The Dreamer

The Dreamer
Persiapan matang



Kepala Hiro mendongak ke atas setelah dia selesai mengikat sepatunya. Kicau burung yang telah lama hilang kini kembali terdengar di telinga Hiro. Aroma rumput segar tercium dari lapangan latihan milik FC Heerenveen pada pagi menjelang siang ini.


Dengan semangat Hiro memasuki lapangan itu dengan mengenakan jersey nomor 9 dengan nama Takehiro dibelakangnya. Hari ini adalah hari pertama Hiro mengikuti latihan klub sekaligus bertemu dengan para staf dan pemainnya.


...


"Good morning everyone, nice to meet you again," Sapa sang pelatih ketika semua pemain telah berkumpul dalam bentuk melingkar di tengah lapangan.


Hiro mencoba memahami kata demi kata yang dilontarkan oleh sang pelatih kepadanya serta yang lain. Hiro sudah banyak belajar bahasa Inggris dengan Saki dan juga dari internet.


Lama kelamaan, Bahasa Inggris sudah terdengar seperti Bahasa Jepang di telinga Hiro.


...


"Oke, saya yakin beberapa dari kalian pasti pemain baru yang di rekrut manajemen. Iya bukan?" Tanya sang pelatih kepala.


Beberapa pemain selain Hiro memang merupakan pemain baru untuk musim baru ini. Banyak dari mereka yang belum mengetahui hal apa yang ada di dalam tim.


"Baiklah, pertama-tama, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Eduardo, saya berasal dari Portugal. Saya adalah pelatih kalian di Heerenveen." Ucap pelatih memperkenalkan diri.


Hiro dan pemain baru lainnya pun bersalaman dengan Eduardo sebelum dia kembali ke tengah lingkaran untuk memberikan informasi mengenai bentuk latihan yang akan ia gunakan di sini.


...


...


Setelah mendengarkan dengan seksama, Hiro mengerutkan keningnya ketika di akhir ucapannya, Eduardo mengatakan bahwa, "Karena FC Heerenveen merupakan tim yang..., eh,, bisa dibilang lemah di Liga Belanda, maka dari itu strategi yang tepat untuk kita adalah serangan balik cepat menggunakan pemain sayap yang bisa dengan sempurna mengirimkan umpan lambung kepada Striker di dalam kotak penalti." Jelas Eduardo.


"Serangan balik?" Pikir Hiro.


...


Eduardo pun meneruskan jika porsi latihan untuk minggu pertama akan cukup ringan hingga minggu ke dua, dan pada minggu ke tiga dan keempat Eduardo akan memantapkan taktiknya untuk permainan sempurna FC Heerenveen.


...


"Baiklah, sekarang kalian akan mulai dengan berlari keliling lapangan lima kali sebagai pemanasan," Ucap Eduardo.


Dan setelah itu, para pemain pun bubar dan mulai berlari dengan barisan acak untuk mengelilingi lapangan sebanyak lima kali.


Ketika berlari keliling lapangan, Hiro mendengar beberapa pemain di sekitarnya menggerutu. Dari percakapan samar-samar mereka, Hiro dapat mendengar sesuatu yang menarik.


...


"Huhh.., Kayaknya musim ini bakal berat seperti musim-musim sebelumnya." Ucap seseorang pemain dengan perawakan tinggi dengan jenggot halus yang menutupi samping hingga bawah wajah. Mungkin pemain ini adalah salah satu pemain senior di sini. Para pemain disekitarnya terlihat dekat dengan pemain itu.


Hiro tidak memperdulikan percakapan pemain-pemain itu. Hiro masih menunduk sembari berlari kecil mengelilingi lapangan.


...


...


Waktu pun berjalan lambat.


...


Hingga sore hari, Hiro sama sekali tidak berbicara dengan rekan-rekannya. Hanya lelah dan keringat yang dia dapat di hari pertama latihan ini. Sesekali Hiro hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan ketika Eduardo mengapresiasi hasil latihannya hari ini.


...


Sebelum malam tiba, Hiro dan seluruh pemain FC Heerenveen diberikan waktu istirahat cukup lama dari Eduardo. Menurut Eduardo, para pemain masih butuh banyak latihan mengingat kondisi fisik mereka yang menurun selama jeda musim kompetisi berlangsung.


"Hari ini aku tidak akan membiarkan kalian mati di lapangan. Tapi mulai besok, kalian akan kuberikan latihan fisik layaknya tentara jika perlu." Tegas pelatih asal Portugal itu. "Malam ini kalian boleh pulang ke rumah, dan mempersiapkan segalanya untuk latihan-latihan kita kedepannya." Tutup Eduardo.


...


...


Hiro sedang mengganti pakaian di ruang ganti ketika dia bertemu dengan salah seorang pemain yang sempat dia perhatian sebelumnya. Ya, seorang pemain yang tadi sempat berkata jika musim ini akan menjadi musim yang berat seperti musim-musim sebelumnya. Hiro belum mengetahui namanya, sama seperti pemain-pemain yang lain.


Di dalam ruang ganti itu, hanya ada empat orang. Hiro, Eduardo dan asistennya, dan pemain itu. Namun beberapa saat kemudian Eduardo dan asistennya pergi meninggalkan ruang ganti dan menyisakan dua orang.


...


Suasana ruangan yang hening membuat Hiro merasa jika harus ada seseorang yang memulai pembicaraan. Namun Hiro tidak yakin dia yang harus berbicara dengan seorang pemain ini. "Dia terlihat seperti orang yang sulit diajak berbicara," Pikir Hiro.


Tapi jika Hiro berani bicara dan memulai pertemanan dengan pemain senior ini, rasanya dia akan banyak membantu dirinya.


Akhirnya setelah memikirkan semua hal yang jauh di dalam pikirannya, Hiro menyapa pemain itu. "Hey,"


Pemain itu tetap bergeming tidak menoleh. Dia masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


Hiro pun mencoba lagi. "Eee, permisi.., namaku Miyoko, Takehiro,"


Masih tidak ada reaksi. Hiro mulai menyesal karena dia yang memulai pembicaraan dengan pemain itu. Namun Hiro tidak ingin menjadi malu karena diabaikan.


"Aku baru saja datang di tim ini. Jadi.., aku mohon kerjasamanya satu musim ini," Ujar Hiro pasrah menanti jawaban. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pemain itu ingin menanggapinya atau tidak.


...


Saat ini Hiro pun juga sudah selesai beres-beres barang dan ingin segera pulang saja. Namun ketika Hiro ingin keluar dari ruangan, sebuah suara datang dari dalam ruang. Suara yang sama dari pemain yang dia dengar pagi tadi.


"Kau datang dari mana?" Tanya pemain itu


Hiro pun berhenti dan menoleh ketika mendengar pertanyaan itu. "Jepang," Jawab Hiro.


Pemain itu mengangguk pelan, "Oh begitu ya. Kalau begitu selamat datang di Belanda, semoga kau betah di sini."


Hiro bersandar di pintu yang terbuka, karena tidak jadi keluar ruangan. "Iya, semoga saja,"


...


"Oh, ya, karena kau sudah memperkenalkan diri, aku juga akan melakukannya. Jadi namaku adalah Matthew, dari Australia."


"Ah, jadi kau juga dari luar Eropa ya? Sejak kapan kau di sini?" Tanya Hiro. Dia mulai tertarik dengan pembicaraan dengan Matthew karena sesama pemain yang datang dari jauh.


"Ya, Aku sudah di Belanda selama lima tahun. Kini usiaku sudah menginjak 32 tahun. Jadi aku memang pemain senior di sini, tapi jangan memandangku dengan cara lain. Aku tidak memerdulikan mana yang junior dan yang senior. Semuanya harus profesional, betul kan? " Ujar Matthew sambil sedikit tersenyum.


...


Akhirnya Hiro dan Matthew bercakap-cakap selama beberapa saat sebelum mereka meninggalkan tempat latihan malam itu. Mereka saling bercerita tentang pengalaman pribadi dan perjuangan untuk dapat menjadi pesepakbola profesional.


"Wah, ternyata kau anak yang tangguh ya Hiro," Ucap Matthew setelah mendengar cerita dari pengalaman hidup Hiro.


"Kau juga Matt, tetap berada di level terbaikmu walaupun usia sudah semakin bertambah, hehe,"


"Ya begitulah. Kita harus tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik walaupun tujuanku sudah tidak sama lagi denganmu yang masih muda," Ucap Matthew sambil menenteng tasnya.


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok lagi di latihan."


...


Hiro tidak menyangka dia akan mendapatkan teman pada hari pertamanya. Hiro pun bisa pulang ke rumahnya dengan perasaan lega setelah lelah yang dialaminya sepanjang hari.


Mulai besok, Hiro, Matthew, dan pemain lainnya akan memulai latihan intensif sebelum liga kembali di mulai kurang dari satu bulan lagi.