The Dreamer

The Dreamer
'Rekan'



Wajah itu..


Wajah yang sudah berada di dalam pikiran Hiro selama bertahun-tahun.


...


Hiro masih melihatnya berdiri di kejauhan sedang menyapanya. "Daichi..?" Dalam hati Hiro.


Ya, orang dihadapannya ini adalah Daichi Furuoka. Rival lamanya dari sejak berada di Akademi Zekka. Di sanalah mereka bertemu, dan di sana pula awal dari semua ini di mulai.


Setelah bertahun-tahun tidak saling berjumpa. Hiro dan Daichi kembali bertemu. Mereka bukan berhadapan sebagai lawan, namun sebagai rekan di dalam Tim nasional senior Jepang.


...


Dari jauh, Daichi tampak menghampiri Hiro yang masih berada di sisi lapangan, tatapannya kosong.


"Jadi..., namamu masih Hiro, kan?" Ucap Daichi ketika sudah berdiri dekat dengan Hiro.


Hiro tidak menjawabnya. Dia hanya fokus melakukan peregangan sambil menatap ke tengah lapangan.


Daichi pun tersenyum melihat Hiro menghiraukannya. "Hmmpphh, sepertinya kau memang belum belajar menjadi orang dewasa."


...


Setelah berusaha menghiraukan Daichi, akhirnya Hiro menyahut ucapan Daichi. Hiro tidak ingin Daichi terus berada di dekatnya hanya karena dia menghiraukannya. "Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Tanya Hiro.


Daichi kembali tersenyum. Kali ini dirinya juga ikut menatap ke arah lapangan seperti halnya Hiro. "Pada akhirnya, kita ini.. sama-sama pemain timnas Jepang. Sama-sama seorang pemain sepak bola." Setelah selesai mengatakan ini, Daichi kembali menoleh dan menatap ke arah mata Hiro. "Jadi..., kau tidak boleh menganggapku seperti musuh. Kau harus tetap menganggapku sebagai rekanmu."


Hiro tersentak. Apa yang baru saja diucapkan oleh Daichi membuat Hiro ragu apakah yang sedang berbicara dengannya ini adalah Daichi yang dia maksud.


...


Hiro merampungkan peregangannya dan bertanya, "Kau ini, Daichi.. Fukuoka bukan? dulu kau bersamaku di Akademi sepakbola Zekka."


"Iya, benar. Kenapa kau bertanya?" Ucap Daichi.


"T--Tidak, tidak ada kepentingan. Maaf tadi aku sempat lupa namamu, hehe." Padahal Hiro ingat betul dengan namanya, hanya saja Hiro ragu dengan sifatnya.


...


...


Dan seperti apa yang telah diberitahukan sebelumnya, beberapa menit kemudian pelatih kepala tim nasional Jepang, Hajime Yamamoto, tiba di tempat latihan.


Hiro, Bersama dengan 23 pemain lainnya termasuk Daichi, berkumpul di tengah lapangan untuk melakukan perbincangan singkat dan perkenalan bagi beberapa pemain yang baru debut di panggil timnas seperti Hiro.


...


"Hari ini, kita berkumpul kembali. 24 pemain terbaik dari Jepang akan bermain untuk membela Jepang," Kata Hajime. "Kita hanya punya waktu kurang dari dua minggu sebelum melawan Chile di Saitama Stadium. Selang 4 hari, kita akan kembali melawan tim benua Amerika lainnya yaitu Honduras, di Tokyo." Lanjut Hajime.


...


Lalu, latihan hari ini pun di mulai.


...


Hiro sudah banyak bercakap-cakap dan berkenalan dengan pemain yang lain. Hiro meningkatkan konektivitas dan pertemanan dengan mereka supaya tidak kaku saat bermain bersama. Semua pemain sudah mengenal dan berbicara banyak tentang Hiro, kecuali Daichi.


...


...


Seminggu berlalu...


...


Latihan bertahap mulai meningkat.


...


Dengan waktu yang cukup singkat, Hajime tidak akan bisa membentuk kemistri tim dengan sempurna. Segala bentuk latihan yang diterapkan oleh Hajime saat ini berfokus kepada lawan pertama mereka, yaitu Chile.


...


"Mohon perhatian semuanya!" Hajime berteriak dari pinggir lapangan. Seluruh pemain yang sedang berlatih pun menepi.


"Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 28 maret, kita akan menghadapi satu dari beberapa tim kuat di dunia. Chile tidak bisa di pandang sebelah mata. Kita harus serius pada pertandingan ini. Kemenangan harus menjadi hal yang pasti!"


Hajime mulai memberikan instruksi serta taktik permainan yang akan dia gunakan ketika melawan Chile nanti. Terlihat pula nama 11 pemain pertama yang akan diturunkan pada laga itu.


Seluruh pemain yang akan berlaga pada laga itu tampak merupakan pemain senior dan pemain yang sering di panggil timnas sekaligus berpengalaman dalam pertandingan internasional. Ini berarti tidak akan ada nama Hiro saat pertandingan melawan Chile.


Di timnas, Daichi akan mengenakan nomor punggung 10, sedangkan Hiro mendapatkan nomor 21. Ini sudah memperlihatkan secara tidak langsung bahwa Hiro bukanlah pilihan utama bagi Hajime di skuad timnas Jepang.


...


Ketika Hiro sedang meregangkan kakinya dan melepas jerseynya yang basah seusai latihan pada sore hari ini, dia melihat Daichi dengan sengaja berjalan melewatinya yang sedang duduk menunggu giliran mandi di kursi koridor.


Sembari berlalu, Daichi berkata dengan keras dan jelas di telinga Hiro, "Duh, nampaknya aku masih nomor satu ya. Sabar ya, giliranmu bermain pasti akan datang, berharap saja aku cedera."


Walaupun nada ucapan Daichi terdengar datar, namun artinya masih tajam. Hiro hanya bisa diam hingga Daichi sudah berada jauh darinya. Ternyata Daichi masih merupakan Daichi yang sama seperti yang dia kenal ketika di Akademi.


"Dia pikir aku tidak bisa melampauinya? siapa yang menentukan batasku? Harus menunggu dirinya cedera agar aku bisa bermain?? Huh.., kita lihat saja nanti." Gumam Hiro yang sedang sendirian di koridor.


...


Dan tibalah saatnya. 28 Maret.


Jepang vs Chile, Saitama Stadium, Kota Saitama.


Stadion yang penuh dengan 40.000 lebih penonton menyanyikan yel-yel bagi timnas Jepang. "Oooo.... Nippon..! nippon, nippon, nipponn..! "


...


Walaupun tidak dimainkan sejak awal oleh pelatih, Hiro tetap merinding merasakan atmosfer stadion yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, yaitu diberi dukungan ketika bermain untuk negaranya.


...


Tepat pukul 20.00, pemain-pemain Jepang dan Chile telah bersiap di tengah lapangan setelah selesai menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing dari mereka. Terlihat Daichi adalah pemain yang memegang ban kapten di lengannya. Dia akan menjadi pusat permainan dari Jepang. Namun sayangnya.., Timnas Chile mengetahui akan hal tersebut.


Selama pertandingan berlangsung, Daichi tidak bisa bergerak bebas seperti biasanya. Setiap dia memegang bola, pasti selalu ada dua orang pemain lawan yang mengawalnya. Walaupun sudah berpindah-pindah posisi dari tengah ke kanan, dari kanan ke kiri, tetap saja sulit.


Masih beruntung, timnas Jepang bisa menang walaupun harus susah payah. Kemenangan 1-0 atas Chile pada malam ini, membuat poin FIFA Jepang bertambah, namun sayangnya masih belum bisa untuk menggeser posisi negara diatasnya.


Kendati menang, suporter yang hadir di Stadion tampak tidak puas dengan cara permainan timnas mereka. Banyak penonton yang meninggalkan Stadion sejak menit ke 75 dalam pertandingan.


Namun Hajime memberikan pandangan berbeda terhadap hasil pertandingan ini. Pada saat wawancara seusai pertandingan ini, Hajime mengatakan kepada wartawan bahwa pertandingan ini bukan merupakan tolok ukur kemampuan timnas yang sebenarnya. Hajime juga mengatakan bahwa dirinya masih meracik formula yang tepat untuk event besar selanjutnya, yaitu Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia.


Hiro dan pemain yang lain juga tidak bisa menutupi rasa sedih mereka karena belum bisa menampilkan performa yang lebih baik dari hari ini.


"Sayang sekali aku belum bisa bermain kali ini...," Ucap Hiro dalam hatinya. Namun ada rasa senang di hati Hiro setelah melihat saat pertandingan Daichi tidak bisa berbicara banyak di atas lapangan.


...


Sesuai jadwal, setelah melawan Chile, Jepang akan melawan Honduras. Sebuah negara yang notabenenya merupakan tim yang akan mudah dikalahkan oleh pasukan Hajime Yamamoto. Oleh karena itu, Hajime memutuskan untuk merombak susunan pemain yang akan bermain ketika melawan Honduras.


...


...


Tiga hari setelahnya, Seluruh pemain timnas kembali fokus berlatih mulai dari matahari terbit hingga terbenam.


Sehari sebelum laga melawan Honduras, Hajime berjalan berjalan ke tengah lapangan dengan tangan menyilang di dada. Seluruh pemain yang sedang berlatih sore ini menoleh ke arahnya. "Sudah cukup untuk hari ini, siapkan diri kalian untuk besok." Kata Hajime.


Seluruh pemain pun berhenti beraktivitas, tak terkecuali Hiro. Napasnya terengah-engah ketika berlari ke pinggir lapangan untuk mengambil sebotol air.


Ada sebuah motivasi yang membuat Hiro tidak sabar menatap laga esok.


"Aku harus menampilkan yang terbaik di lapangan! Aku harus lebih baik darinya!" Batin Hiro sambil menatap tajam ke arah Daichi yang berdiri di sudut lapangan yang lain.


Keringat yang mengalir dari setiap latihan Hiro akan bangga ketika mengetahui bahwa sumber mata airnya berasal dari keyakinan Hiro selama ini. Hiro butuh Hajime agar melihatnya bermain. Hiro ingin Hajime mengetahui bahwa mencadangkan dirinya pada laga sebelumnya bukanlah sebuah keputusan yang tepat.