
Berat hati Hiro sedang memikirkan sesuatu tentang apa yang terjadi. Dia telah meninggalkan mimpinya untuk menjadi bintang sepakbola dan lebih memilih menjadi murid teladan yang tidak memiliki mimpi pasti.
...
Di saat Hiro sudah mendapatkan beasiswa keinginannya, dia memutuskan untuk menurunkan tempo belajarnya terlebih dahulu. Hiro sadar semenjak dirinya selalu belajar, dia menjadi tidak memiliki cukup waktu untuk teman-temannya, termasuk Ryota.
Suatu hari, Hiro mencoba untuk berbicara kepada Ryota untuk pertama kalinya sejak satu minggu terakhir. Awalnya Ryota cuek ketika Hiro menyapanya, namun kemudian, Ryota mulai menanggapi Hiro.
...
Saat istirahat makan siang, di kantin sekolah..,
...
"Oh..? kau sudah mendapatkan beasiswa? selamat," Ucap Ryota dengan singkat. Dia tetap menyantap makan siangnya dengan lahap tanpa memperdulikan Hiro.
"Iya, hehe," Hiro sangat canggung. Dia tahu bahwa Ryota sedikit marah kepadanya sebab jarang menemui dan bermain belakangan ini.
"Eee.., Ryota..? maafkan aku ya,"
"Untuk apa?" Ryota masih mengunyah makanannya.
"Ya.., kau tahu kan? aku belakangan ini tidak menghiraukanmu di sekolah maupun di rumah. Jadi aku pikir kau pasti marah kepadaku kan?"
"Untuk apa aku marah?" Seketika Ryota berhenti mengunyah makanannya dan beralih menatap wajah Hiro. "Aku tidak marah,"
"K--Kau baik-baik saja?"
"Iya, tidak usah memikirkanku. Lagi pula aku juga paham alasanmu melakukan itu. Kau hanya ingin membahagiakan Ayahmu karena kau anak tunggal bukan?"
"I--Iya,"
Seketika Hiro langsung teringat dengan ucapan Ayahnya waktu itu. "Sebaiknya kau jangan sampai kecewa di lain hari nak, pikirkan dengan baik, semuanya belum terlambat,"
...
"Oh iya Ryota, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," Ucap Hiro.
"Tanya apa..?" Ryota melanjutkan makan siangnya.
"Bagaimana menurutmu jika aku kembali bermain bola?"
...
deg..deg..
...
"PPPFFFRRTTT!!! Apa?!" Ryota sangat kaget hingga makanan yang dia kunyah bertebaran keluar dari mulutnya.
"Aku bilang, aku ingin bermain bola lagi,"
Ryota masih tidak berkata apa-apa. Hiro juga sudah siap jika Ryota sampai kesal kepadanya.
"Hahaha!" Ryota malah tertawa terbahak-bahak.
Hiro mengerutkan keningnya karena heran dengan tingkah temannya ini. "Kenapa tertawa?"
"Hahaha! maafkan aku," Ryota membersihkan tumpahan makanannya. "Hanya saja, aku merasa kau itu sangatlah bodoh!"
"Huh?"
"Coba pikirkan. Dulu kau mengatakan jika ingin berhenti bermain bola karena ingin fokus pada pendidikan agar bisa mendapatkan beasiswa. Namun sekarang, setelah kau mendapatkannya, kau malah kembali berkata jika kau ingin kembali bermain bola. Sebenarnya apa yang kau inginkan? ahahahaha!"
"Iya-iya.., aku memang payah, tapi bisakah kau berhenti tertawa? Kita menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin..!" Bisik Hiro.
"Baiklah.., hahaha!" Ryota masih belum selesai tertawa hingga menitihkan air mata.
...
Setelah Ryota tenang, Hiro pun lanjut menjelaskan kepada Ryota tentang keputusannya. "Sebenarnya, segalanya terasa rumit belakangan ini. Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu semuanya."
"Baiklah, aku paham. Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin kembali bermain bola lagi?" Tanya Ryota.
"Itulah, aku tidak bisa menjelaskannya."
"Baiklah, baiklah, jadi.., apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Tanya Ryota penasaran.
"Hmm..? bagaimana jika nanti sore kita bermain bola di lapangan sekolah?"
"PPPFFFRTT!" Ryota kembali menyemburkan makanannya.
"Ryota! berhentilah membuang-buang makanan!"
...
...
Akhirnya sore hari setelah pulang sekolah, Hiro dan Ryota langsung menuju lapangan sekolah yang sepi. Tidak ada orang lain selain mereka berdua.
...
"Apakah kita bisa memulainya sekarang?"
"Iya!"
Hiro dan Ryota berada di tengah lapangan. Mereka berdua berlatih menggunakan bola. Posisi mereka saling berjauhan di lapangan.
"Baiklah Hiro.., kita akan mulai dari awal! aku akan melambungkan bola kepadamu, lalu kau tendang bolanya ke gawang di depanmu! kau mengerti?! Ryota memang harus berteriak agar di dengar Hiro.
Kemudian Ryota pun menendang bola tinggi ke udara. Bola itu tertuju kepada Hiro. Hiro hanya perlu mengontrolnya dan menendang bola itu masuk ke gawang.
Namun, "ADUH!"
"Eh? apa yang terjadi Hiro?" Ryota langsung menghampiri Hiro yang seperti kesakitan.
"Aduh.., aku salah tumpuan..! kakiku sakit," Ucap Hiro.
"Hah? kenapa? bukankah seharusnya ini mudah untuk dilakukan? atau jangan-jangan..?"
Ryota mendekat ke telinga Hiro dan berbisik, "Apakah kau sudah lupa cara bermain bola?"
Hiro langsung merasa malu. Dia membantah pernyataan Ryota. "Ah mana mungkin! aku masih paham! tidak mungkin aku lupa!" Ucap Hiro. "Hanya saja, aku merasa sentuhanku sudah tidak seperti biasanya. Apakah keahlianku sudah menurun?"
"Itu sudah pasti, menurutmu.., berapa lama kau tidak berolahraga?" Tanya Ryota.
Hiro baru ingat kalau dia sudah beberapa bulan tidak menyentuh bola ataupun berolahraga yang berat. "Hehe, sudah lama ya?"
"Baiklah, kalau begini aku tahu apa yang harus kau lakukan Hiro..," Ucap Ryota.
"Memangnya apa?"
"Kau harus minta tolong lagi kepada Takashi untuk melatihmu lagi. Jangan bilang kau juga lupa dengan Takashi?"
"Mana mungkin aku lupa! Hanya saja, aku merasa jika dia tidak akan mau melatihku lagi," Gumam Hiro.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Hanya dia yang bisa melatihmu!"
"Itu karena terakhir kali aku bertemu dengannya, dia terlihat tidak begitu senang dengan keputusanku yang ingin berhenti bermain bola," Ucap Hiro.
Saat terakhir kali Hiro bertemu dengan Takashi adalah ketika dia mengatakan akan mundur dari akademi. Kejadian itu sudah berbulan-bulan yang lalu.
...
"Kalau begitu, sekarang kau sudah ingin kembali bermain bola bukan? aku yakin Takashi juga mau melatihmu kembali," Ujar Ryota.
"Kau berpikir begitu?"
"Iya!" Ryota mengulurkan tangannya untuk Hiro agar dia bisa bangkit setelah terjatuh ke tanah setelah kakinya sempat terkilir tadi. "Mari.., aku tuntun kau pulang," Ucap Ryota.
Hiro pun menggapai tangan Ryota dan berdiri secara perlahan.
"Besok akan kutemani kau berbicara kepada Takashi, bagaimana?"
"Boleh!"
...
Ryota pun memapah Hiro hingga halte bus. Di halte bus, Ryota sempat memijat kaki Hiro sedikit-sedikit.
...
"Aduh! sakit-sakit!" Erang Hiro kesakitan.
"Oh maaf, hehe," Ryota pun berhenti memijat kaki Hiro. "Hmm, sepertinya engkel kakimu terluka parah. Hari ini, mau kuantarkan pulang dengan mobilku saja bagaimana?" Tawar Ryota.
"Ide bagus, terimakasih,"
...
Beberapa saat kemudian, jemputan Ryota datang. Hiro dan Ryota pun pulang bersama menggunakan mobil.
"Terimakasih ya,"
"Ah tidak apa-apa. Kau kan lagi sakit,"
...
Setelah sampai di rumah Ryota. Hiro juga diminta untuk turun di sini. "Kau turun di rumahku dulu saja Hiro."
"Eh? kenapa aku turun di sini?" Hiro bingung.
"Di rumahmu kan kosong. Siapa yang akan merawatmu kalau begitu? sudah ayo turun saja," Ajak Ryota.
"Baiklah," Hiro tidak memiliki pilihan lain.
Di rumah Ryota, Hiro diberi obat oleh para pembantu Ryota. Ruka juga sesekali menengok keadaan Hiro.
...
Setelah beberapa saat, Kaki Hiro sudah semakin membaik, Kaki Hiro sampai diberi perban yang tebal oleh para pembantu Ryota.
"Sepertinya kakiku sudah membaik, apakah aku boleh pulang sekarang?" Tanya Hiro.
"Jangan, sebaiknya kau menginap saja di sini," Ujar Ryota.
"Ah tidak mau, aku sudah cukup merepotkanmu hari ini, aku pulang saja," Hiro tetap bersikeras untuk pulang ke rumahnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan membantumu meminta tolong kepada Takashi untuk melatihmu kembali,"
"Eh! jangan begitu! B--Baiklah aku akan menginap di sini. Besok jangan lupa bantu aku berbicara dengan Takashi ya? hehe," Hiro berubah seketika dari keras kepala menjadi penurut.
"Iya-iya aku berjanji, sekarang istirahatlah di kamar yang sudah kusiapkan untukmu," Ryota menunjukkan kamar tidur untuk Hiro.
"Baiklah, aku akan segera beristirahat." Hiro pun menuju kamarnya.
Malam itu, Hiro tidur di kamar yang luas dan kasur yang empuk. Hiro senang karena akhirnya merasakan tidur menggunakan pendingin udara. "Wah sejuk sekali," Hiro senang.
Hiro pun bisa beristirahat dengan tenang dan tidur dengan pulas. Dia sudah menyiapkan diri untuk besok. Hiro ingin meminta tolong secara langsung kepada Takashi untuk melatihnya kembali agar dapat kembali ke performa terbaiknya.