
Gretel tidak bisa tidur, dia hanya memandangi wajah suaminya yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Dia masih memikirkan cerita Hansel dan Gretel sedang berpikir bagaimana bisa mengeluarkan suaminya dari balas budi itu.
"Bukankah kalau mereka memanfaatkan itu artinya bukan balas budi lagi," gumam Gretel. Dia jadi kesal sendiri.
"Apa kalian berencana mengakuisisi perusahaan, Suamiku?"
"Jangan harap!"
Tak lama Gretel mendengar lenguhan dari mulut Hansel dan keringat terus keluar dari pelipis lelaki itu.
Gretel pun langsung memeriksa keadaan suaminya dan ternyata Hansel mengalami demam.
"Suamiku..." Gretel jadi panik. Dia segera membuka selimut Hansel kemudian berlari keluar kamar untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres.
Entah kenapa tiba-tiba Hansel jadi demam, mungkin masih ada sangkut pautnya dengan hari peringatan kematian orang tuanya.
"Aku buka bajunya ya, Suamiku." Gretel mencoba membuka kancing piyama Hansel, lelaki itu memang memakai piyama pemberian Keenan sebelumnya. "Aku hanya ingin mengelap tubuhmu saja!"
Perlahan Gretel membuka kancing demi kancing piyama sampai terlihat perut kotak-kotak sang suami.
Gretel menelan ludahnya kasar, dalam hatinya dia berkata. "Mantap!"
...***...
Di sisi lain, Ethel membolak balikkan tubuhnya karena tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Jesa.
"Berani-beraninya dia menjauhkan aku dari Mochiku!" kesal Ethel.
Beruntung dia menyimpan nomor ponsel Jesa jadi Ethel mencoba menghubungi perempuan itu. Ethel semakin kesal karena Jesa tidak menerima panggilan darinya.
"Sial!" umpat Ethel.
Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk pergi ke unit di mana Jesa berada. Karena unit itu sudah menjadi miliknya, Ethel bisa masuk dengan mudah.
Ternyata Jesa tidur dengan pulas dan ponselnya dalam keadaan silent.
"Kali ini aku memaafkanmu," gumam Ethel.
Bukannya pulang, lelaki itu justru ikut tidur dan memeluk Jesa. Tak butuh waktu lama, dia pun langsung tertidur.
Sepertinya mulai sekarang, dia harus membiasakan diri dengan sikap Ethel dan berusaha santai saja.
Perlahan Jesa turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Jesa membasuh tubuhnya di bawah shower, tiba-tiba Ethel masuk dan duduk di atas closet.
Walaupun ingin berteriak dan marah, Jesa berusaha menahan diri.
"Aku sakit perut," ucap Ethel seraya memegangi perutnya yang sakit. Tak lama bunyi kentut terdengar dan Ethel tidak merasa bersalah sama sekali.
"Itu gejala alami," tambahnya.
Jesa tidak merespon, dia mempercepat mandinya supaya bisa keluar dari kamar mandi.
"Tumben kau tidak teriak," tegur Ethel karena melihat Jesa yang tampak tenang.
"Sedang malas," balas Jesa seraya meraih handuknya.
Perempuan itu melilitkan handuk ke tubuhnya kemudian berjalan keluar dari kamar mandi tapi sebelum memegang gagang pintu, dia mendengar lagi bunyi kentut Ethel.
Brat Brit Brut Bret Brot!!!
"Astaga, orang aneh bunyi kentutnya juga aneh," batinnya.
Sementara Ethel merasa kagum karena baru pertama kali mendengar bunyi kentut yang bernada seperti itu.
"Kau dengar kan Jesa?" tanyanya pada perempuan itu.
Sempat-sempatnya Ethel bertanya hal seperti itu padanya.
"Aku tidak mendengar apapun," balas Jesa cepat-cepat membuka pintu. "Aku hanya mendengar fenomena alam yang menggelikan!"
"Menggelikan?" Ethel merasa tidak terima karena Jesa baru saja melakukan kentut shaming.
_
Sorry baru up ges, masih ada lagi, stay tune ya😘