The Marriage Business

The Marriage Business
TMB BAB 55 - Berkobar



Kau akan mati tahun ini


Kecelakaan kontruksi


Kebakaran


Tabrak lari


Ethel langsung berteriak karena kembali bermimpi buruk. Lelaki itu menoleh ke arah sampingnya yang kosong, biasanya ada Jesa di sana.


"Dewiku, kenapa kau pergi?" Ethel kembali sedih.


"Kecelakaan konstruksi, kebakaran, aku sudah pernah mengalaminya,"


"Sekarang tinggal tabrak lari,"


Ethel semakin paranoid dan tidak bisa memejamkan matanya lagi. "Apa aku harus membuat surat wasiat untuk orang tuaku dan Gretel?"


"Tapi, mereka pasti bahagia kalau aku tidak ada lagi di dunia ini,"


"Aku hanya beban keluarga ditambah aku sudah tidak perjaka lagi,"


Ethel begitu mendramatisir keadaannya, dia jadi teringat Mochi. Seharusnya dia tidak perlu memakai pengaman waktu itu pasti Mochi tidak akan gagal produksi.


"Aku memang tidak berguna!"


Dengan langkah gontai, Ethel keluar dari kamarnya. Dia sangat lapar dan haus karena dari siang belum makan.


Namun, saat dia menuju dapur atensinya tertuju pada sofanya di mana ada sepasang manusia tidur di sana. Ternyata Hansel dan Gretel tidur di sana dengan saling berpelukan.


"Kalian mau pamer, ya." Ethel mencoba membangunkan kedua orang itu.


Hansel dan Gretel terbangun, mereka mendudukkan diri seraya menatap Ethel.


"Suamiku, itu bukan hantu, 'kan?" tanya Gretel sambil mengucek-ngucek matanya.


"Dilihat dari wajahnya yang kusut sepertinya dia sungguhan," sahut Hansel.


Ethel meradang, bisa-bisanya dia dikira sudah jadi hantu. "Lebih baik kalian pergi dari apartemenku!" usirnya.


Tanpa Gretel duga, Ethel jadi memasang wajah sedih lagi.


"Jadi kau selama ini menganggapku seperti itu, Gree..." Ethel menutup wajah dengan satu tangannya. "Apa Jesa juga berpikiran seperti itu padaku?"


"Aku rasa, Jesa lebih berpikir kau itu punya kelainan," jawab Gretel jujur.


Ethel tidak mau berdebat lagi, dia cukup sadar diri. Dia akan mencoba intropeksi diri dengan bercermin dan melihat pantulan bayangannya.


Kemudian dia mengarahkan cermin kecil itu pada pangkal pahanya.


"Setidaknya aku punya lightsaber yang cukup membanggakan," ucapnya.


"Aku harus tahu tipe laki-laki seperti apa yang diinginkan Jesa, aku tidak mau mati karena menjadi korban tabrak lari, itu sangat tidak keren!"


Ethel tidak akan menyerah untuk mendapatkan dewi keberuntungannya kembali.


Lamunan Ethel buyar karena merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan Gretel.


"Baru ditolak beberapa kali, kau sudah seperti ini. Lihatlah aku ditolak sampai 16 kali tapi aku tidak pernah menyerah untuk berjuang," ucap Gretel berusaha menghibur saudaranya.


"Ini beda, Gree. Ini masalah hidup dan matiku," balas Ethel.


"Jadi, kau tidak mencintai Jesa? Kau hanya ingin menjadikan dia dewi keberuntungan dan mesin pencetak Mochi semata?" cecar Gretel.


Ethel langsung terdiam, dia mencerna pertanyaan Gretel. Kalau dipikir-pikir memang benar dan Ethel tidak menyukai itu.


"Datangi kakeknya dan minta baik-baik, kalau kakeknya menolakmu, barulah aku dan daddy akan membantu," ucap Gretel yang meminta Ethel untuk berjuang sendiri.


Semangat Ethel langsung berkobar, apa yang dikatakan saudara perempuannya memang benar. Dia harus berjuang sampai titik darah penghabisan.


Ditolak 100 kali pun dia tidak akan menyerah dengan mudah.


"Jesa, cintaku...."


"Tunggu aku, aku pasti akan menjemputmu!"