
Jangan terlalu mempercayai orang lain. Itulah yang hari ini Hiro dapatkan sebagai pelajaran. Semua ini terjadi karena dia terlalu yakin bahwa Daichi yang kemarin baru saja menghinanya, kini tiba-tiba sudah berubah menjadi baik dan menghormatinya. Namun sebenarnya, itu bukanlah sifat asli mereka.
...
Sekarang ini sedang jeda waktu istirahat sebelum pertandingan final antara Tim kelompok usia 12-14 milik Hiro, dan Tim kelompok usia 15-16 milik Daichi dalam turnamen Zekka. Final ini disebut sebagai final ideal karena kualitas kedua tim tidak begitu jauh.
Setelah sempat didatangi oleh Daichi yang memberikan semangat kepada Hiro dan teman-temannya, Hiro tidak menaruh rasa curiga kepadanya. Hiro benar-benar membuang rasa buruk sangka itu. Akan tetapi, Ryota malah menaruh rasa curiga kepada Daichi dengan mengatakan bahwa mereka pasti merencanakan sesuatu yang licik.
"Iyakah?" Hiro terkejut mendengar Ryota mengatakan bahwa kebaikan Daichi dan teman-temannya adalah palsu.
"Iya. Daichi itu orang yang ambisius dan gak mau kalah! dari dulu pasti menyingkirkan semua orang yang mau menghalangi jalannya di Akademi!" Kata Ryota.
"Dari mana kau tahu itu?" Tanya Hiro.
"Huuhh..semua orang di sini tahu itu," Ucap Ryota.
Hiro sangat kesal, namun Ryota belum selesai berbicara. "Hiro! kau ini pesaing berat Daichi! maka itu kau harus berhati-hati dengan Daichi. Dia tidak suka melihat orang lain sedang dibandingkan dengan dirinya, dan kau adalah orang itu!"
"Lalu apa yang harus kulakukan Ryo?"
"Hmm..," Ryota kemudian berpikir. "Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan Daichi di pertandingan nanti."
"Hanya begitu saja? baiklah," Ucap Hiro. Dia merasa siap menghadapi laga final nanti.
...
Waktu istirahat pun telah habis. Takashi telah kembali mengumpulkan semua anak asuhnya termasuk Hiro. Takashi sudah mengumpulkan semua data tentang lawannya. Dia meracik sedang strategi yang tepat seperti, mengganti kiper utama dengan kiper cadangan, memainkan pemain bertahan yang bertubuh tinggi, hingga menyimpan Hiro di bangku cadangan.
"Kita akan bermain bertahan di babak pertama," Kata sang pelatih itu. "Di babak kedua, baru kita akan tampil lebih menyerang dan lebih menekan di saat lawan mulai kelelahan, paham?!"
"Paham!!"
"Baiklah, sekarang ini sudah waktunya untuk ke lapangan. Cepatlah pergi, dan bawa pulang kembali piala turnamen ini!" Takashi memberikan motivasi.
...
Barisan para agen pencari bakat muda mulai mencatat sesuatu di kertas mereka. Seluruh pemain yang bermain di partai final ini pasti mendapatkan sorotan penuh, terutama untuk Hiro dan Daichi yang merupakan kandidat untuk merebut gelar pencetak gol terbanyak di turnamen (top skorer).
Saat berada di lapangan, seluruh pemain dan pelatih dari tim kelompok usia 15-15 sangat terkejut ketika tahu jika lawan mereka yaitu tim 12-14 tahun malah menyimpan kebanyakan pemain-pemain inti mereka, seperti Hiro.
Daichi sendiri sangat kecewa setelah mengetahui Hiro dicadangkan. "Cih.., Kenapa Hiro malah tidak langsung bermain? kalau begini rencanaku bisa berubah," Gumam Daichi.
...
Laga dimulai, dan pemain dari kelompok usia 12-14 sangat menjalankan perintah Takashi dengan baik. Mereka memainkan taktik bertahan hingga lawan dibuat frustasi karena tidak bisa membuat peluang.
"Aaahhh!!!" Gerang Daichi saat membuang sebuah peluang untuk mencetak gol.
Pertahanan tim 12-14 yang di galang oleh Ryota sebagai bek tengah sangatlah solid. Dia berkali-kali memutuskan serangan lawan.
Nampaknya performa apik Ryota ini membuat para pencari bakat muda terkesan. Mungkin Ryota telah di pantau oleh beberapa orang. Dari bangku cadangan, Hiro juga terkesan melihat temannya bermain sangat bagus di pertahanan. "Ayo Ryo! tetap fokus!" Hiro menyemangati Ryota dan seluruh rekan-rekannya. "Ayo! semuanya juga jangan lengah!"
...
Hingga Babak pertama berakhir, skor masin 0-0 sama kuat. Tim 12-14 tahun yang sedari tadi terus bertahan, membuat seluruh pemain sangat kelelahan, bahkan Ryota.
"Permainan sudah bagus! sesuai apa yang kuinginkan," Takashi memberikan tepuk tangannya. "Setelah ini di babak kedua, aku akan memasukkan pemain-pemain inti. Setelah itu kita akan bermain menyerang dan terus menekan hingga berakhirnya laga."
Saat babak kedua dimulai, Takashi langsung memasukkan tiga pemain segar sekaligus. Hiro, Yuki, dan Sato adalah tiga pemain inti di tim 12-14 tahun.
Pelatih lawan yang melihatnya, juga langsung melakukan perubahan terhadap timnya. Banyak perubahan yang juga terjadi.
...
Karena kurang fokus ke pertahanan, tim 12-14 terlebih dahulu kebobolan lewat sundulan kepala Daichi. Skor berubah 1-0 keunggulan tim 15-16. Beberapa saat kemudian, tim 15-16 berhasil menggandakan keunggulan menjadi 2-0. lewat gol bunuh diri.
Dengan kondisi seperti ini, tim 12-14 tahun yang masih belum terlatih secara mental, mereka menjadi bermain serba salah dan tidak mendengar ucapan Takashi. Beruntung mereka berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 berkat gol Hiro dari jarak jauh.
Pertandingan final ini terus berjalan. Dan ketika sudah pertengahan babak kedua berjalan. Pemain dari tim 12-14 tahun mulai terkuras tenaganya.
"Aduh.., sepertinya anak-anak mulai kelelahan," Pikir Takashi. "Kalau begini bisa bahaya jika terkena serangan balik musuh,"
Di tengah lapangan, kondisi juga sama. "Masih ada stamina Ryo?" Tanya Hiro kepada Ryota yang terlihat sudah bernapas tidak teratur.
"Tidak..tidak apa-apa," Jawab Ryota.
Ryota sudah memainkan laga sejam lebih. Dirinya juga terlalu banyak berlari sepanjang pertandingan untuk menjaga pertahanan. Bisa dibilang, Ryota sangat memaksakan dirinya untuk terus bermain.
...
Waktu masih cukup lama, dan hal yang ditakutkan Takashi pun terjadi. Ryota membuat kesalahan dalam mengoper bola. Bola itu direbut musuh dan mendapatkan serangan balik. Dari serangan balik itu, gol ke-3 tim 15-16 pun tercipta. Lagi-lagi Daichi yang mencetak gol yang membuat harapan tim 12-14 tahun untuk juara menjadi sirna. Hingga saat ini dia telah mengoleksi 6 gol di turnamen ini, meninggalkan Hiro sebagai saingan dengan 4 gol saja.
Skor 3-1 bertahan hingga akhir pertandingan. Seluruh pemain 15-16 tahun begitu bergembira dan senang. Mereka memenangkan piala ini dua kali berturut-turut setelah sebelumnya mereka juga juara.
Hiro hanya bisa terkapar di atas rumput saat melihat tim 15-16 tahun mengangkat piala turnamen ini. Hiro yang masih kecewa, tetap memberikan tepuk tangan kepada lawannya yang juara.
Beberapa saat kemudian seluruh tim di panggil oleh Takashi. Pelatih itu terlihat gusar dan sedikit kesal.
"Tidak usah memaksa bermain!" Ujar Takashi dengan nada tinggi. "Walaupun kau bermain bagus namun kau kelelahan, apa kontribusimu untuk tim? ha?" Teguran Takashi tertuju kepada Ryota.
"Maaf pelatih..," Ucap Ryota.
Karena ini jugalah banyak para pencari bakat yang menghapus nama 'Ryota' dari daftar rekomendasi. Masalah utama Ryota adalah kebugaran.
"Kay harus meningkatkan kebugaran tubuhmu Ryota!" Pesan Takashi. "Bukan hanya Ryota, semuanya juga sama!"
Seluruh pemain menjadi sangat kecewa. Bahkan setelah pulang sekalipun, Ryota saja sampai kehilangan karakter cerianya karena sangat sedih dan malu.
"Aku pulang sendiri dulu ya Hiro. Minggu depan baru akan pulang bareng lagi," Ucap Ryota dengan wajah datar.
"Ya," Ucap Hiro.
Ryota pun masuk sendiri ke mobilnya dengan cepat. Dia meninggal Hiro sendirian menunggu bis di halte dekat Akademi.
Saat Hiro sedang menunggu bis di halte. Dia di datangi oleh Daichi yang membawa piala sepatu emas di tangan kanannya. Piala sepatu emas berarti dia mendapatkan gelar pencetak gol terbanyak di turnamen Zekka ini.
"Mau apa lagi dia?" Dalam hati Hiro.
"Hey! lihat apa yang aku dapatkan! aku adalah pencetak gol terbanyak di turnamen! hahaha!" Daichi tertawa, lalu dia bertanya kepada Hiro, "Sebentar? mana piala mu? Oh iya aku lupa! kau kan tidak memenangkan apapun, ahaha!!"
Tepat sekali, Daichi hanya ingin memanas-manasi Hiro.
"Bisakah kau pergi dari sini.., cepat," Suasana hati Hiro sedang buruk. Dia meminta Daichi untuk segera pergi dari hadapannya.
"Oooh? apa ini? kau tersinggung wahai sang juara 2 sekaligus top skorer nomer 2.., haha! Kau tidak akan bisa lebih baik dariku!"
"CEPAT PERGI!" Hiro tidak akan mengulangi kata-katanya lagi.
"Baiklah.., baiklah, hahah," Daichi pun langsung berjalan melewati Hiro yang sedang terduduk.
"Sampai jumpa pecundang!" Ucap Daichi dengan sombong, berjalan meninggalkan Hiro.
Tapi keinginan hati tidsk bisa di tipu. Dari jauh, mata Hiro terus memandangi medali emas di leher Daichi sambil berpikir. "Kapan aku bisa mendapatkan itu?"