
Papa Abel mengeratkan gigi gerahamnya karena Gretel berani berbicara seperti itu padanya. Pertama saat di sambungan telepon, kedua ketika berhadapan langsung seperti ini.
"Hansel masih bisa bertahan sampai sekarang karena belas kasih keluargaku, kau itu tidak tahu apa-apa," ucap papa Abel gusar.
"Aku sudah bertahun-tahun menjadi penguntit suamiku, tentu aku tahu bagaimana kau yang membebankan rasa balas budi itu padanya," sahut Gretel yang tidak mau kalah.
Biar saja dia dianggap berani pada orang tua, Gretel tidak akan takut kalau dia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Ada apa ini?" Abel yang mendapat laporan dari pelayan langsung keluar dari kamarnya.
Melihat ada Hansel datang, Abel langsung menghambur memeluk lelaki itu.
"Akhirnya kau datang, Babe. Aku merindukanmu," ucapnya tak tahu malu.
Sedetik kemudian tubuh Abel terhuyung karena Gretel mendorongnya.
"Jangan sentuh suamiku!" geram Gretel seperti singa betina.
Abel merasa tidak terima, dia ingin menampar Gtetel tapi tangannya langsung dicekal oleh Hansel.
"Cukup! Aku tidak mau ada keributan!" pekik Hansel seraya menghempas tangan Abel.
"Kau membela istrimu sekarang? Mana janjimu?" Abel terus menuntut janji dari Hansel. Dia tidak terima jika dicampakkan seperti ini.
"Aku datang kemari karena ingin mengatakan sesuatu padamu, hubungan kita berakhir dan aku tidak bisa menepati janji itu karena aku memilih istriku," ungkap Hansel dengan tegas.
Gretel menggenggam tangan suaminya saat Hansel mengatakan hal itu.
"Aku harap kalian semua jangan mengganggu hubungan kami lagi. Awalnya pernikahan kami memang hanyalah pernikahan bisnis tapi sekarang semua sudah berubah," timpal Gretel.
Bersamaan dengan itu tim kuasa hukum yang dihubungi Gretel tiba, beruntung jarak yang ditempuh tidak jauh dan dia sempat mengetik dokumen perjanjian sebelum pergi.
"Nona Gretel," panggilnya.
"Akhirnya kau datang," balas Gretel seraya mengulurkan satu tangannya. "Sudah jadi kan dokumennya?"
"Iya, Nona." Lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu memberikan dokumen yang telah dia ketik sebelumnya pada Gretel.
Gretel menerima dokumen itu dan meminta pihak dari keluarga Abel untuk tanda tangan.
"Aku ingin kita semua menyelesaikan semua ini dengan cara kekeluargaan, aku tidak mau memperpanjang masalah jadi tanda tangan saja. Atau..." Gretel berseringai seraya menatap Abel dan papanya bergantian.
Mendengar itu papa Abel langsung terkesiap kalau sampai manipulasi itu terbongkar, dia bisa masuk penjara.
Akhirnya papa Abel memaksa putrinya juga ikut tanda tangan dalam surat perjanjian itu.
"Padahal aku hanya menggertak saja ternyata dia langsung tanda tangan. Artinya dugaanku benar, 'kan? Kalian cari masalah pada orang yang salah," batin Gretel kemenangan.
Kemudian dia menatap suaminya dan mengerlingkan matanya seolah berkata benar kan kataku.
Jantung Hansel berdebar saat itu juga, dia menyukai sisi Gretel yang seperti itu. Gretel terlihat keren.
"Kalian memberi keputusan yang bijak," ucap Gretel saat dokumen sudah ditanda tangani.
Tidak mau berlama-lama, Gretel membawa suaminya pergi dari sana.
"Sekarang kau bebas, Suamiku!" seru Gretel saat mereka masuk dalam mobil.
"Aku kehabisan kata-kata lagi, Gree," balas Hansel yang sekarang merasa kecil sekali di mata istrinya.
"Simpan kata-kata itu untuk nanti malam, MAUNG!" Gretel mangaum seperti singa betina siap kawin.
Kepergian pasangan suami istri itu membuat Abel kesal, dia merasa sangat terhina.
"Pa, kenapa kita harus tanda tangan semudah itu," protesnya.
"Tenang sayang, papa ada rencana untuk mereka," sahut papa Abel penuh seringai licik.
_
Ges, bantu rate bintang 5 ya biar ratingnya balik lagi.😢
Othor juga mau rekomendasiin karya baru temen othor. Dibaca juga ya.
Judul : Istri 1 Triliun
Napen : Navizaa