The Dreamer

The Dreamer
Terus melangkah



Hasil tidak akan mengkhianati perjuangan. Kalimat barusan mungkin terdengar omong kosong oleh kebanyakan orang yang tidak pernah mencoba kembali setelah pernah terjatuh dalam hidupnya. Tapi bagi Hiro, kalimat itu adalah sebuah pelita dalam hidupnya.


Perjuangannya hampir 9 tahun, kini sudah sepadan. Di mulai dari sebuah mimpi yang terdengar mustahil bagi anak kecil seperti Hiro. Hingga akhirnya sekarang Hiro telah membuat langkah pertamanya di dunia sepakbola profesional.


...


...


Masih dalam percakapan antara Hiro dan Darwin melalui telepon. Hiro akan segera mendapatkan jawaban dari Darwin.


...


...


"Halo..dengan Darwin Benjiro di sini.., ada yang bisa saya bantu?"


"Halo Darwin! ini-- Takehiro Miyoko. Yang kau temui semalam selepas Pertandingan final Turnamen UFF."


"Oh! Hiro, apa yang ingin kau katakan?"


"Begini Darwin..," Hiro terdiam beberapa saat. Tubuhnya seakan tidak bisa bergerak. Hingga akhirnya Hiro mengatakan, "Darwin.., aku memutuskan untuk menerima tawaranmu,"


Setelah berkata seperti itu melalui telepon, tidak ada jawaban dari Darwin. "Halo..? Darwin?" Hiro sampai mengira jika sambungan teleponnya terputus. "Halo Darwin?"


"..."


"Oh iya Hiro! maaf aku sedikit tidak fokus, hehe," Akhirnya Darwin kembali menjawab Hiro.


Sebenarnya Darwin sempat terdiam tidak percaya ketika Hiro ternyata menerima tawarannya. Itulah mengapa Hiro sampai mengira sambungan teleponnya terputus.


"Jadi? bagaimana?" Tanya Hiro.


"T--Tentu saja! S--selamat datang di Akihabara FC! Aku senang sekali kau menerima tawaranku..," Sambil gemetar tangan Darwin menjawab panggilan Hiro.


...


"Hah? sudah? seperti itu saja?" Tanya Hiro kembali.


"I-Iya,, besok akhir p--pekan kau bisa datang ke Kota Akihabara pukul 8 pagi?" Suara Darwin masih terdengar sedikit gagap.


"Wah itu jauh sekali dari Kota Sapporo. Untuk apa aku kesana?"


"Untuk menyelesaikan administrasi dengan klub tentunya, bagaimana? kau bisa?"


"Oh, baiklah Darwin, akan aku usahakan,"


"Bagus, aku akan menjemputmu setelah kau sampai di Kota akhir pekan nanti. Tolong hubungi aku lagi,"


...


tuut..tuut..


Kali ini Darwin benar-benar sudah memutus sambungan teleponnya.


Sejak awal percakapan antara Hiro dan Darwin ini, keduanya sama-sama gugup dalam berbicara. Hiro takut jika Darwin menolaknya, sementara Darwin tidak percaya jika Hiro mau menerima tawarannya.


"Huuh.., akhirnya selesai juga," Desis Hiro setelah meletakkan teleponnya kembali.


Hiro tidak percaya dia melakukannya. Baru saja dia menghubungi salah satu klub sepakbola profesional. Hiro baru merasakan kebahagiaan ini sesaat setelah dia menyadarinya.


Dia berteriak sambil berlari-lari kecil mengelilingi kamarnya, membayangkan bahwa dirinya adalah seorang pesepakbola terkenal di dunia layaknya Naymer, Lionel Messa, ataupun Cristiano Reynaldo.


Hiro pun memandang satu persatu wajah yang ada di poster itu. Hiro mulai berbicara sendiri seolah dia berbicara dengan si pemain asli.


Di hadapan poster Lionel Messa, Hiro berkata, "Hey Messa, aku mungkin tidak memiliki bakat menjadi pesepakbola sejak lahir sepertimu. Namun aku punya keyakinan bahwa kita memulai semuanya dari awal yang sama. Sama-sama diremehkan."


Lalu Hiro beralih ke arah poster Naymer. "Hei-hei-hei, temanku Naymer! haha. Bisa tolong ajari aku cara menyulap musuh-musuhmu di lapangan? Kau adalah seorang pesulap bukan? haha."


Naymer memang dijuluki sebagai The Magician atau Si pesulap karena keterampilan dan kemampuannya dalam menipu mata musuh dengan gerakan-gerakannya.


Dan yang terakhir, Hiro menatap poster Cristiano Reynaldo. "Cris.., mulai saat ini, aku akan meniru kerja kerasmu! aku juga sudah menjadi pemain bola sekarang! Mohon jangan pensiun sebelum aku bisa berhadapan denganmu di lapangan ya.., hahaha,"


Baru kali ini Hiro berbicara sendiri dengan poster-poster pemain bola. Rasanya sudah seperti orang gila.


Namun dari semua itu, Hiro masih punya satu hal yang ingin dia lakukan. Hiro ingin menjadi lebih baik daripada Daichi, 'musuh' bebuyutannya sejak di akademi.


Hiro juga sudah berencana untuk memberikan kejutan untuk Ryota. Oleh karena itu, dia tidak memberitahu Ryota jika dia akan segera menjadi pesepakbola.


...


...


Hari-hari berlalu, kini sudah tiba akhir pekan. Hari ini, hari Sabtu. Hiro bangun pagi sekali untuk mengejar kereta yang berangkat menuju Kota Akihabara. Perjalanan membutuhkan waktu, Hiro tidak ingin terlambat datang karena jam 8 harus sudah sampai di Kota.


Hiro sempat bingung ingin mengenakan pakaian apa, sebab dia tidak memiliki satupun pakaian resmi seperti setelan jas. Akhirnya Hiro hanya memakai jas almamater kampusnya dan langsung pergi ke stasiun kereta bawah tanah.


Walaupun sedikit malu, Hiro tetap percaya diri. "Baiklah, inilah saatnya," Gumam Hiro.


...


Setelah sampai di stasiun, Hiro pun langsung naik ke kereta yang sudah penuh sesak di pagi hari.


Banyak pegawai kantoran di sekitar Hiro. Di saat seperti ini, Hiro jadi memikirkan tentang Ayahnya. Hiro berpikir bahwa Ayahnya selalu ingin putranya ini menjadi seorang pegawai yang memiliki pekerjaan tetap dan nyaman. Namun saat ini, Hiro malah memilih untuk beradu nasib dalam ketatnya persaingan di dunia sepakbola profesional yang pasti masih lebih banyak pemain yang lebih hebat daripada Hiro.


Namun tanpa diketahui Hiro, Ayahnya memang selalu mendoakan yang terbaik karena ingin melihat putranya mendapatkan apa yang dia mau, bukan apa yang Ayahnya mau.


...


...


Sampai di tujuan, yaitu di Akihabara, Hiro langsung menuju salah satu telepon umum di pinggir jalan. Hiro ingin mengabari Darwin jika dia sudah sampai di sini.


...


"Darwin, aku sudah sampai,"


"Baiklah, akan ku jemput kau. Di mana posisimu?"


"Di dekat stasiun kereta bawah tanah,"


...


Hampir sepuluh menit Hiro menunggu di pinggir jalan. Hiro menjadi pusat perhatian karena memakai jas almamater Universitas Sapporo.


"Aduh lama sekali Darwin.., cepatlah datang..,"


...


Akhirnya Sebuah mobil sedan hitam menepi di trotoar dekat Hiro. Seseorang pria ber-jas keluar dari mobil itu. Rambutnya sangat


rapi dengan di sisir ke belakang dan mengenakan kacamata hitam.


Pria itu mendatangi Hiro dan berkata, "Tuan Hiro?"


"I--Iya," Jawab Hiro.


Pria itu terlihat tersenyum. "Senang bertemu dengan anda," Pria itu mengulurkan tangannya, mengajak Hiro berjabat tangan. "Nama saya Ozaka, saya diutus Tuan Darwin Benjiro untuk menjemputmu,"


"B--Baiklah,"


"Silahkan masuk ke mobil, tuan Darwin sudah menunggu di kantornya," Ucap Ozaka.


Di dalam mobil, Hiro sempat bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Darwin? kenapa dia memiliki bawahan? apakah Darwin Benjiro bukan hanya sekedar pencari bakat biasa?


Terlalu banyak yang ingin dia tanyakan kepada Darwin jika dia sudah bertemu dengannya sebentar lagi.


Hingga kemudian mobil yang ditumpangi Hiro berbelok menuju sebuah gedung tinggi yang terlihat megah. Hiro penasaran kenapa Ozaka membawanya kemari.


"Tuan Hiro, kita sudah sampai," Ucap Ozaka.


"Sudah sampai?" Hiro terkejut.


"Iya, ini adalah kantornya, silahkan anda bisa turun dari mobil,"


"K--Kau tidak ikut turun?" Tanya Hiro.


"Tidak, kau hanya perlu sendiri,"


"Baiklah,"


Hiro pun turun dari mobil. Setelah Hiro membuka pintu mobil, terdengar suara orang lain yang sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Banyak orang-orang yang terlihat penting di mata Hiro. Mereka semua mengenakan setelan jas hitam seperti Ozaka.


Hiro tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menunggu, atau mencari Darwin sendiri saat ini juga.


Ketika bingung hendak melakukan apa, dari tengah-tengah hiruk-pikuk orang-orang di dalam gedung, Hiro mendengar suara orang yang dicarinya, yaitu Darwin.


"Halo Hiro! selamat datang! aku sudah menunggumu!" Ucap Darwin.


Hiro sangat lega setelah Darwin datang. "Syukurlah kau datang.., Darwin aku hampir tersesat di sini!"


"Hahaha, maaf," Darwin tertawa.


Hiro melihat sekeliling, "Darwin..?"


"Bagaimana Hiro?"


"Sebenarnya di mana kita saat ini?"


"Oh, maaf, apakah Ozaka belum memberitahumu?"


"Belum,"


"Oh begitu," Ucap Darwin sembari membetulkan posisi dasinya. "Selamat datang di perusahaanku. 'Darwin Finance & Administration' di singkat DFA," Lanjut Darwin.


"Perusahaanmu?"


"Iya," Ucap Darwin. "Menjadi seorang pencari bakat dan agen pemain bola juga boleh memiliki pekerjaan lain bukan? hehe,"


Ternyata benar tebakan Hiro. Darwin bukanlah sekedar pencari bakat biasa.


"Baiklah, mari kita menuju ruanganku untuk membahas masalah kontrakmu dengan Akihabara FC," Ucap Darwin.


"Oke!"