The Dreamer

The Dreamer
Belum cukup!



Hiro sudah sampai di stasiun Kota Sapporo. "Huuuhhh.., Sampai juga," Gumam Hiro. Dia turun dari kereta bawah tanah itu, menarik napas dalam-dalam setelah sesak berada di dalam kereta dari Kota Akihabara.


Setelah selesai bertemu dengan Darwin di perusahaannya mengenai kontrak kerja bersama Akihabara FC, Hiro pun kembali ke Sapporo. Hiro ingin mengabari Ayahnya jika dia sudah sedikit lagi menjadi pemain sepakbola profesional yang sudah dia inginkan sejak kecil.


...


Di dalam stasiun bawah tanah yang ramai itu, Hiro menyelinap dari hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk di pagi itu. Butuh perjuangan untuk keluar dari stasiun ini.


Setelah berhasil keluar dari stasiun, Hiro bergegas menuju rumahnya dengan jalan kaki. Memang rumahnya cukup jauh namun Hiro sedang ingin menghemat uang dan tidak ingin kembali menggunakan taksi yang mahal.


"Lebih baik jalan kaki. Menggunakan taksi ternyata mahal," Gumam Hiro saat menyadari hal ini. Sebelumnya dia sempat memesan taksi saat berada di Kota Akihabara tadi.


...


...


30 Menit Hiro berjalan, akhirnya Hiro sampai di rumahnya. Sudah lama sejak terakhir kali Hiro datang pagi-pagi ke rumahnya. Kehidupan asrama memang sedikit menjengkelkan. Biasanya dia datang ke rumah setiap akhir pekan ketika malam hari, namun tidak kali ini.


"Permisi..," Ucap Hiro lirih. Kedua tangannya membuka pintu kayu itu dengan pelan. Suara engsel pintu yang berdecit karena sudah tua, cukup untuk memenuhi seisi rumah dengan kebisingan.


Dari dalam rumah, Hiro melihat seseorang datang menuju pintu. "Siapa ya?" Tanya orang itu.


"Ini aku..Hiro," Ucap Hiro.


"Oh.., Hiro?"


Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah, mengungkap sosok di balik bayangan rumah.


"Ayah?!" Hiro berlari masuk ke rumah setelah melihat Ayahnya.


Tidak peduli dirinya masih mengenakan sepatu, Hiro langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Ayahnya seperti seharusnya.


"Lho Hiro? tumben pagi-pagi ke sini, biasanya malam?" Tanya Ayahnya.


Hiro tidak mempedulikannya. Hiro hanya bisa memeluk Ayahnya sambil sedikit tertawa bahagia.


"Kenapa Hiro?" Ayah Hiro bingung.


Lantas Hiro melepaskan pelukannya dan memberitahu Ayahnya tentang apa yang sudah dilaluinya belakang ini.


"Ayah, aku berhasil!" Ucap Hiro dengan bangga. "Aku sekarang sudah menjadi pesepakbola Ayah!"


"Benarkah?" Raut wajah Ayah Hiro sedikit terkejut sekaligus sulit mempercayai.


"Iya!" Tegas Hiro.


Hiro mengambil secarik kertas dari tas kecil di pundaknya. Kertas lurus itu dia serahkan kepada Ayahnya. Terdapat kalimat yang tertuang dalam kertas itu bertuliskan, 'Kontrak pemain Akihabara FC'.


"Lihat Yah! lihatlah kertas ini!" Wajah Hiro berseri-seri.


Ayah Hiro mengambil kertas dari tangan Hiro dan mulai membacanya dengan seksama. Sebuah kalimat yang butuh berkali-kali untuk Ayah Hiro baca, yaitu ketika dia membaca nama putranya di dalam forum kontrak itu.


Tangan Ayah Hiro seketika bergetar. Dia tidak menyangka bahwa putranya sudah berhasil sejauh ini. "I--Ini.. benar kamu nak?"


Hiro tersenyum, "Iya Ayah,"


Mata lelah Ayahnya mulai kembali bersinar. Perlahan wajah Ayah Hiro yang semula terkejut, kini berubah menjadi senyuman bahagia. "Tapi.., bukankah Akihabara FC itu bukan klub besar?"


"Walaupun aku bermain di liga 2 Jepang, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik Ayah!" Ujar Hiro bertekad. "Aku belum bisa selesai berjuang jika mimpiku yang sebenarnya belum aku gapai! yaitu bermain di panggung sepakbola terbesar!"


"Apa yang kau maksud dengan panggung sepakbola terbesar nak? dari dulu Ayah tidak begitu paham maksud impianmu itu," Tanya Ayah Hiro.


"Panggung terbesar..," Hiro menghela napasnya. "Itu adalah saat di mana aku berhasil bermain untuk tim nasional Jepang dan bermain untuk klub sepakbola besar di Eropa sekaligus mendapatkan berbagai medali dan piala!"


"W--Wah, itu sangatlah bagus nak, berjuanglah!" Ayah Hiro sangat senang dan juga terkejut mendengar putranya memiliki begitu banyak tujuan dalam karirnya. "Tapi.., apakah semua ini belum cukup untukmu nak?"


"Belum!!" Tegas Hiro. "Tentu belum cukup!"


"Hiro..," Ayah Hiro kagum dengan semangat putranya.


Sambil mengepalkan tangannya, Hiro berkata, "Ada seseorang yang harus aku kalahkan Ayah! Seseorang itu telah meremehkanku saat di akademi! Sekarang aku ingin mengalahkannya!"


"Seseorang?"


"Iya.., orang itu adalah Daichi. Aku harus membuktikan kepadanya bahwa di atas langit masih ada langit!" Urat-urat di leher Hiro sampai keluar saat mengatakannya.


...


"Apa yang Ayah maksud?" Hiro terkejut mendengar Ayahnya mengatakan suatu hal tiba-tiba.


"Daichi.., dia adalah sainganmu waktu di Akademi Zekka bukan?"


"Iya," Jawab Hiro lirih.


"Maka dari itu, kau terus berjuang keras untuk melampauinya bukan?"


"Iya," Hiro mulai merasakan nostalgia dengan masa lalu yang indah di Akademi. "Sekarang aku memang sedang mencoba untuk mendapatkan kenangan itu kembali Ayah. Aku tidak bisa hidup tanpa pesaing," Ucap Hiro.


"Iya, Ayah paham nak," Ayah Hiro menepuk pundak Hiro. "Mulailah perjalananmu di sini, dan akhiri juga di sini,"


"Akan kuusahakan!" Tekad Hiro.


...


...


Pagi hari yang cerah itu sudah berada di akhir. Sekarang mentari senja mulai memancarkan warna yang berbeda.


Sudah lama Hiro dan Ayahnya tidak menghabiskan waktu selama ini di Rumah. Mereka berdua saling bertukar banyak cerita.


...


"Apakah Ayah tahu? Ryota sekarang sudah menjadi anak yang terkenal di kampus!"


"Benarkah? hahaha!"


...


"Sekarang Ayah sudah tidak bekerja terlalu keras lagi nak, maklum sudah tua, haha,"


"Iya Ayah, jaga kesehatan ya,"


...


"Setelah lulus dari Universitas Sapporo, Aku dan Ryota akan bermain di klub yang sama!"


"Bersama-sama?"


"Aku harap begitu,"


...


Dan masih banyak lagi percakapan hangat di keluarga kecil ini. Namun waktu sudah semakin larut sehingga Hiro harus kembali ke Asrama mahasiswanya.


Suara burung gagak menemani Hiro untuk berpamitan dengan Ayahnya petang itu. Di depan rumah, mereka berpamitan, saling berpelukan.


"Sampai jumpa Ayah, Minggu depan aku akan kembali lagi!" Hiro melambaikan tangannya.


"Iya nak, hati-hati," Ujar Ayahnya.


...


Saat paling sedih di dalam hidup adalah ketika seseorang yang sudah memberimu kenangan, kini orang itu tinggal kenangan.


...


Pesan Ayah Hiro kepada putranya sungguh meninggalkan jejak di lubuk hatinya.


Hingga saat malam tiba di Rumah Hiro. Ayah Hiro sendirian di rumah itu. Dia menyapu beranda rumahnya menggunakan sapu lidi di bawah remang cahaya lampu.


Sudah lama Ayah Hiro bekerja keras. Sudah sejak dulu Hiro mengkhawatirkan kesehatan Ayahnya. Dan sekarang, semua kekhawatiran itu kini sudah menjadi sebuah mimpi buruk.


"Ugghh..ukhuuk..uhuukk!" Di bawah lampu yang menyala redup, Ayah Hiro batuk batuk keras hingga sapu lidi di tangannya terjatuh.


"Ugghh..ukhuuk..uhuukk!" Batuk Ayah Hiro semakin parah hingga keluar darah yang di tahan telapak tangannya.


Ayah Hiro tidak terkejut melihatnya. Sejak beberapa bulan lalu, dia memang sudah merasakan sakit di bagian dadanya. Itulah mengapa Ayah Hiro mulai mengurangi jam kerjanya sebagai kurir sekaligus berhenti sebagai seorang kuli bangunan.


"Argh.., Batuk ini semakin parah belakangan ini," Desis Ayah Hiro. "Jangan sampai Hiro tahu mengenai hal ini. Bisa-bisa dia menjadi tidak fokus karena mengkhawatirkanku.