kenapa?" tanya Gretel.
"Aku tidak tahu mungkin kau bisa mengeceknya," balas Hansel semakin menggoda. "Sepertinya dia semakin marah kalau terlalu lama dikurung jadi kita perlu hotel untuk membebaskannya!"
"Ya ampun kenapa otakku merespon ke arah kemesuman, ya? Apa setan mesumnya telah kembali atau memang pindah ke kepala suamiku?" Gretel bermonolog dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
Mobil pun melaju kembali dan sesuai kata Hansel, dia mencari hotel terdekat karena miliknya sudah mengamuk minta untuk dikeluarkan.
Saat Hansel memesan kamar hotel, Gretel menepuk-nepuk pipinya karena dia merasa panas.
"Ayo!" Hansel menggandeng tangan istrinya untuk menuju kamar hotel yang telah dia pesan.
Saat suaminya membuka pintu, jantung Gretel semakin berdebar kencang. Debaran itu semakin Gretel rasakan ketika pintu tertutup karena Hansel langsung mendorongnya ke dinding dan kembali menciumnya.
Suara decapan memenuhi kamar hotel itu, Hansel melepas istrinya saat menyadari Gretel sudah gelagapan kehabisan oksigen.
"Gree..." Hansel memanggil istrinya dan Gretel langsung merespon dengan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
"Aku di sini," jawab Gretel yang tidak mau merusak suasana. Dia akan lebih banyak diam dan mencoba menikmati sentuhan suaminya.
"Apa kau siap?" tanya Hansel seraya mencekal satu tangan Gretel dan mengarahkan tangan istrinya itu ke celananya yang sesak. "Kalau siap, bukalah!"
Demi apa, Gretel rasanya mau pingsan. Dia tidak boleh mundur jadi tangannya mulai mencari resleting celana suaminya.
Melihat wajah bingung Gretel membuat Hansel langsung menggendong istrinya ke atas ranjang.
"Kenapa ragu?" tanya Hansel.
"Bu-- bukan begitu, sepertinya tahapnya salah, Suamiku," jawab Gretel terbata.
"Jadi yang benar bagaimana?" Hansel meremas buah dada Gretel kemudian menaikkan baju atasan istrinya. Dia melihat sepasang pepaya kalifornia yang masih sangat ranum. "Apa begini?"
Hansel langsung melahap kedua pepaya kalifornia itu bergantian.
"Ngh! Rasanya aneh," batin Gretel menjerit.
Bersamaan dengan itu, ponsel Hansel berdering yang mengganggu sepasang suami istri itu dalam proses pembuatan anak.
"Ck! Aku lupa mematikannya," decak Hansel sebal. Dia pun merogoh ponsel yang berada di kantong celananya.
Niat awal Hansel ingin mematikan ponsel tapi karena melihat nomor papa Abel yang menghubunginya dengan terpaksa Hansel menerima panggilan itu.
"Hallo?"
"Kau ke mana saja!?"
"Jangan meneriaki saya seperti itu!"
"Bagaimana aku tidak berteriak, Abel tidak mau makan dan jatuh sakit karena kau!"
Papa Abel menyalahkan Hansel dan Gretel yang mendengar itu jadi gusar, dia merebut ponsel suaminya dan mencoba berbicara pada pengganggu tersebut.
"Kenapa kau menyalahkan sifat kekanakan putrimu pada suamiku? Hansel sudah menikah jadi dia tidak punya urusan dengan putrimu lagi!" teriak Gretel penuh emosi.
Tanpa mau mendengar balasan, Gretel mematikan panggilan itu.