
Di sebuah kamar apartemen, terdengar suara percintaan dua anak manusia. Tampak sang lelaki begitu bersemangat menggerakkan pinggulnya sementara lawan mainnya sudah kelelahan.
"Aku lelah," keluh Jesa yang pinggangnya seakan mau putus.
"Sebentar lagi, tahan cintaku," balas Ethel. Dia tidak mau melepas Jesa padahal ini sudah adonan Mochi kesekian kalinya.
Jesa hanya bisa pasrah, dibalik sikap Ethel yang kadang suka kekanakan tapi kalau urusan ranjang, staminanya luar biasa. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan daun muda.
Saat Ethel akan mengeluarkan fermipan kentalnya, bel apartemen berbunyi. Ethel mengerutkan keningnya karena merasa terganggu sekali.
"Buka dulu, sepertinya penting," ucap Jesa.
Ethel berhenti dan berdecak sebal, dia memungut kimono tidurnya untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Sebentar cintaku, tunggu aku!"
Lelaki itu pun keluar dari kamar yang memang pintunya terbuka, Ethel berjalan ke arah interkom untuk melihat siapa yang datang.
"Gree..." Ethel terkejut karena melihat saudaranya datang dalam keadaan menangis. "Bukankah dia sekarang seharusnya berada di hotel?"
Buru-buru Ethel membuka pintu dan Gretel langsung memeluk saudara kembarnya itu.
"Ethel!" Gretel menangis dipelukan saudaranya.
"Ada apa?" tanya Ethel bingung. Tidak biasanya Gretel akan menangis seperti itu kalau tidak ada masalah yang serius.
Jesa yang mendengar suara tangisan perempuan bergegas memakai bajunya lagi. Dia segera keluar kamar dan mendapati Gretel yang dipeluk Ethel di ruang tamu.
Tidak tahu ada masalah apa, Jesa mengambil air untuk dia berikan pada Gretel.
"Minum dulu!"
Gretel menggeleng, dia hanya ingin berada di pelukan Ethel, kalau ada Keenan pasti sekarang gadis itu mengadu pada sang daddy.
Untuk kali ini, Ethel bersikap sebagai kakak yang berbeda dua menit dari Gretel. Dia sabar menunggu dan tidak bertanya sampai adiknya tenang.
"Ada apa? Cepat katakan!" Ethel jadi gusar.
Gretel pun menceritakan kejadian yang berada di restoran hotel di mana Abel dan papanya tengah memfitnahnya.
Sebelumnya sampai ada pihak kepolisian datang tapi karena Gretel memang tidak melakukan apapun bahkan ada saksi yang melihat, gadis itu bisa bebas.
Pikirannya langsung tertuju pada Ethel, tidak menunggu satu dua Gretel datang ke apartemen saudaranya itu.
"Kau benar Ethel, aku memang bodoh!" Gretel sudah merasa inilah akhir perjuangannya.
Ethel bangkit dari duduknya, dia pergi ke kamarnya untuk memakai baju yang benar. Dia akan mencari Hansel dan menghajar lelaki itu.
Baru kali ini Jesa melihat Ethel tampak begitu serius dengan amarah yang menggebu-gebu, perempuan itu kaget tapi dia harus mencegah Ethel supaya tidak main hakim sendiri.
"Kalau kau masuk penjara bagaimana?" tanya Jesa.
"Aku tidak peduli, Hansel telah menyia-nyiakan adikku! Aku tidak akan memberi ampun!" Ethel sudah dikuasai emosi.
Gretel tidak mau masalah ini semakin diperpanjang, dia akan belajar merelakan cintanya.
"Ethel, jangan lakukan itu! Aku tahu, kau menyayangiku tapi aku tidak mau terjadi apa-apa padamu," ucap Gretel.
"Tapi, Gree..."
"Aku mau menenangkan diri, jaga perusahaan dengan baik,"
Tidak mau melibatkan orang lain dalam masalahnya, Gretel memilih kembali ke penthousenya.
Gadis itu mengemasi barang-barangnya, sebelum pergi, Gretel menyempatkan diri memasak dengan derai air mata.
Hanya menu sederhana yang dia pelajari dari kelas memasak, dia menyajikan masakannya itu di meja makan.
"Masakan terakhirku, semoga kau menyukainya," ucap Gretel dengan tetesan air mata.