
Waktu terus berlalu. Hiro dan Ryota sudah semakin berkembang di tangan pelatih mereka, yaitu Takashi. Hiro dan Daichi terus bersaing untuk menjadi penyerang terbaik di akademi. Ratusan gol telah di cetak oleh Daichi maupun Hiro. Namun apa artinya semua gol itu tanpa adanya gelar ataupun piala?
Berbagai macam jenis turnamen maupun kompetisi lokal telah diikuti oleh Hiro, Ryota, bersama rekan-rekannya di kelompok usia 12-14. Namun sayangnya belum ada satupun gelar juara yang dimenangkan. Semua itu karena Hiro masih kalah bersaing dengan Daichi.
Walaupun sebagai seorang pesaing, Daichi tanpa tidak langsung membuat Hiro malah semakin bersemangat untuk berlatih. Jika bukan karena ada Daichi, mungkin Hiro tidak akan berlatih dan berlatih sekeras ini. Jika bukan karena Daichi.., mungkin kehidupan akan berjalan terlalu mudah bagi Hiro.
...
Setiap latihan, Hiro dan Daichi adalah rival. Semua orang di akademi tahu rivalitas antara kedua pemain tersebut.
...
Namun.., hari-hari yang apa adanya itu harus segera berakhir.
...
5...
..Tahun..
.. kemudian.
...
Sore itu di aula akademi, di saat hari kelulusan pemain akademi. Dengan mengenakan pakaian rapi, Hiro, Ryota dan seluruh pemain menghadiri acara tersebut. Hiro duduk di samping Ryota saat menyaksikan angkatan dari Daichi sudah dinyatakan lulus sari akademi Zekka. Daichi juga dianugerahi gelar sebagai pemain terhebat dari akademi selama 10 tahun terakhir, dan belum ada yang mampu memecahkan rekor-rekor Daichi, bahkan Hiro sekalipun.
"Selamat kepada Daichi Furuoka, yang telah kami nobatkan sebagai penyerang terbaik satu dekade terakhir!" Suara pembawa acara yang terdengar begitu keras dari setiap sudut pengeras suara aula akademi.
Pemilik akademi, seluruh pelatih dari setiap kelompok usia. Mereka berfoto bersama Daichi sambil memberikan berbagai medali penghargaan.
...
Hiro bertepuk tangan sore itu. Semuanya mengapresiasi kelulusan seorang pemain terbaik akademi, yaitu Daichi.
Banyak wartawan yang sampai meliput acara ini. Banyak agen-agen pemain dari setiap klub yang berebut menginginkan tanda tangan kontrak Daichi di klub mereka. Seluruh pemain akademi juga bangga akan kesuksesan rekannya itu. Namun bagi Hiro, ini adalah sebuah penyesalan.
Hiro belum bisa mengalahkan Daichi selama 5 tahun terakhir ini. Dari umur 12 tahun hingga saat ini sudah 17 tahun, Hiro masih sama sekali belum mendekati pencapaian Daichi. Itu artinya, tinggal 2 tahun lagi sebelum Hiro juga akan lulus seperti Daichi dari akademi. Anak kecil itu, kini sudah tumbuh semakin dewasa.
...
Setelah lulus dari SMP dua tahun lalu, kini Hiro sudah berada di SMA. Bahkan saat ini sudah masuk tahun kedua Hiro di SMA, hingga tinggal satu tahun lagi sebelum lulus dari SMA. Hiro juga harus membagi waktunya, antara berlatih sepakbola, atau belajar menuntut ilmu.
Seperti biasa, Hiro merupakan murid yang pintar dan berprestasi di sekolah. Dia dan Ryota tidak terpisahkan sejak kecil. Hiro juga perlahan mulai membuka dirinya kepada teman-teman barunya di SMA.
Sekarang, sudah tidak ada lagi yang mengatakan bahwa tubuh Hiro kurus karena dia sudah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan bugar. Hiro sudah berubah berkat dorongan Ryota dan Ayahnya.
...
Selepas acara kelulusan itu, Hiro langsung pulang ke rumahnya tanpa berbicara sepatah katapun. Hiro terlalu memiliki banyak pikiran.
Sudah lama sejak Hiro sudah tidak lagi pulang atau berangkat latihan bersama Ryota ke akademi. Kini Hiro sudah terbiasa berangkat sendiri dengan bus dari rumahnya. Selain itu, mereka berdua juga sudah bukan anak kecil lagi. Keadaan telah mendewasakan diri mereka. Walaupun begitu, Hiro dan Ryota tetap saja selalu berada pada sekolah yang sama.
...
Sampai di rumah, Hiro langsung membersihkan diri. Dia melepaskan kemejanya yang dia pinjam dari Ryota untuk menghadiri acara kelulusan hari ini. "Hmm, nanti malam saha akan ku kembalikan kemeja ini ke rumah Ryota," Gumam Hiro.
Hari ini latihan ditiadakan karena acara itu. Hiro pulang ke rumah terlalu awal. Ayah Hiro masih bekerja sebagai seorang kuli dan kurir sekaligus walau sudah 5 tahun berlalu. Di rumah, Hiro selalu sendiri. Beruntung sekarang dia sudah memiliki sebuah televisi bekas hasil dari penjualannya selama 5 tahun di toko Bibi.
Meskipun sudah memiliki hiburan, Hiro tetap saja lebih memilih untuk bermain game konsol dengan Ryota di rumahnya. Setiap akhir pekan, Hiro bermain ke rumah Ryota untuk bermain.
...
Saat sudah malam, Hiro pun mengambil hasil dagangan hari ini di toko Bibi. "Selamat malam Bibi..," Hiro menyapa Bibi pemilik toko begitu masuk ke tokonya.
"Oh, Ryota, ini hasil jualanmu hari ini," Ucap Bibi sambil memberi uang kepada Hiro.
"Terimakasih Bi,"
"Iya, sama-sama, sampai jumpa besok ya!"
"..." Hiro ingin mengatakan sesuatu kepada Bibi. Hiro masih berdiri diam saja. Begitu dia mengambil napas panjang, dia berkata, "Bi.., kayaknya mulai besok aku sudah tidak menitipkan jualanku di sini lagi,"
"Hmm? apa maksudmu?" Bibi tidsk mendengar dengan jelas.
Hiro pun mengulangi ucapannya. "Aku berencana sudah tidak jualan lagi Bi..,"
"Lho? kenapa?" Tanya Bibi.
"Aku sudah 17 tahun Bi, tidak lama lagi aku akan segera mencari pekerjaan bagus tetap. Aku harus berhenti berdagang agar lebih fokus belajar," Jelas Hiro.
"Hehehe, iya Bi, terimakasih kerjasamanya selama ini," Hiro membungkuk sebagai tanda hormat kepada Bibi. "Ya sudah Bi, aku pulang dulu,"
"Ya! hati-hati nak! jangan lupa untuk beli sesuatu di toko Bibi ya!"
"Hehe, iya Bi!"
Hiro pun keluar dari toko Bibi malam itu. Bibi pemilik toko terlihat sedih karena Hiro sudah tidak berjualan lagi. Namun di sisi lain, dia bangga. "Hiro.., kamu sudah semakin dewasa ya nak..," Gumam Bibi, sebelum akhirnya dia menutup tokonya di malam itu.
...
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Hiro juga sekaligus menuju ke arah rumah Ryota untuk mengembalikan kemeja yang ia pinjam tempo hari.
Saat sudah sampai di rumah Ryota, lagi-lagi yang membukakan pintunya adalah Ruka. Setiap Hiro ke rumah Ryota, selalu adiknya yang membukakan pintu. "Eh, Ruka.., kak Ryota ada?"
"Ada," Jawab Ruka singkat. "Tunggu ya," Ruka pun pergi ke dalam rumah untuk memanggil kakaknya.
Kini Ruka sudah tidak seperti dulu lagi. gadis kecil itu sudah tumbuh besar dan sudah tidak kekanak-kanakan. Walau lebih muda 3 tahun dari Hiro, namun Ruka tampak lebih tenang dari Hiro.
Beberapa saat kemudian, Ryota pun datang ke depan pintu rumah untuk bertemu Hiro. "Hiro? ada apa?" Tanya Ryota.
"Ini.., mau ngembaliin kemeja," Ucap Hiro sambil tersenyum memberikan kemeja Ryota. "Terimakasih ya udah mau meminjamkan,"
"Oh Ya, tidak masalah," Ryota sangat suka membantu.
"Ya sudah, aku pulang dulu," Ucap Hiro. Hiro pun berjalan keluar gerbang rumah Ryota.
Namun, "Tunggu!" Teriak Ryota.
"Ada apa?" Hiro menoleh.
Ryota berjalan dan berdiri di dekat Hiro. "Ini.., aku mau ngasih sesuatu," Ryota mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Apa itu?" Hiro penasaran.
"Nih..," Ryota mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk bola kecil dengan tangan dan kaki, serta mata bulat yang imut. "Ini buat kamu,"
Tanpa pikir panjang, Hiro menerimanya. "Wah..! lucu! ini buat aku?"
"Iya," Jawab Ryota.
"Wah terimakasih ya! aku suka ini!" Hiro senang.
"Tapi sebenarnya ini bukan dari aku. Aku hanya mewakilinya dari orang lain."
Hiro bingung. "Bukan darimu? lantas dari siapa?"
"Tidak bisa kusebutkan,"
"Ah kau ini.., kalau begitu, bagaimana aku bisa berterima kasih?"
"Ah, tidak perlu," Ucap Ryota. Kemudian Ryota kembali mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Nih, satu lagi,"
"Apa lagi ini? surat?"
"Sudah, terima saja, ini adalah dari orang yang sama seperti yang memberikan hadiah tadi kepadamu. Dia berpesan agar membacanya begitu kau sampai di rumahmu," Jelas Ryota.
"Ah, sebenarnya siapa sih orang itu? aku jadi ingin tahu," Hiro semakin penasaran. "Baiklah, jika sudah tidak ada lagi, aku mau pulang dulu,"
"Ya sudah, hati-hati Hiro!" Ryota melambaikan tangannya. Hiro pun pulang.
Ryota kembali ke dalam rumahnya dan dikejutkan dengan Ruka yang mengagetkannya di depan pintu masuk. "Waa! huh kau bikin kaget aku saja!"
"Bagaimana.. Bagaimana..! kau sudah memberikannya?!!"
"Iya sudah..," Ucap Hiro.
"Terus? bagaimana reaksinya??!!" Ruka penasaran.
Ryota tersenyum dan tidak menjadi pertanyaan adiknya. "Sudahlah, kakak mau tidur,"
"Ah! kakak! aku mau tahu reaksinya! apakah dia sudah membuka suratnya?! kakak?!"
...
Ruka adalah orang yang memberikan hadiah gantungan kunci dan surat itu kepada Hiro. Dia menitipkannya kepada kakaknya karena malu. Semua itu sebab beberapa bulan lalu saat hari ulang tahun Hiro yang ke 17, Ruka lupa memberikan hadiahnya. Bahkan setelah hari ulang tahun Hiro, Ruka sama sekali tidak berani memberikan hadiahnya kepada Hiro karena takut Hiro tidak menyukai hadiahnya
Tapi Ryota tetap berpura-pura tidak mendengar dan membiarkan Ruka penasaran.