The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 66 - Pemanasan



"Hero? Enak saja! Aku tidak akan membuka pabrik bayi dengan mudah," batin Gretel mode merajuk.


Gretel memang mengikuti Hansel mencari hotel karena badannya sudah lelah dan mengantuk.


Kali ini benar-benar hotel yang bebas banjir bukan penginapan dekat pantai seperti sebelumnya.


"Nyamannya," ucap Gretel setelah melancarkan diri di atas kasur.


Hansel tersenyum melihat istrinya, jantungnya berdebar tidak karuan.


"Apa ini gejala sebelum membuat anak?" batin Hansel sambil mencoba menenangkan diri. Dia harus rileks.


Sementara Gretel sudah terbang ke alam mimpi karena rasa kantuk dan lelah yang mendera. Dia sampai melupakan membersihkan diri terlebih dahulu.


Untuk itu, Hansel menyeka tubuh istrinya. Lelaki itu melepas semua baju Gretel sampai tubuh gadis itu polos. Kalau dulu dia tidak akan bereaksi apa-apa melihat tubuh indah itu tapi sekarang berbeda, hanya melihat sekilas saja miliknya langsung menegang.


Tapi, dia tidak boleh memaksa. Hansel akan menunggu sampai Gretel benar-benar siap.


...***...


Gretel bangun karena lapar, pagi tadi dia hanya makan sepotong sandwich. Dan saat melihat jam, Gretel baru sadar ternyata hari sudah malam. Gretel juga dikejutkan dengan bajunya yang berganti dengan piyama.


"Apa suamiku yang melakukannya?" gumam Gretel seraya mencari keberadaan Hansel.


Lelaki itu tertidur di sofa dalam posisi menyamping.


Sejenak dia kasihan pada Hansel tapi karena gengsi Gretel menepis semuanya.


"Aku bukan gadis gampangan," ucapnya.


Gretel mengambil telepon di kamar hotel itu untuk memesan beberapa menu makanan di restoran hotel tersebut. Rasanya dia malas mau kemana-mana.


Apalagi hujan kembali mengguyur pulau Borgia.


"Ternyata di sini memang musim penghujan," ucap Gretel seraya turun dari ranjang. Dia berdiri di depan dinding kaca kamar itu.


"Aku besok harus mengecek pusat perbelanjaan yang ada di sini, aku sengaja tidak memberitahu kalau datang, apa para pegawai memang jujur, kita lihat saja nanti!"


Gretel bermonolog pada dirinya sendiri sampai tanpa sadar ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan memakaikannya selimut.


"Kau sudah bangun, Istriku?" tanya Hansel yang baru saja terbangun. Dia melihat Gretel yang berdiri melihat hujan jadi Hansel langsung berinisiatif mendekat.


"Istriku?" Gretel merasa baru pertama kalinya Hansel memanggilnya seperti itu.


"Kau memang istriku, bukan? Gretel Meyer," ucap Hansel yang menyematkan nama belakangnya pada Gretel.


Gretel mengulum senyumnya tapi dia langsung memasang wajah datar lagi. "Jangan dekat-dekat!"


"Aku tidak suka,"


"Benarkah tidak suka?"


"Jangan menggodaku,"


"Aku tidak menggoda!"


Hansel terus merapatkan diri sampai miliknya kembali menonjol dan Gretel bisa merasakan karena benda itu menggesek bokongnya.


"Apa itu tadi?" tanya Gretel.


"Itu terus berdiri, Gree. Sepertinya kita tidak bisa menundanya lagi, kepalaku mau pecah karena sudah menahannya lama," sahut Hansel membujuk istrinya supaya mau membuka pabriknya.


Ini adalah kesempatan yang bagus untuk balas dendam.


"Aku tidak mau," ucap Gretel kemudian.


"Kenapa?"


Belum sempat menjawab, pintu kamar mereka diketuk petugas hotel karena pesanan makanan Gretel sudah jadi.


Gretel buru-buru melepaskan diri dari dekapan Hansel karena ingin membuka pintu.


"Aku sangat lapar, silahkan dorong masuk," ucap Gretel mempersilahkan petugas hotel untuk mendorong troli makanan masuk ke dalam.


Ada beberapa menu makanan, Hansel dengan sigap melayani istrinya.


"Aku suapi ya, istriku,"


"Tidak mau,"


"Kau tidak boleh lelah, lelahnya nanti saja jadi buka mulut, Aaaa..."


"Tidak mau,"


"Mau,"


"Tidak,"


"Tidak,"


"Mau, Eh?"


"Aha...."