
Tujuh hari yang lalu, Hiro baru saja menyelesaikan perjanjian kontrak dengan Darwin sebagai pemilik Akihabara FC. Sekarang, sudah saatnya bagi Hiro untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan.
"Mulai Minggu depan, kau dan Ryota akan pindah dari Kota Sapporo menuju Akihabara. Di sini kami sudah menyediakan semuanya, jangan khawatir," Itulah ucapan Darwin seminggu yang lalu.
Hiro sendiri sudah memberitahu kepada Ryota tentang kontrak kerja Akihabara FC. Ryota sangat senang sekali ketika mengetahui bahwa pihak klub juga merekrut dirinya.
"Wah.., benarkah!! terimakasih Hiro! berkat usahamu, akhirnya mereka juga mau merekrutku!" Ucap Ryota tempo hari.
Hingga pagi ini, Hiro sedang mengemasi barang-barang di kamar asramanya. Dia sudah lulus dari Universitas Sapporo. Banyak kenangan-kenangan manis dan pahit Hiro rasakan di tempat ini. Foto-foto yang terpampang di dinding kamarnya dia ambil satu-persatu. Ada beberapa foto yang selalu Hiro ingat momennya, seperti ketika dia pertama kali masuk ke asrama, teman pertamanya di kampus, lalu ada foto ketika dia sedang dirawat di rumah sakit karena babak belur dipukuli oleh orang yang selalu merundungnya.
Tapi dari semua foto itu, ada sebuah foto yang sangat penting bagi dirinya. Yaitu foto ketika Hiro dan kawan-kawan berhasil menjuarai turnamen UFF. Di dalam foto itu ada seluruh teman-temannya di klub Universitas, serta Ryota, dan Saki yang berfoto di samping Hiro.
"Rasanya empat tahun sangat cepat..," Gumam Hiro sambil memandang foto terakhir itu sebelum dia masukan ke dalam kardus.
...
Setelah selesai membereskan barang-barang, Hiro pun keluar dari kamarnya. Dia ingin berkeliling sebentar bertemu dengan teman-teman satu angkatan di asrama itu. Hiro bertemu dengan teman-temannya yang juga sedang mengemasi barang mereka. Mereka saling menyapa ketika bertemu. Meski hanya sedikit, namun Hiro tidak akan melupakan teman-temannya.
...
beep..beeep... ponsel Hiro bergetar. Hiro menepi dan bersandar di dinding koridor sambil membuka pesan yang ada di dalam ponselnya.
"Hiro.., kau sedang luang? bisa menemuiku di taman?" Itulah pesan yang didapat Hiro dari Saki.
"Baiklah, aku akan segera kesana," Hiro membalas pesan Saki.
Hiro pun bergegas keluar gedung menuju taman yang berada di antara gedung asrama laki-laki dan asrama perempuan.
"Kenapa tiba-tiba Saki meminta bertemu denganku di taman?" Pikir Hiro.
Beberapa saat kemudian, Hiro pun sampai di taman kampus. Taman di mana Hiro dan Saki pertama kali bertemu. Di tengah taman, sudah terlihat Saki yang duduk sambil ditemani oleh seekor kucing yang duduk di pahanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah dedaunan pohon menyinari separuh wajah Saki.
Hiro pun menghampirinya. "Saki..!" Teriak Hiro.
Saki menoleh dan tersenyum. "Hehe, kemari Hiro.., lihat siapa yang ada di pangkuanku..,"
"Kucing?"
Hiro pun duduk di samping Saki. Hiro sudah duduk di sebelahnya namun Saki masih asik dengan kucingnya. Hiro pun bertanya kepada Saki kenapa dia ingin menemuinya di sini.
Saki menjawab, "Tidak ada apa-apa..,"
"Huh..?" Tentu Hiro yang mendengar ucapan Saki sedikit heran.
Saki lanjut mengatakan bahwa dia hanya ingin melihat Hiro untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi dari Sapporo menuju Akihabara. "Kau akan pergi hari ini bukan? apakah aku salah jika ingin melihatmu sebentar saja?" Ucap Saki dengan senyumnya yang manis.
"Saki..," Desis Hiro. Hiro mengerti perasaan Saki. Hiro pun memeluk Saki saat itu juga.
Setelah beberapa bulan berpacaran, Hiro dan Saki baru kali ini berpelukan. Memang, kedua pasangan ini masih belum mengerti dengan apa yang harus dilakukan layaknya seorang pasangan.
...
Saki sedikit terkejut ketika Hiro memeluknya dengan erat. Kucing putih yang ada di pangkuannya sontak melompat dan mengeong di depan Hiro dan Saki.
...
"Saki..," Desis Hiro lagi. "Maaf ya, aku bakal pergi keluar kota buat waktu yang lama,"
"Iya," Ucap Saki lirih. "Gak papa, aku juga sudah tahu jika resiko memiliki kekasih seorang atlet adalah harus menerima kenyataan harus berhubungan jarak jauh..,"
Hiro sedikit terkejut mendengar pernyataan Saki. "Terimakasih sekali atas pengertiannya," Hiro melepaskan pelukannya dan menatap mata Saki. "Jika ada kesempatan, aku pasti akan kembali kepadamu Saki. Terimakasih karena selalu mendukungku kapanpun..,"
Saki tersenyum. "Tidak mengapa. Kau tidak perlu memaksa. Jika tidak bisa selalu menemuiku, aku juga tidak masalah. Aku hanya ingin melihatmu berprestasi Hiro,"
"Sekali lagi, aku benar-benar berterimakasih atas pengertianmu Saki. Aku benar-benar bersyukur memiliki kekasih sepertimu," Ucap Hiro.
Wajah Saki menjadi merah karena malu di puji oleh Hiro. "Aku juga bersyukur," Gumam Saki.
Akhirnya mereka berdua pun pulang ke kamar asrama mereka masing-masing untuk mengangkut barang-barang untuk segera dikeluarkan dari kamar. Setiap ada angkutan mahasiswa yang lulus, setiap kamar asrama yang pernah digunakan akan segera diisi oleh mahasiswa baru. Maka dari itu Hiro dan yang lain harus segera mengeluarkan barang-barang.
...
Hingga tengah hari, akhirnya pekerjaan Hiro selesai. Dia menggunakan jasa untuk memindahkan barang-barangnya kembali ke rumah asalnya, yaitu rumah Ayah. Hiro sudah memberi tahu Ayahnya mengenai hal ini.
Sebelum pulang, Hiro sempat menelepon Ryota untuk memberitahu kepadanya juga.
Hiro: Halo Ryota.., nanti jika ingin berangkat ke stasiun tolong jemput aku di rumah ya..,"
Ryota: Ehh? kau mau pulang ke rumah?
Hiro: Iya. Sekalian menaruh barang-barangku di sana..
Ryota: Oke baiklah, nanti aku akan menghampirimu di rumah ketika ingin berangkat ke stasiun bersama.
Hiro: Baiklah, sampai jumpa nanti,
tuu..ttuut.. Hiro menutup teleponnya.
...
Hiro sangat bersemangat sekali karena akan bertemu dengan sang Ayah pertama kali semenjak beberapa bulan lalu. Bahkan saat acara wisuda Ayahnya pun tidak hadir. Ini akan menjadi pertemuan yang emosional bagi Hiro dan Ayahnya.
...
dok..dok..dok... Hiro mengetuk pintu rumahnya. "Ayah? apakah ada di rumah?"
ckleek.. pintu terbuka. "Tentu saja Ayah di rumah," Jawab Ayah Hiro yang membukakan pintu untuk putranya.
Ayah dan anak ini pun saling bertukar ekspresi wajah yang beragam. Kerinduan, suka-cita, pengalaman, kabar gembira, ataupun luka di hati, semuanya terlukis dalam sebuah ekspresi.
"Selamat datang kembali ke rumah nak," Ucap Ayah Hiro.
Hiro pun memasuki rumah masa kecilnya ini. Anak kecil yang dulu rapuh itu, kini sudah menjadi seorang pria yang berhati tegar, namun masih dengan sebuah mimpi yang sama.
Hiro tertawa geli saat melihat wadah bekas untuk berjualannya dahulu. "Hihihi,"
"Bagaimana rasanya kembali ke rumah?" Tanya sang Ayah sambil tersenyum.
"Pastinya sangat senang..," Jawab Hiro yang juga sambil tersenyum.
Hiro dan Ayahnya pun bersama-sama memindahkan barang-barang Hiro dari asrama untuk dimasukkan kedalam rumah.
"Ah.., tidak usah Yah.., aku saja bisa memindahkannya," Ucap Hiro.
"Ah.., tidak apa-apa, jangan meremehkan Ayahmu ini, Ayah masih kuat tau.., haha!"
"Hehe, iya Ayah,"
Sebenarnya Hiro sudah tidak ingin melihat Ayahnya melakukan pekerjaan berat. Hiro tahu Ayahnya sudah semakin tua. Hiro ingin Ayahnya duduk dengan tenang di Rumah dan menikmati masa-masa tua dengan tenang sembari berharap agar Hiro bisa menjawab mimpinya selama ini.
...
Setelah selesai memindahkan barang-barang, Hiro dan Ayahnya hanya berbicara tentang hal menarik akhir-akhir ini. Sebenarnya Hiro sudah menyiapkan segala persiapannya untuk pergi ke Kota Akihabara menggunakan kereta bersama dengan Ryota. Hiro hanya menunggu Ryota untuk menghampirinya di rumah.
..Hiro sudah tidak sabar ingin segera pergi.
...
...
Satu jam kemudian.
...
"Hiro..!!!" Suara Ryota yang memanggil Hiro dengan keras dari luar. "Ayo berangkat! jangan sampai terlambat!"
"Oh yaa! tunggu aku, aku akan segera keluar!" Teriak Hiro membalas Ryota.
"Iya," Hiro pun berdiri. "Baik Yah, aku akan segera pergi. Terimakasih dukungannya, dan terimakasih atas segalanya."
"Sebentar nak! Satu hal lagi!" Teriak Ayah Hiro dari dalam rumah membuat Hiro menoleh kembali.
"Apa itu Ayah?" Tanya Hiro.
"Perjalananmu itu belum selesai, tapi baru dimulai!" Semangat Ayah Hiro saat mengatakannya kepada putranya itu.
Hiro membalas pesan Ayahnya dengan sebuah janji. "Iya Ayah! Aku tidak akan berhenti bermain sepakbola!"
Hiro dan Ryota pun langsung berjalan meninggalkan Ayah Hiro yang masih berdiri memandang tepat di pintu rumahnya. "Jaga semangatmu nak..," Gumam Ayah Hiro sambil melihat putranya perlahan mulai berjalan menjauh dari rumah.
...
"Uhhuukkk..uhukkk..!"
Dan akhirnya Ayah Hiro bisa batuk dengan keras setelah dari tadi menahannya karena tidak ingin diketahui oleh Hiro.
Ayah Hiro hanya tidak ingin ada sesuatu yang menghalangi anaknya. Bahkan seorang Ayahnya sekalipun tidak ingin menghalangi anaknya untuk bisa fokus kepada apa yang dia inginkan.
...
...
...
Setelah menaiki kereta cepat, Hiro dan Ryota sampai di Kota Akihabara. Menjelang sore, mereka berdua langsung menuju ke alamat tempat latihan klub yang diberikan oleh Darwin melalui pesan singkat.
Sesampainya di tempat yang dimaksud Darwin. Hiro dan Ryota sangat senang. Ternyata tempat ini adalah lapangan latihan layaknya kelas Internasional. Rumput serta peralatan latihan sangatlah modern dibandingkan ketika di Akademi dahulu.
"Wah.., bagus sekali!" Kagum Hiro.
...
"Baiklah Ryo.., kau sudah siap?"
"Pastinya!" Sahut Ryota dengan tangan mengepal erat.
Hiro dan Ryota pun memasuki lapangan latihan Akihabara FC. Banyak pemain, ofisial tim, serta tidak lupa yaitu sang pelatih yang sudah menunggu mereka di dalam.
"Wah, aku sudah tidak sabar lagi Hiro! bagaimana denganmu?!" Tanya Ryota penasaran.
"Ya.., kau pasti sudah tau jawabannya," Jawab Hiro. "Mari kita mulai semuanya dari sini sekarang!"
...----------------...
(Sekali lagi mohon maaf bila waktu upload terlalu lama, sebab author masih memiliki beberapa hal lain yang harus diselesaikan🙏. Yang pasti, karya ini tidak akan berhenti di tengah jalan. Harapannya beberapa hari lagi frekuensi upload sudah kembali rutin.)