
Keenan melihat Ethel dan Jesa secara bergantian, tentu dia tahu kabar mengenai mereka.
"Jadi kalian tinggal bersama?" tanya Keenan memastikan.
"Iya, Dad. Aku akan bertanggung jawab pada hidup Jesa untuk selamanya," jawab Ethel percaya diri.
"Mungkin aku belum bisa menjadi presdir tapi aku akan terus berusaha, ini demi keluarga kecilku. Karena sebentar lagi pasti ada Mochi yang hadir di antara kami, aku harus menjadi daddy yang keren," sambungnya.
Keenan memijit pelipisnya mendengar itu. "Apa kau tahu konsep keluarga kecil, anak muda?"
"Kau harus menikah!"
Untuk urusan itu, Ethel meragu. Dia lebih suka hubungannya dengan Jesa seperti sekarang. Kalau dia memperjelas hubungan mereka, Ethel takut kalau Jesa akan menolaknya lagi.
"Bagaimana Jesa? Apa kau mau menikah dengan putraku? Walaupun dia kadang suka gila, hatinya cukup baik?" tanya Keenan pada Jesa.
Jesa bingung karena hubungannya dengan Ethel memang terjadi karena keterpaksaan. Jesa kadang masih merasa tidak nyaman apalagi kakeknya akhir-akhir ini mengganggunya lagi.
"Saya belum siap, Tuan," jawab Jesa.
Sudah Ethel duga kalau Jesa akan menjawab seperti itu dan dia menyalahkan Keenan karenanya.
"Dad, jangan campuri urusanku! Aku bisa mengatasinya," ucap Ethel.
"Bagaimana caramu mengatasinya? Kau bahkan meniduri seorang perempuan yang notabene tidak ingin hidup bersamamu, lebih baik kau perbaiki dirimu," balas Keenan.
Ethel menggeleng. "Ini pasti salah paham, iya kan, cintaku?"
"Maafkan aku, Ethel. Aku memang belum siap untuk menikah. Aku harus tetap mengurus kakek dan aku tidak mau membebanimu," jawab Jesa.
"Aku akan membelikan rumah dan memberi uang bulanan untuk kakek," bujuk Ethel.
"Sampai kapan? Kakek akan terus merepotkanmu untuk ke depannya." Jesa terus menolak karena seperti menjadi benalu.
Ethel meraup wajah Jesa kemudian menyatukan kening mereka. "Sudah aku bilang berapa kali kalau aku itu banyak uang kalau aku bangkrut kita bisa minta aset daddy yang banyak itu. Tenang saja, jangan mencemaskan hal tidak penting!"
Lagi-lagi Keenan dibuat geleng kepala dengan sikap Ethel, sepertinya dia harus menunda dulu pensiunnya karena anak laki-lakinya masih belum memenuhi kualifikasi menjadi presdir.
Namun, bukannya sadar Ethel justru akan mencium Jesa di depannya.
"Ehem... Ehem... Ehem... Ehem..."
...***...
"Apa pekerjaanmu sudah selesai, Gree?" tanya Hansel ketika melihat istrinya datang.
"Setidaknya berpamitan dulu padaku, aku mencarimu tadi," sambungnya.
"Sorry, aku tadi terburu-buru," balas Gretel seraya melepas high heels yang dia kenakan.
Hansel mendekati istrinya kemudian memeluknya. "Apa masih sakit? Bagaimana kalau kita jalan-jalan malam ini?"
"Aku baru mau mengajakmu jalan-jalan, Suamiku. Tapi di sini musim hujan sepertinya kita harus membeli payung," sahut Gretel.
Pasangan suami istri pun pergi keluar dan mencari payung di swalayan namun ternyata stoknya habis.
"Kalau begitu kita jalan-jalan saja ke tempat yang dekat dengan hotel," ucap Hansel.
"Sepertinya begitu," balas Gretel sambil merangkul suaminya. "Di manapun dan kapanpun sangat menyenangkan jika dilakukan bersamamu!"
Hansel membalas rangkulan istrinya. "Kalau kau kedinginan, ada tubuhku yang selalu bisa jadi penghangatmu!"
Ah, Gretel sangat menyukai ini. Dari dulu dia sangat menginginkan momen seperti ini bersama Hansel.
"Oh iya, Suamiku. Kau siap kan jadi daddy? Ini adalah masa suburku jadi pasti bibit Heronya sedang berkembang," jelas Gretel.
"Apa kau siap menjadi mommy?" Hansel justru membalik pertanyaan. "Kau yang akan mengandung dan melahirkannya nanti, Gree!"
"Tubuhmu tidak akan seperti ini lagi dan setelah bayinya lahir, tugas mengasuhnya juga tidak mudah. Aku takut kau mengalami baby blues jadi kalau tidak siap, menundanya pun tidak masalah," sambungnya.
"Aku sebenarnya takut tapi hal ini yang aku inginkan jika aku benar-benar hamil, aku akan langsung resign," balas Gretel.
Gretel hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang bahagia.